Ditulis oleh desahan di/pada Juni 29, 2008
PERAN MEDIA DAN PEMERINTAH ATAS RENTETAN KEKERASAN
oleh FREDY
Kekerasan kembali terekspose, bukan kata yang tepat ‘kekerasan kembali terjadi’.Sistem di salah satu pendidikan perguruan tinggi telah di black list oleh masyarakat. Hal tersebut terjadi setelah merebaknya berita mengenai kematian salah satu siswa STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran).
Belum pulih ingatan masyarakat mengenai kekerasan yang dilakukan oleh Geng Nero di kota Pati. Kejadian pemukulan senior kepada junior itu pun bersambut alur cerita dengan kasus kekerasan antar Geng di kota yang sama (Pati). Ironisnya, realita tersebut dilakukan oleh kaum hawa yang terkenal dengan paradigma kelembutan.
Bila menghitung dari bulan Januari hingga Juni, telah banyak kasus kekerasan yang diekspose oleh media. Seperti kekerasan yang dilakukan oleh para mahasiswa UNAS dengan dalih isu kenaikan BBM. Sebagian masyarakat mengatakan hal yang dilakukan oleh mahasiswa UNAS tersebut tidak pantas, melihat mahasiswa merupakan individu yang berpendidikan, namun sebagian lagi berpendapat bahwa tindakan tersebut wajar bahkan terpuji, melihat mahasiswa UNAS melakukannya untuk membela kepentingan masyarakat kecil.
Kasus kekerasan UNAS berakhir dengan pembebasan mahasiswa-mahasiswa yang ditangkap karena diduga menjadi pemicu kerusuhan. Tetapi tindakan polisi yang over acting menangkap mahasiswa-mahasiswa yang berada di kampus UNAS saat kejadiaan sangat tidak terpuji, melihat secara fungsional polisi merupakan peredam kekerasan. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Tak Berkategori | Bertanda: kekerasan | Leave a Comment »
Ditulis oleh desahan di/pada Juni 29, 2008
Semaoen, Aktivis Buruh dan Pemikir
LAHIR di kota kecil Curahmalang, Mojokerto, pada tahun 1899, Semaoen adalah anak Prawiroatmodjo, pegawai rendahan, tepatnya tukang batu, di jawatan kereta api. Meskipun bukan anak orang kaya maupun priayi, Semaoen berhasil masuk ke sekolah Tweede Klas (sekolah bumiputra kelas dua) dan memperoleh pendidikan tambahan bahasa Belanda dengan mengikuti semacam kursus sore hari. Setelah menyelesaikan sekolah dasar, ia tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Karena itu, ia kemudian bekerja di Staatsspoor (SS) Surabaya sebagai juru tulis (klerk) kecil. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Tak Berkategori | Bertanda: sosialisme ! | Leave a Comment »
Ditulis oleh desahan di/pada Juni 29, 2008
Asal Usul Nama Indonesia
Irfan Anshory
Pada zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.
Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. “Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi (Sumatra, Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa)” kata seorang pedagang di Pasar Seng, Mekah.
Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia. Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah “Hindia”. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”. Sedangkan tanah air kita memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau “Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais).
Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur). Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin insula berarti pulau). Tetapi rupanya nama Insulinde ini kurang populer. Bagi orang Bandung, Insulinde mungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Tak Berkategori | Bertanda: falsafah | 1 Komentar »
Ditulis oleh desahan di/pada Juni 29, 2008
Aliran Komunis: Sejarah Dan Penjara
oleh: Jacques Leclerc
Pada tanggal 23 Mei l920, Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) yang didirikan di Semarang sepuluh tahun sebelumnya, berganti nama menjadi Perserikatan Komunis di India (PKI). PKI merupakan organisasi pertama di Asia di luar kekaisaran Rusia, menggunakan kualifikasi “Komunis.” Partai Komunis Cina sendiri baru didirikan setahun kemudian, yakni pada bulan Juli l92l. Orang yang ditugaskan oleh Internationali Comuniste untuk membantu Partai baru tersebut adalah Henk Sneevliet, seorang organisator ISDV Belanda, yang pada tahun l9l8 diburu-buru oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda karena kegiatan-kegiatan revolusionernya.
Kata “perserikatan” dalam bahasa Melayu merupakan terjemahan dari kata Belanda “Partij.” Sedang nama PKI itu sendiri, menurut dokumen awal dari organisasi tersebut, merupakan kependekan dari bahasa Melayu “Perserikatan Komunis di India,” yang bila di Belandakan menjadi “Partij der Kommunisten in Indie.” Pada tahun l927, kata “perserikatan” digunakan oleh PNI, sebelum menetapkan namanya menjadi Partai Nasional Indonesia.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Tak Berkategori | Bertanda: sosialisme ! | Leave a Comment »
Ditulis oleh desahan di/pada Juni 29, 2008
Pertumbuhan orang kaya di Indonesia terpesat di kawasan Asia Tenggara?
Ken Budha Kusumandaru
Perusahaan manajemen investasi terbesar di dunia, Merrill Lynch, bersama perusahaan teknologi penelitian, Capgemini, secara tahunan mengeluarkan sebuah laporan yang diberi tajuk World Wealth Report (Laporan Kekayaan Dunia). Laporan ini memuat perkembangan dari apa yang mereka sebut sebagai HNWIs (High Net Worth Individuals–Individu dengan Nilai Kekayaan Bersih Tinggi). Untuk ada di daftar HNWIs, anda harus memiliki kekayaan sedikitnya USD 1 Milyar.
Ada hal yang mengejutkan dalam laporan terbarunya, yang dilansir pada tanggal 24 Juni 2008 ini, sebagaimana dapat diunduh dari situs mereka dengan alamat http://www.ml. com/media/ 100502.pdf. Dalam laporan ini, disebutkan bahwa pertumbuhan jumlah orang yang memiliki kekayaan di atas USD 1 Milyar di Indonesia merupakan yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara–bahkan mengalahkan pertumbuhan serupa di Singapura. Sekalipun dengan demikian jumlah HNWIs di Indonesia (23.000 orang) masih lebih rendah daripada Singapura (77.000 orang), percepatan pertumbuhan ini membuat senang para eksekutif keuangan dunia. Indonesia pun masuk kembali ke dalam kategori “emerging market” (pasar yang sedang berkembang) untuk produk-produk jasa keuangan dari kapitalis keuangan internasional.
Ini tentu hal yang mengejutkan dan membuat kita miris. Di saat krisis ekonomi belum berhasil di atasi, di saat PHK massal merajalela, di saat pemukiman kaum miskin perkotaan dibabat habis, di saat nelayan harus pergi menangkap ikan dengan memakai minyak tanah sebagai pengganti solar, di saat petani makin kehilangan tingkat kesuburan tanah akibat tergerus oleh bahan kimia … di saat seperti ini jumlah orang kaya di Indonesia justru semakin bertambah. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Tak Berkategori | Bertanda: sosialisme ! | Leave a Comment »
Ditulis oleh desahan di/pada Juni 29, 2008
Sejarah Filsafat
Robert C. Solomon & Kathleen M. Higgins
1. Mencari Tatanan Dunia: Filsafat Kuno “Periode Axial” dan Asal Usul Filsafat
Suatu ketika di antara abad keenam dan keempat sebelum Masehi, perkembangan luar biasa terjadi di sejumlah besar tempat secara terpisah di seantero bumi. Di berbagai wilayah di selatan, di utara dan timur Mediterania, di Cina, India dan beberapa wilayah di antaranya, para pemikir kreatif mulai menantang dan melampaui kepercayaan-kepercayaan religius, mitologi, dan folklor masyarakatnya yang sudah mapan. Pemikiran mereka makin abstrak. Pertanyaan-pertanyaan mereka makin menyelidik. Jawaban-jawaban mereka makin ambisius, makin spekulatif, dan makin memicu kemarahan. Mereka menarik para murid dan pengikut. Mereka membentuk sekolah, pemujaan, dan agamaagama besar. Mereka adalah “para filsuf” pencari kebijaksanaan, yang tidak puas dengan jawaban-jawaban gampangan dan prasangka-prasangka populer. Mendadak mereka muncul di manamana. Walaupun kita tak tahu banyak tentang dunia intelektual yang mendahului mereka, bahkan sangat sedikit tentang mereka, kita nyaris bisa memastikan bahwa karena mereka dunia tak pernah lagi sama persis dengan dunia sebelumnya. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
Ditulis oleh desahan di/pada Juni 28, 2008
Konsep Kekerasan Dalam Penerimaan Mahasiswa Baru.
Kekerasan dalam bahasa inggris adalah Violence, yang berasal dari bahasa latin, yakni “vis” yang artinya kekuatan, dan “ferre” yang artinya membawa. Jadi, secara etimologis Violence berarti suatu tindakan yang membawa kekuatan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) karangan Poerwadarminta, kekerasan diartikan sebagai sifat yang keras atau pemaksaan.
Bila melihat prosesnya, kekerasan terbagi atas dua, yakni kekerasan secara fisik dan kekerasan non-fisik. Kekerasan secara fisik, berdampak buruk terhadap korban. Namun, penekanan yang ada hanya pada fisik berbeda halnya kekerasan secara non-fisik, yang menekankan dampak pada mental. Efek dari kekerasan fisik hanya berupa kerugian ataupun pengurangan fisik. Hal ini terjadi karena, korban secara aktual telah melakukan defensif dari serangan tindak kekerasan dengan tidak menginginkan kematian. Apabila korban mengalami kematian, berarti kerugian murni pada fisik. Jika efek yang terjadi dari kekerasan non-fisik, dalam hal ini adalah kerugian, penekanan terjadi pada mental yang berdampak penyimpangan psikis. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: kekerasan | Leave a Comment »