historis filsafat
Ditulis oleh desahan di/pada Juni 29, 2008
Sejarah Filsafat
Robert C. Solomon & Kathleen M. Higgins
1. Mencari Tatanan Dunia: Filsafat Kuno “Periode Axial” dan Asal Usul Filsafat
Suatu ketika di antara abad keenam dan keempat sebelum Masehi, perkembangan luar biasa terjadi di sejumlah besar tempat secara terpisah di seantero bumi. Di berbagai wilayah di selatan, di utara dan timur Mediterania, di Cina, India dan beberapa wilayah di antaranya, para pemikir kreatif mulai menantang dan melampaui kepercayaan-kepercayaan religius, mitologi, dan folklor masyarakatnya yang sudah mapan. Pemikiran mereka makin abstrak. Pertanyaan-pertanyaan mereka makin menyelidik. Jawaban-jawaban mereka makin ambisius, makin spekulatif, dan makin memicu kemarahan. Mereka menarik para murid dan pengikut. Mereka membentuk sekolah, pemujaan, dan agamaagama besar. Mereka adalah “para filsuf” pencari kebijaksanaan, yang tidak puas dengan jawaban-jawaban gampangan dan prasangka-prasangka populer. Mendadak mereka muncul di manamana. Walaupun kita tak tahu banyak tentang dunia intelektual yang mendahului mereka, bahkan sangat sedikit tentang mereka, kita nyaris bisa memastikan bahwa karena mereka dunia tak pernah lagi sama persis dengan dunia sebelumnya.
Sebagian terlihat di pantai-pantai timur Mediterania, di Yunani dan Asia Kecil (Turki masa kini). Kelompok-keompok kecil para filsuf yang serba ingin tahu dan kadang-kadang bertabiat buruk ini mempertanyakan penjelasan-penjelasan populer tentang alam yang didasarkan pada tingkah dewa-dewi.
Mereka adalah orang pintar, orang bijak, yang percaya akan kecerdasannya sendiri, bersikap kritis terhadap opini populer, dan persuasif terhadap para pengikutnya. Mereka mengkaji kembali persoalan-persoalan kuno mengenai asal usul alam dan segala sesuatu. Mereka tak puas lagi dengan mitos-mitos dan cerita-cerita yang lazim (yang dahulu menarik): tentang persetubuhan tanah dengan langit, tentang Venus yang muncul dari lautan dan Zeus yang melontarkan halilintarnya. Mereka mulai menolak konsepsi populer mengenai dewa-dewi demi bentukbentuk pemahaman yang kurang manusiawi (kurang “antropomorfis”). Mereka mulai menantang pengertian-pengertian akal sehat tentang “sifat benda-benda” dan membedakan antara realitas “sejati” dengan penampakan benda-benda.
Sementara itu, persoalan “Bagaimana seharusnya kita hidup” beralih dari perhatian dan kepatuhan terhadap hukum dan kebiasaan yang terdapat dalam masyarakat tertentu menuju persoalan yang sangat umum, “Bagaimana cara hidup yang tepat sebagai seorang manusia?” Jawaban singkat terhadap persoalan itu ditemukan dalam pengertian kebijaksanaan (wisdom); dan orang-orang yang mencarinya, yang mencintainya, disebut filsuf (dari Philein = cinta, sofia = kebijaksanaan). Mereka memperkaya kehidupan intelektual di Asia Kecil, Yunani, dan Italia selama abad keenam dan kelima sebelum Masehi. Barangkali yang terbesar di antara mereka adalah Sokrates (470-399 SM), orang yang dieksekusi karena ajaran dan sikap politiknya. Ia bersikeras pada anggapan bahwa orang yang baik dan sejati takkan melakukan kejahatan. Ia meninggal, sebagian, seakan-akan untuk memperagakan secara ekstrem dan dramatik kepercayaan itu. Bersama kematiannya, filsafat menjadi obsesi generasi demi generasi mula-mula di Yunani, kemudian di Romawi, kemudian bagi para pemikir Eropa.
Kurang lebih pada periode yang sama, seorang bangsawan muda yang tidak bahagia bernama Siddhartha Gautama (563-483 SM) berkelana ke seluruh India untuk mencari cara menghadapi kefanaan (mortality) dan penderitaan (suffering) yang dilihatnya ada di manamana, akhirnya ia menemukan jawabannya. Ia mengajarkan kedamaian dan ketenangan dalam waktu yang selalu berubah secara radikal dan berlangsung dalam kekerasan. Setelah mengalami suatu pengalaman mistik, “seolah-olah terbangun dari sebuah mimpi”, ia dikenal menjadi “Sang Buddha”, “yang telah bangun” atau “yang tercerahkan”, ide-idenya menentang pemikiran “Hindu” dan mengubah India, seluruh Asia Timur, dan akhirnya, menyebar ke seluruh dunia.
Dengan menolak segala kebaikan dan kesenangan duniawi, ia adalah bagian dari tradisi panjang para petapa. Dari tema-tema kuno yang terdapat dalam kitab-kitab suci Hindu, Veda dan Upanishad (Vedanta), Sang Buddha mengembangkan pandangan bahwa gambaran kita sehari-hari akan alam semesta dan diri kita adalah sejenis ilusi. Selama berabad-abad, para filsuf India mempertahankan suatu konsepsi tentang adanya realitas absolut, atau Brahman, yang dipegang teguh oleh pengalaman manusia sehari-hari yang bebas dan tidak dikenal sama sekali. Tentunya Sang Buddha akrab dengan sudut pandang itu begitu juga orang sezamannya, Mahavira, yang biasanya dianggap sebagai pendiri Jainisme. Keduanya benar-benar menolak konsepsi itu. Seperti para penganut Jainisme, Buddha berargumen bahwa penderitaan manusia dapat diatasi hanya dengan memahami ilusi realitas duniawi dan diri individual serta dengan membentuk suatu kepribadian yang bebas dari berbagai keinginan dan nafsu yang menipu, yang menyebabkan penderitaan. Atas namanya, para pengikut Buddha mengembangkan berbagai teori yang kaya tentang pengetahuan, alam, tentang diri dan nafsu-nafsunya, tentang tubuh manusia dan penyakit-penyakitnya, tentang pikiran dan kemalangannya, tentang bahasa dan cara-cara kita mengonsepsi kenyataan. Begitu juga yang terjadi pada para pengikut Jainisme dan banyak generasi serta aliran yang berbeda dari para filsuf yang beraneka ragam konsepnya tentang Brahman.
Sementara itu, seorang yang bernama Konfusius (Kong Fuzi) (551-479 SM), seorang negarawan yang kemudian dikenal menjadi salah satu dari pendidik terbesar sepanjang zaman, menarik untuk diikuti karena nasihat yang baik dan pengertiannya yang dalam atas cara kerja masyarakat dan kehidupan bersama. Pada masanya, Cina mempunyai kultur politik yang sangat maju. Akan tetapi, pada masa itu juga terjadi kekacauan, dan tujuan utama ajaran-ajaran Konfusius ialah untuk mendefinisikan dan membantu mengolah Jalan (Tao) untuk mencapai suatu masyarakat yang harmonis. Selama periode ini, dunia Cina terdiri atas empat belas “negara” yang berada di bawah pemerintah yang sekadar bernama pemerintah (pemerintah nominal) Negara Zhou dan jelaslah bagi setiap orang bahwa satu-satunya alternatif bagi sebuah kerajaan yang bersatu adalah dengan jalan penghancuran dan malapetaka. Konfusius memberikan basis filosofis untuk kesatuan itu.
Sejarah Filsafat
`Fondasi kebudayaan Cina adalah keluarga. Akan tetapi, keluarga dan apa yang kita sebut “nilai-nilai keluarga tradisional” sedang mengalami kesulitan serius (pada tahun 500 SM) karena dirusak oleh kekuatan politik. Oleh karena itu, filsafat Konfusius hampir seluruhnya berurusan dengan isu-isu sosial dan politik, isu-isu tentang aturan dan pemerintah yang baik, nilainilai keluarga dan komunitas. Ia berbicara tentang hubungan-hubungan yang harmonis, tentang kepemimpinan dan kenegarawanan, tentang hidup yang harmonis dan mengilhami orang lain, tentang mawas diri (self-examination) dan pengubahan diri (self-transformation), tentang pembentukan kebajikan pribadi dan penghindaran kejahatan.
Penting juga menyebutkan apa yang tidak dibicarakan oleh Konfusius, bila dibandingkan dengan rekan filosofisnya di Barat. Ia tidak membicarakan alam atau hakikat benda-benda, kecuali melalui analogi pada hubungan-hubungan manusia. Ia tidak memberi perhatian khusus pada hakikat tertinggi realitas nonmanusia; dan tidak seperti Sang Buddha, tampaknya ia tidak mempertimbangkan kemungkinan bahwa apa yang kita pikir dan kita ketahui sebagai “realitas” jangan-jangan hanyalah penampakan atau ilusi belaka. Ia tidak berbicara tentang dewa-dewi, atau segala yang berkaitan dengannya, melainkan hanya tentang kebajikan pribadi, hubungan-hubungan manusia, dan masyarakat yang baik. Konfusius tidak berniat mendirikan suatu agama dan tak berambisi menjejali rekan senegerinya dengan kecemerlangan filosofis yang abstrak. Ia mengatakan dengan rendah hati namun kenabian, “Ada orang yang mencari hal-hal yang sulit dimengerti dan mengerjakan hal-hal yang menakjubkan. Generasi-generasi masa depan mungkin akan menyebut-nyebut mereka. Tetapi, itulah yang tidak akan aku lakukan”. Akan tetapi, setelah kematiannya ia dikagumi bahkan didewakan oleh segenap masyarakat, dan Konfusianisme—atau sejumlah variasinya—kini merupakan salah satu dari tiga filsafat dunia.
Cina masih mempunyai legenda yang terjadi pada abad keenam sebelum Masehi, tentang orang bijak kedua (atau barangkali sejumlah orang bijak) yang disebut dengan Laotzu yang mengembangkan suatu misi Jalan menuju kedamaian dan pencerahan yang sangat berbeda.
1. Tidak seperti Konfusius rekan sezamannya, Laotzu memberikan perhatian besar dan menekankan pentingnya alam, oleh karenanya, kurang memperhatikan masyarakat manusia. Misalnya, Konfusius menganggap nafsu-nafsu tertentu “tidak alamiah”, yang berarti (pada dasarnya) bahwa nafsu tersebut tidak boleh berperan di dalam kehidupan yang pantas bagi seorang manusia sempurna (gentleman). Laotzu lebih yakin terhadap alam dan lebih mempercayai nafsu-nafsu manusia yang tak terdidik dan tak terlatih.
2. Bagi Konfusius, jalan mnuju kehidupan yang baik ialah berpartisipasi di dalam tradisi-tradisi kehormatan dan menghormati apa yang telah dibangun oleh nenek moyang. Bagi Laotzu, sang Jalan lebih misterius. Tak dapat diuraikan. Tak dapat diterangkan dalam suatu resep, buku petunjuk ataupun suatu filsafat. (Dari Kitab Tao Te Ching: “Tao yang dapat diikuti bukanlah tao yang sejati; nama yang dapat dinamai bukanlah nama yang sejati.”) Akan tetapi, bukan berarti bahwa orang tak boleh berusaha menemukannya dan berupaya hidup sesuai dengannya.
Mereka berdua, Konfusius dan Laotzu yang mendefinisikan filsafat Cina, keduanya menekankan harmoni sebagai keadaan ideal yang baik bagi masyarakat maupun perseorangan; dan masing-masing berpegang pada pandangan yang luas atas kehidupan seseorang. Karakter pribadi adalah tujuan hidup, tetapi priba di tersebut tidak didefinisikan dalam istilah-istilah yang terisolasi dan individual. Bagi penganut Konfusius, yang personal adalah sosial. Bagi para penganut Taoisme, yang personal adalah yang sesuai dengan alam. Apa pun pertentangan-pertentangan mereka di seputar pentingnya alam dan masyarakat, para pemikir Cina sama-sama memakai kerangka umum ini.
Perdebatan di seputar alam-masyarakat (yang dipicu oleh Konfusius dan para Taois) menjadi medan pertarungan abadi filosofis baik di Timur maupun di Barat. Para pemikir Cina mengkaji kesalinghubungan antara tatanan alamiah dan manusiawi; para pemikir Ibrani kuno mempersoalkan apa itu yang “alamiah”; dan para pemikir Yunani membuka suatu perdebatan yang berlangsung sampai sekarang: Apa itu yang alamiah dan apa yang tidak termasuk dalam “hakikat manusia”? Gereja Abad Pertengahan dan Islam semuanya terlibat dalam perdebatan itu; ribuan suku dan masyarakat tradisional mulai dari Pasifik Selatan dan sebagian besar Afrika hingga ke selatan dan Amerika Utara terlibat dalam perdebatan dan diskusi serupa. Jepang, yang secara filosofis merupakan masyarakat yang paling ekletik, menggabungkan Taoisme, Laotzu, Konfusianisme dan Buddhisme; dan dengan hati-hati Jepang membentuk konsep-konsep filosofis tersendiri tentang alam, masyarakat dan roh, serta mengembangkan suatu filsafat pribumi mengenai kehidupan yang unik dalam cara mereka sendiri.
Dialog antara Konfusianisme dan Taoisme, atau lebih globalnya, antara penekanan pada masyarakat dan tradisi di satu sisi, dan penekanan pada alam, di sisi lain, menghasilkan konsepsi-konsepsi sosial dan ide-ide kultural tertentu. Dialog itu membentuk pengertian-pengertian kultural tentang tempat kita di alam, membentuk pembedaan yang ketat antara alam dan kebudayaan, dan akibatnya, membentuk pengertian tentang apa yang dianggap “alamiah” dan apa yang tidak. Orang-orang Ibrani awal menegaskan bahwa “tidak alamiah” memasak seekor bayi kambing dalam susu ibunya, barangkali keyakinan ini untuk membatasi diet konsumsi daging mereka lewat sedikit tunas-tunas kepekaan akan kemuliaan binatang yang mereka makan. Orang-orang Ibrani kuno dan jemaat Kristen awal menetapkan suatu agenda untuk Pengadilan Tertinggi AS abad kedua puluh ketika mereka memperdebatkan tindakan-tindakan seks mana yang alamiah dan mana yang tidak. Aristoteles menganggap bahwa meminjamkan uang untuk mendapatkan bunga (riba) “tidak alamiah”, sementara kebanyakan pelaku bisnis masa kini akan mengatakan bahwa tindakan yang mendatangkan uang adalah hal yang paling alamiah di dunia ini. Orang akan berpikir bahwa yang alamiah adalah yang diberikan alam secara sederhana kepada kita. Dalam kenyataannya, “alam” terbukti menjadi salah satu dari setumpuk konsep filsafat yang paling diperdebatkan dan paling kontroversial
Sejarah Filsafat
Kembali ke Timur Tengah, di Persia yang sekarang ini disebut Iran seorang yang bernama Zarathustra dari Balkh, atau Zoroaster (kira-kira 628-551 SM), mulai bergerak ke arah monoteisme moral yang komprehensif. Kita dapat berspekulasi sampai sejauh mana Zarathustra dipengaruhi para pemikir Ibrani kuno dan monoteis Mesir awal Akhenaton, barangkali juga kitab-kitab Veda, dan orang dapat menolak bahwa ia benar-benar seorang monoteis yang ketat, karena ia percaya kepada sejumlah dewa.
Namun demikian, ia bersikeras pada pemujaan yang eksklusif terhadap yang terkuat di antara para dewa, Ahura Mazda. (Patutlah diperhatikan bahwa Perjanjian Lama tidak menolak adanya tuhan-tuhan lain. Alkitab Ibrani justru memperlihatkan dengan sangat jelas tentang superioritas Jehovah, yang mendesak, “Engkau tak boleh mempunyai ilah-ilah lain di hadapanku”.)
Zarathustra juga membela arti etika yang sangat berpengaruh sebagai konflik antara kekuatan-kekuatan metafisik di dunia. Ahura Mazda berada di pihak Yang Baik, sebagai lawan dari kegelapan mutlak yaitu Yang Jahat; dan menurut Zarathustra, kebaikan maupun keburukan sama-sama ada di dalam diri kita semua. Ia bergumul dengan masalah yang baru seratus tahun kemudian itu dipikirkan oleh St. Agustinus di Afrika Utara apa yang kemudian disebut “masalah keburukan”.
Bagaimana Tuhan yang Mahakuasa tega membiarkan berlangsungnya begitu banyak penderitaan dan kejahatan di dunia? Jawaban Zarathustra ialah baik kebaikan maupun keburukan diciptakan oleh Tuhan. Belakangan, di tangan para Manikean (mereka yang dipengaruhi Zarathustra tetapi dianggap bidah oleh para pengikut Zoroaster), dualisme moral ini akan menjadi peperangan kosmis antara kebaikan dan keburukan. Para Zoroastrian di belakang hari mengubah agama mereka menjadi suatu kekuatan politik yang efektif, dan Persia akan menjadi kerajaan yang sangat kuat di dunia.
Para pemikir Ibrani kuno merupakan kekuatan filosofis di dunia ini, tetapi tak ada filsuf tunggal Ibrani (sebelum Yesus) yang menonjol dan setara dengan Konfusius, sang Buddha, Sokrates, atau Zarathustra. Kendati demikian, kita mempunyai sekumpulan kitab, salah satu dari kitab-kitab yang paling berpengaruh dalam sejarah, yang berkisah tentang mereka dan juga buatan mereka.
Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama (khususnya Kitab Kejadian), pertama-tama pastilah sebagai sebuah karya keagamaan, namun juga merupakan kitab-kitab penting di bidang filsafat. Ia sekaligus sejarah, mitologi, dan mungkin orang mengatakan, ilmu. Orang Ibrani kuno bukanlah penemu ide Allah Maha Esa, bukan pula masyarakat kuno pertama yang mempunyai badan hukum yang ekstensif atau yang percaya bahwa mereka adalah bangsa “terpilih”. Akhenaton, bangsa Mesir, dan belakangan Zarathustra, juga memuja Tuhan yang Esa; bangsa-bangsa Babilonia di bawah pemerintahan Hammurabi mempunyai kitab undang-undang yang ekstensif yang kemudian dipinjam secara bebas oleh bangsa Ibrani; dan anggota-anggota hampir semua suku dan masyarakat tampaknya menganggap diri mereka istimewa seperti yang masih kita lakukan sekarang.
Sukses mencolok bangsa Ibrani kuno terletak pada keahlian mereka menciptakan dan mengisahkan cerita mereka sendiri, sebuah cerita mengenai bangsa yang bersemangat dalam perjanjian dengan Allah, yang mengalami segala jenis tragedi dan malapetaka, yang dianggap akibat perbuatan mereka sendiri, kendatipun demikian tetap bertahan dan terus bertumbuh subur. Suatu sejarah panjang yang dibuat sendiri adalah keuntungan besar yang bermanfaat bagi suatu masyarakat yang menghargai para penulis dan pemikirnya dan yang hidup untuk mengisahkan cerita itu.
Dengan demikian, bila dipahami secara luas, filsafat muncul di dunia bukan hanya sekali, melainkan berkalikali di berbagai tempat. Namun kita harus menghindari godaan untuk menganggap kantung-kantung ini saja yang melakukan inovasi sehingga mengesampingkan kantung-kantung lainnya, seolah-olah, seperti dalam gambaran yang lazim dan sangat puas diri, dunia ini benarbenar gelap dan tidak beradab sampai munculnya percikan cahaya terang “keajaiban” Yunani dan dua atau tiga keajaiban berikutnya di tempat lain.
Kita harus hati-hati menyikapi pemujaan masyarakat mana pun terhadap kebudayaan mereka sebagai suatu pelindung peradaban yang dikelilingi oleh “kaum barbar”. Orang Yunani membicarakan orang Persia dengan cara demikian, begitu pun orang Persia terhadap orang Yunani. Orang Ibrani menyatakan semua bangsa di luar mereka sebagai orang “kafir” dan mereka ditolak oleh orang-orang Kristen yang tidak lagi menerima identitas Yahudi para pendahulu mereka. Filsuf Cina Yu Yung Shih mengatakan hal serupa pada suku-suku yang berada di luar wilayah Cina, termasuk suku bangsa “barbar” yang sekarang disebut bangsa Jepang, salah satu bangsa yang sangat canggih di dunia ini.
Begitu juga orang Mesir memandang rendah orang Nubian yang berdiam di Selatan, dan bangsa Romawi melontarkan hinaan mereka pada bangsa-bangsa yang ada di Utara. Di zaman modern, orang Inggris meremehkan orang Prancis, dan orang Prancis meremehkan orang Jerman, orang Jerman meremehkan orang kutub, orang kutub meremehkan orang Rusia dan orang Rusia meremehkan orang Siberia dan orang Cina. Suatu kebudayaan “barbar” kerap tak lain dari peradaban yang tumbuh subur dan menjadi sumber ide yang bermanfaat.
Hanya kebodohan dan prasangka kita sendiri yang menghalangi kita untuk mempertimbangkan kemungkinan bahwa banyak sekali aliran filsafat dan argumentasi yang canggih pernah tumbuh subur di seluruh dunia. Banyak masyarakat mempunyai kebudayaan-kebudayaan lisan yang rumit yang menggunakan metode-metode yang lebih intim dan kerap lebih efektif ketimbang tulisan untuk mewariskan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Menuturkan kisah dengan bertatap muka terasa memikat dan bersifat pribadi.
Kemampuan baca-tulis sangat jarang. Kata yang dituliskan sulit diperoleh dan bersifat “dingin” berjarak, dan impersonal kurang perbandingan. Para nenek moyang yang hidup dalam masyarakat-masyarakat lisan menyampaikan kebijaksanaan mereka melalui puisi dan lagu. Akan tetapi, ketika kebudayaan-kebudayaan itu lenyap, ide-ide mereka dan segenap peradabannya pun lenyap.
Sejarah Filsafat
Yunani kuno pun merupakan kebudayaan lisan sebelum menjadi begitu “filosofis”, yakni sebelum para filsuf mulai menuliskan ide-idenya dan menyuruh murid-muridnya membacanya. Iliad dan Odyssey bukanlah karya seorang pengarang tunggal bernama Homerus, dan bahwa mitos-mitos ini sampai kepada kita dalam bentuk yang luar biasa (walaupun tentunya tidak asli), itu adalah soal keberuntungan yang besar.
Kebanyakan filsafat Spartan dinyanyikan ketimbang dituliskan, dan barangkali karena kemampuan baca tulis orang-orang Athena Plato khususnya akhirnya memenangkan Athena sebagai pusat filosofis dunia. (Sokrates yang besar, misalnya, tidak menulis apa pun, hanya karena Platolah maka kita [menganggap] dapat mengetahui banyak tentang diri dan ide-idenya).
Begitu pula, sangat mungkin bahwa daerah Afrika yang luas telah didiami oleh berbagai suku bangsa yang memiliki cara-cara berpikir yang canggih dan rumit tentang dunia. Memang, bila kita mendengarkan manusia berbicara dan berspekulasi dari ujung bumi yang satu ke ujung yang lainnya, baik mereka yang ada di kampung-kampung pedesaan maupun di kafe-kafe perkotaan, sulitlah mempercayai bahwa orang tidak “melakukan” filsafat, dalam bermacam-macam bentuk. Tentunya mereka tercenung, apakah bintang-bintang itu? Mengapa segala sesuatu terjadi? Apakah arti hidup kita? Mengapa kita mati, dan apa yang akan terjadi pada kita bila kita mati? Apa yang sebenarnya baik dan apa yang jahat?
Tak ada alasan untuk menduga bahwa pertanyaan-pertanyaan dan pemikiran-pemikiran yang menyusulnya hanya muncul dalam kebudayaan-kebudayaan yang menggunakan bahasa tulisan sehingga dengan demikian melestarikan berbagai teks untuk generasi masa depan supaya dibaca dan dipelajari.
Sementara itu, di wilayah-wilayah Amerika, yang belakangan “ditemukan” sebagai “Dunia Baru”, sudah dihuni manusia baik bagian selatan maupun utara, dan di daerah-daerah yang lebih hangat dekat ekuator orang telah mengembangkan berbagai peradaban dan filsafat yang luar biasa dalam cara mereka sendiri. Peradaban Inca, Maya, dan Aztec telah lama berlangsung dalam bentuknya yang bagus, sebelum orang-orang Eropa mendarat pada awal abad keenam belas.
Suku-suku bangsa pribumi Amerika hanya mempunyai sedikit cara menyimpan dokumen-dokumen historis, tetapi mereka barangkali telah mengembangkan secara ekologis sistem-sistem pemikiran yang peka, ribuan tahun sebelum mitologi Takdir Nyata (Manifest Destiny doktrin yang muncul pada abad kesembilan belas yang menyatakan bahwa perluasan wilayah Amerika Serikat adalah suratan takdir yang sangat jelas nyata-Pent.) yang menandai tanah air mereka yang dieksploitasi. Orang-orang “aborigin” di Australia telah hidup selama puluhan ribu tahun berdasarkan konsepsi-konsepsi filosofis mereka tentang “zaman mimpi”, ketika dunia diciptakan oleh para makhluk surgawi, yang mengajarkan hukum dan ritual kepada keturunannya sebelum mereka menghilang ke alam.
Rasanya tak perlulah menyatakan bahwa perkembangan-perkembangan ini sama sekali tidak diketahui (dan secara geografis tak terbayangkan) bagi orang-orang Yunani dan Cina, sebagaimana mereka terhadap ratusan generasi orang Eropa. Tetapi mengapa kita harus berasumsi bahwa kebudayaan-kebudayaan ini kurang pemikiran, kurang “filosofis”, kurang imajinatif ketimbang kebudayaan-kebudayaan lain yang terpelihara dengan baik dan dengan kesadaran diri filosofis? Memang patut dan baiklah menghargai apa yang dikenal sebagai permulaan putaran dan peralihan intelektual yang kita anggap (dengan agak berani) sebagai tradisi filosofis “kita sendiri”. Namun, penting juga untuk menyadari bahwa kita telah menghargai salah satu versi saja di antara sekian banyak versi, atau barangkali hanya satu bagian saja dari proyek manusia yang lebih besar yang tampil dalam banyak wajah.
“Keajaiban” Yunani
Jauh sebelum abad keenam sebelum Masehi, sudah ada peradaban-peradaban yang tumbuh subur di wilayah Mediterania timur, Timur Tengah, Asia, dan Afrika. Orang Yunani (atau orang Hellenis) adalah sekelompok orang Indo-Eropa nomadik yang datang menggantikan kelompok masyarakat yang sudah menetap di dekat Lautan Aegean. (Bangsa yang terusir ini pindah dan membangun peradaban besar di Pulau Kreta. Kita sama sekali tak punya pengetahuan tentang bahasa mereka, tetapi sulit kita percaya bahwa mereka tak punya filsafat yang mendalam dan kompleks. Yang jelas, mereka mempunyai sistem penyaluran air di dalam rumah.) Sebagian besar Yunani dihancurkan kira-kira 1200 SM (segera sesudah pengepungan Troya) dan kebanyakan tetap “tak beradab” hingga abad keenam sebelum Masehi.
Orang-orang Yunani berdagang ke seluruh wilayah Mediterania dan dengan bebasnya meminjam kebudayaankebudayaan lain. Dari orang-orang Phoenicia mereka mendapatkan alfabet, sejumlah teknologi, dan ide-ide baru religius yang berani. Dari orang Mesir mereka mendapatkan ide-ide baru religius yang menentukan bagi apa yang kita sebut arsitektur Yunani, dasar geometris, dan masih banyak lagi. Dari Babilonia (Irak sekarang) mereka mempelajari astronomi, matematika, geometri, dan banyak lagi ide religius. Yunani bukanlah suatu “keajaiban” (begitu juga India kuno); ia adalah keberuntungan sejarah yang kebetulan dan hasil dari banyak pelajaran yang tak terunut lagi dari para tetangga dan nenek moyang. Sebagai bagian dari proses ini, dewa Mesir, Osiris, menjadi setengah dewanya Yunani, yakni Dionysus dan pemujaan Dionysus yang sangat misterius tersebar di seluruh Yunani pada abad keenam sebelum Masehi. Menurut misteri-misteri “Orphik”, para raksasa (para Titan) memerintah negeri. Mereka dilahirkan dari Gaia, bumi, yang melahirkan Zeus, raja para dewa dan ayah Dionysus. Dionysus dibunuh para raksasa dan Zeus kemudian membunuh mereka. Manusia muncul dari abu jasad mereka.
Oleh karena itu, hakikat manusia adalah sebagian berasal dari alam dan sebagian ilahi. Ini berarti bahwa di antara bendabenda lain, kita mempunyai kehidupan yang abadi bukannya ide yang tak diinginkan tentang suatu dunia di mana kehidupan sering, dalam frasenya Thomas Hobbes, “tak menyenangkan, kejam, dan singkat”. Misteri-misteri Orphik akan selalu membayang-bayangi filsafat Yunani, tak soal betapapun ia bersikeras untuk menjadi “rasional”.
Sejarah Filsafat
Filsafat Yunani muncul dari percampuran mitologi, mistisisme, matematika, dan persepsi yang rusuh begitu rupa sehingga segalanya tidak beres dengan dunia. Para filsuf Yunani awal menemukan dirinya dalam kenyataan yang patut ditiru dan juga sangat mudah dikecam. Kebudayaan mereka kaya dan kreatif, namun dikelilingi oleh musuh-musuh yang saling iri hati dan saling bersaing.
Tak jarang bahwa kebudayaan-kebudayaan besar tiba-tiba dihancurkan dan akhirnya terhapus dari peta dunia yang dikenal, dan apa yang tidak dihancurkan oleh perang sering dihancurkan oleh alam. Wabah penyakit menyapu seluruh kota laksana pasukan-pasukan bisu. Hidup tak dapat diramalkan, sering tragis, dan karenanya berharga dan sekaligus patut disesalkan. (“Lebih baik tak pernah dilahirkan,” kata Silenussi si periang, “dan yang terbaik adalah segera mati.”)
Dalam sebuah dunia yang sangat sedikit memiliki kendali, konsep takdir lazim memegang peranan yang penting. Akan tetapi, sementara orang Yunani yang berdiam di Troya dan kemudian orang Yunani yang hidup di zaman Homerus mengasalkan takdir pada putusan-putusan ganjil para dewa-dewi, para filsuf abad keenam sebelum Masehi mencari tatanan yang mendasari benda-benda, yang bersifat tetap dan mendasar yang dapat dipahami bagi eksistensi. Agama telah membuka jalan menuju “seberang” selama ribuan, barangkali bahkan sepuluh ribu tahun, tetapi filsafatlah yang menuntut adanya tatanan di seberang tersebut. Sebagai ganti tingkah dan nafsu-nafsu para dewa, di sana harus ada logos, suatu nalar atau logika yang mendasari.
Para filsuf Yunani pertama adalah orang-orang Miletus di Asia Kecil. Miletus adalah sebuah kota besar yang didirikan oleh orang-orang Athena, tetapi kemudian ditaklukkan oleh bangsa Lydia dan kemudian Persia. Memang, pada waktu itu, kebudayaan Persia secara khusus memberikan akses kepada orang-orang Miletus untuk mendapatkan berbagai ide tentang kesatuan kosmos, keindahan matematika, dan ide-ide religius tertentu. Di antaranya adalah doktrin-doktrin Zoroastrianisme: monoteisme, kekekalan jiwa, dan dikotomi antara kebaikan dan keburukan.
Seperti akan kita lihat, para filsuf Yunani awal menyediakan bahan mentah yang banyak dalam penekanan pentingnya teori terpadu mengenai kosmos (kosmologi) dan keistimewaan status matematika sebagai pengetahuan yang ideal. Mereka juga mencari teori-teori penjelas yang mendasar, seperti ide fundamental bahwa dunia terdiri atas “pertentangan-pertentangan” (panas dan dingin, basah dan kering). Realitas terakhir dapat dipahami dalam kerangka prinsip-prinsip dasar tertentu; karenanya, kehidupan manusia berikut takdirnya dapat dan harus dijalani serta dipahami dalam pandangan tersebut.
Pembalikan dramatis yang dilakukan oleh para pemikir abad keenam sebelum Masehi, barangkali tampak lebih mendadak bila ditinjau dari masa silam ketimbang kenyataannya di masa itu. Sebagaimana lazimnya usaha manusia, filsafat tidak muncul dari negeri antah berantah, begitu juga para filsuf. Kebudayaan-kebudayaan Mediterania timur, India, dan Cina sudah merupakan peradaban-peradaban yang berkembang pesat; mereka berada di tengah-tengah perubahan yang tak menentu; dan kombinasi antara tradisi dan perubahan merupakan tanah yang menumbuhkan ide-ide filosofis yang harus dianggap serius.
Hinduisme berusia ribuan tahun, dan bukan hanya kaya dengan kisah-kisah legendaris dan setumpuk kebijaksanaan rakyat (folk wisdom) tetapi juga memiliki suatu warisan para bijak dan spekulasi serta wawasan-wawasan yang mendalam mengenai kenyataan dunia. (Kata “Hindu” menunjuk bukan pada suatu agama tetapi pada suatu tempat, “timur Sungai Indus”.) Kitab-kitab Veda Hindu yang dapat dirunut kembali ke tahun 1400 SM, dan kitab-kitab Veda (dan disebut Vedanta atau “komentar”) berasal dari tahun 800 SM. Argumen-argumen yang didasarkan pada pemikiran bebas dan kegandrungan pada mistisisme sudah lazim di India ketika Sang Buddha muncul untuk menentang (beberapa dari) ide-ide ini. Tampaknya, bukan mustahil bahwa ideide eksotis ini juga berkelana sampai di pelabuhan-pelabuhan Asia Kecil dan Athena yang sibuk.
Menjelang abad keenam, mitologi Yunani sudah agak lesu dan makin problematik. Kisah para dewa-dewi dengan berbagai korban dan abdinya tidak lagi semuanya dianggap serius dan atau diterima secara harfiah. Jurang pemisah antara ide tentang “sang Kebenaran” yang biasa dan fantastik mulai muncul. Anggaplah bahwa kita benarbenar “membuat” dewa-dewi kita, keluh Xenophanes (kira-kira 560-478 SM). “Jika banteng, kuda, singa mempunyai tangan dan dapat melukis seperti manusia, kuda akan melukis para dewa berupa kuda, dan banteng akan melukis wujud para dewa seperti sapi jantan, masing-masing melukis tubuh para dewa seperti tubuhnya sendiri.”
Meskipun demikian, Xenophanes melanjutkan, mengapa kita harus menyembah makhluk-makhluk yang terkenal dengan perilakunya yang buruk, yang bermoral rendah, dan mempunyai emosi-emosi yang kekanak-kanakan? Oleh karena itu, Xenophanes menganjurkan, kira-kira sama dengan apa yang tertulis dalam kitab pertama Alkitab Ibrani (atau Perjanjian Lama), kepercayaan pada “satu dewa, yang terbesar di antara para dewa dan manusia, yang tak serupa dengan hal-hal fana yang terdapat pada tubuh dan pikiran”.
Sejarah Filsafat
Kita tidak tahu sejauh mana keragu-raguan ini tersebar di seluruh masyarakat Yunani, yang jelas telah berlangsung di sana. Tentunya monoteisme dikenal melalui orang-orang Ibrani, sebab terjalin kontak yang penting antara orang-orang Ibrani dengan Yunani. Monoteisme tentunya menarik bagi pengertian Yunani akan kesatuan, meskipun dewa-dewinya beraneka ragam.
Judaisme, yang dapat ditelusuri kembali hampir pada milenium ketiga sebelum Masehi, (Abraham hidup sekitar 2000 sebelum Masehi), kaya dengan filsafat dan perdebatan filosofis, khususnya dengan karya-karya para nabi (abad kesembilan-kedelapan sebelum Masehi) dan banyaknya tulisan dan hukum yang kemudian menjadi Talmud dan Mishnah. Raja Sulaiman (1000 sebelum Masehi), meskipun pemerintahannya merosot kemudian, tetapi menaburkan mutiara kebijaksanaan yang selalu dikenang orang.
Pada tahun 750 sebelum Masehi, Israel menikmati satu dari masa-masa keemasannya yang jarang terjadi (yang diakhiri dengan serbuan orang Assyria pada tahun 721 sebelum Masehi). Era ini menghasilkan hukum-hukum dan nabi-nabi baru, yang mencela kemiskinan yang mereka saksikan di tengah-tengah gelimangan kemakmuran. Argumen filosofis begitu mendasari kehidupan orang Ibrani kuno sehingga di sana tak perlu menyebutkan “filsafat”. Yang pasti, para filsuf Ibrani awal tidak begitu tertarik pada teologi, metafisika, atau pada epistemologi keyakinan, dibanding dengan pemikiran Kristen berabad-abad kemudian.
Seperti Konfusius yang berada di ujung sebuah benua yang sangat besar, mereka lebih tertarik pada persoalan-persoalan tentang cara hidup, persoalan keadilan dan kebaikan masyarakat. Di atas semuanya itu, mereka mengajukan pertanyaan yang melingkupi. Bagaimana kita dapat menyenangkan Tuhan Yang Mahakuasa dan yang tidak senantiasa dapat diramalkan?
Masih di sekitar daerah Yunani, orang Babilonia di bawah pemerintahan Hammurabi (abad kedelapan sebelum Masehi) telah lama mengembangkan kitab undang-undang yang dikenal pertama kali dan sistem yurisprudensi yang pertama. Kitab Taurat Ibrani (Sepuluh Perintah) juga sudah diketahui secara luas dan barangkali bagian dari hukum agama yang lebih besar. Ke arah utara, terdapat suatu konstitusi Sparta di bawah pemerintahan Lycurgus dan peradaban yang berkembang pesat dan maju, yang secara tipikal dianggap rendah, tentunya, oleh orang-orang Athena yang kurang maju.
Dan kita telah mencatat pentingnya peradaban-peradaban besar yang ada di selatan Mediterania, khususnya Mesir dan mungkin di Nubia (sekarang Ethiopia), Sudan dan bahkan peradaban yang terdapat di sepanjang Sungai Nil. Kebudayaan-kebudayaan ini mempunyai sistem-sistem astronomi yang canggih, matematika yang maju dan rumit, serta pandangan-pandangan yang mendalam mengenai hakikat roh, dan obsesi menjawab persoalan kehidupan di alam baka. Banyak ide-ide utama filsafat Yunani, termasuk minat yang sangat besar pada geometri dan konsep roh, diimpor dari Mesir. Sebenarnya, lebih membantu bila memandang “keajaiban” Yunani bukan sebagai permulaan yang luar biasa, melainkan sebagai suatu kulminasi, klimaks dari kisah panjang permulaan dan pertengahan yang tak dapat lagi kita ketahui.
Akan tetapi, kulminasi dari kisah kuno ini, dan pahlawan utamanya, adalah sosok Sokrates. Ia bukanlah filsuf pertama, dalam arti apa pun. Hampir dua abad dan beberapa generasi para filsuf yang mempunyai pemikiran yang mendalam dan persuasif telah mendahuluinya di Yunani. Ia bukanlah satu-satunya filsuf yang berargumen dengan begitu bersemangat, yang menghentakkan kejemuan zamannya, yang menorehkan dalam ingatan suatu representasi yang kuat dari “sang filsuf” ke dalam kesadaran Barat.
Tetapi, apa pun keunggulan-keunggulan dan kebajikan-kebajikannya, yang memang banyak, ia berutang budi pada nasib bahagia maupun tragis untuk tempatnya yang unik dalam pemikiran Barat. Pada tahun 339 SM, Sokrates digiring ke pengadilan, dituduh “merusak pikiran” para muridnya, dan dijatuhi hukuman mati. Tak diragukan lagi, tentunya peristiwa itu merupakan salah satu dari saat-saat paling berat dan memalukan bagi orang Athena yang demokratis. Tetapi peristiwa itu mengukuhkan Sokrates bukan hanya sebagai “filsuf” tetapi juga sebagai seorang syuhada-syuhada untuk kebenaran, seorang martir untuk panggilannya. “Lebih baik aku mati ketimbang meninggalkan filsafat”, tandasnya kepada hakim, yang sesungguhnya ingin menyelamatkan dari hukuman mati. Sokrates menetapkan standar-standar filsafat yang seharusnya, dan memang itu adalah standar yang sangat tinggi.
Akan tetapi, memang sudah merupakan nasib baik Sokrates, karena dikaruniai seorang murid yang merupakan salah seorang penulis yang paling brilian dalam sejarah spesies manusia. Plato adalah seorang murid yang sempurna, seorang pengagum yang bersemangat, seorang pendengar yang tajam, seorang jurnalis yang cerdik dan jenaka, seorang propagandis yang piawai, dan seorang dramatis terampil serta seorang filsuf yang jenius di bidangnya.
Pertama-tama Plato merekam, kemudian mengembangkan, lalu membumbui dan mentransformasi percakapan-percakapan Sokrates, dimulai dari situasi pengadilannya. Dialog-dialog yang dihasilkannya merupakan kumpulan karya pertama dan lengkap yang kita miliki dalam filsafat, dan merupakan dokumen-dokumen yang mempesona, yang mengesankan kita bahwa semua filsafat tak lain dari catatan kaki dari Plato. Namun, Plato tetap di balik layar.
Sokrateslah pahlawan dalam dialog-dialog itu. Tentu saja, kalau bukan karena Plato, Sokrates tak lain dari sekadar catatan kaki dalam arsip sejarah Yunani, karena ia sendiri tidak mempublikasikan apa pun. Namun, jika Sokrates tak ada, barangkali kita tidak punya Plato, dan tanpa Plato tidak ada Aristoteles, yang banyak memberitahukan pada kita tentang para filsuf yang mendahului Sokrates (“pra-Sokratis”). “Keajaiban” Yunani tidak akan pernah terjadi sejauh yang kita ketahui.
Sejarah Filsafat
Sokrates, seperti rekan sezamannya Konfusius dan sang Buddha, hampir seluruhnya tertarik pada konsep mengenai kehidupan yang baik hidup dalam kebajikan, hidup dalam masyarakat yang beradab, kehidupan yang bahagia. Ia mempunyai ide-ide yang sangat berbeda ketimbang yang dilakukannya, dan ide-ide yang sangat berbeda ketimbang orang-orang Yunani sezaman dan sebelum dia. Sebenarnya ide yang paling menonjol yang dihubungkan dengan Sokrates ialah ide bahwa Sokrates sendiri sebagai bagian dari kebijaksanaan itu. Hal ini menjanjikan masalah tertentu kepada kita, yakni penggolongan para filsuf pada saat itu.
Sokrates membaktikan hidupnya untuk memikirkan, mengerjakan dan menjadi contoh dari kebajikan. Tampaknya ia sama sekali tidak tertarik pada persoalan-persoalan besar kosmologis yang digandrungi di zamannya, minatnya terhadap metematika dan geometri sebagai disiplin tersendiri sangat minim, dan minatnya terhadap agama yang telah mapan di Athena hanya ala kadarnya saja (salah satu dari sekian banyak tuduhan yang dikenakan padanya).
Tetapi, Plato dan beberapa generasi filsuf yang mendahuluinya sangat tertarik pada soal-soal tersebut, sehingga tantangan dalam upaya melukiskan potret singkat, namun bukan tak akurat sama sekali mengenai filsafat Yunani kuno adalah menjelaskan munculnya diskontinuitas ini, suatu ketidaksepakatan yang serius mengenai pengertian yang tepat dari “filsafat” itu sendiri. Apakah filsafat, sebagaimana dicontohkan oleh Sokrates merupakan sesuatu yang bersifat sangat pribadi, sangat sosial dan ramah, sangat praktis berurusan dengan hidup yang baik dan mengajarkan orang lain (atau, lebih baik, menolong mereka) juga melakukannya? Ataukah filsafat itu merupakan suatu proto ilmiah, yang sangat abstrak, dan berupa upaya yang sukar untuk memahami hakikat terakhir dari alam semesta, suatu upaya yang tampaknya tidak begitu diminati oleh Sokrates, Konfusius dan Sang Buddha.
Kedua tugas itu tidak harus dipertentangkan atau dianggap tidak cocok satu sama lain, dan kebanyakan filsuf besar, terutama Plato dan Aristoteles, mencoba menggabungkannya. Apakah filsafat merupakan pencarian impersonal pada kebenaran, ataukah dalam faktanya masih terikat pada sekolah-sekolah para bijak yang lebih kuno, laki-laki bijaksana (kadang-kadang perempuan) yang dirinya sendiri merupakan contoh dari kebijaksanaan tersebut? Apakah penekanan pentingnya Sokrates esensial bagi sejarah filsafat, dan apakah filsafat itu sendiri merupakan sejarah para pahlawan, para individu, yang lewat karya mereka telah mendefinisikan filsafat (Buddha, Konfusius, Sokrates, Plato, Aristoteles, Yesus, St. Agustinus, Ibnu Rushd, Descartes, David Hume, Immanuel Kant, Gandhi, dsb.)?
Atau apakah filsafat merupakan sejarah ide-ide, yang dalam perkembangannya atau penyingkapannya, merupakan suatu sejarah di mana eksistensi aktual tokoh-tokoh individual paling banter diperhatikan alakadarnya? Bila kini kita menyurvei sejarah filsafat Yunani, misalnya, sejauh mana kita melakukan atau harus menjadikan Sokrates sebagai hiasan dari studi kita? Sejauh mana ia sekadar menjadi selebriti historis yang patut mendapat pujian tertentu untuk sukses filsafat yang luar biasa, tetapi kendati demikian, pada akhirnya menjadi suatu gangguan yang datang dari sejarah yang sesungguhnya dalam pokok masalah ini? Dalam halaman-halaman berikut, kami akan mencoba menggarap seadil mungkin masalah-masalah ini.
Filsafat, Mitos, Agama, dan Ilmu
Dalam mengantarkan filsafat, khususnya filsafat Yunani kuno, sekarang lazimnya dikatakan bahwa filsafat berawal mula ketika dipisahkan dari mitologi agama rakyat dari kebudayaan populer Yunani. Agama tersebut meliputi Panteon dewa-dewi Olympian (seperti Zeus, Hera, Apollo, dan Aphrodite) dan juga pahlawan-pahlawan mitologis dan banyak legenda Yunani yang seolah-olah historis. Perhatikan bahwa yang ditunjuk secara tipikal sebagai “mitologi” hanyalah kepercayaan orang lain. Namun orang Yunani mempunyai pengertian tertentu mengenai perbedaan antara filsafat dan mitos, dan menerapkannya untuk diri mereka sendiri.
Ada banyak level “kepercayaan” di masyarakat canggih Yunani, yang terentang dari penerimaan harfiah pernyataan-pernyataan mitis hingga pada penafsiran-penafsiran yang agak dilebih-lebihkan, puitis, dan alegoris. Kepekaan puitis dianggap esensial pada kebijaksanaan, yang tidak dicampuradukkan dengan kebenaran-kebenaran duniawi. Percaya pada eksistensi dewa-dewi mungkin kurang lebih bersifat harfiah. (Salah satu dari sekian tuduhan yang mengakibatkan hukuman mati bagi Sokrates, yakni bahwa ia tidak percaya “pada dewa-dewa kotanya”.) Akan tetapi, legenda-legenda historis tentang Hercules, Jason dan para Argonaut dan semacamnya dianggap sebagai hal yang bermanfaat dalam ukuran skeptisisme yang tidak serius. Mungkin Oedipus adalah seorang pribadi yang nyata, dan ada sedikit keraguan bahwa tokoh (setidaknya tokoh manusia) dalam Odyssey dan Iliad adalah nyata juga.
Apa yang dilakukan orang Yunani dalam mitos-mitos yang mengisahkan intrik-intrik antara para dewa-dewi Olympian dengan manusia fana? Menurut dugaan, beragam perempuan dipacari dan diperkosa oleh Zeus, yang menyamar dalam wujud seekor angsa, sapi jantan, setumpuk awan, dan bahkan dalam wujud yang persis dalam rupa suami si perempuan itu sendiri (suatu kebingungan filosofis tersendiri yang mempesona. Apakah si perempuan tidak setia kepada suami?).
Tokoh-tokoh mitis berubah menjadi pohon-pohon dan bunga-bunga, dan beberapa adalah korban dari pembalasan dendam dewata semisal, Prometheus (yang harus memberikan hatinya untuk dirobek-robek oleh burung nasar setiap hari sebagai hukuman baginya kerena memberikan api kepada umat manusia) dan Sisypus (yang harus menghabiskan waktu sepanjang zaman dengan mendorong naik sebongkah batu ke puncak gunung kemudian dari sana batu itu longsor karena bobotnya sendiri).Orang-orang Yunani yang terpelajar tampaknya menganggap kisah-kisah ini merupakan kisah-kisah moralitas (atau imoralitas), bukan doktrin-doktrin teologis.
Sejarah Filsafat
Hal ini akan membuat kita bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya dipercayai oleh orang yang kurang terpelajar. Apakah para filsuf yang pertama menyerang takhayul (pandangan populer para filsuf di zaman Pencerahan, yang memandang dirinya mengulangi proses tersebut), atau apakah mereka, malah berpartisipasi di dalam upaya yang lebih umum? Barangkali rakyat Yunani kuno benar-benar menikmati permainan ide-ide dan citra-citra ini, dan para filsuf yang mengikutinya hanya meng ungkapkan pandangan skeptis ini dalam cara yang lebih eksplisit.
Untuk memahami lahirnya filsafat Barat perlu diperhatikan dengan cermat pembedaan yang banyak dicela antara filsafat dengan mitos. Pembedaan yang dipromosikan oleh para filsuf zaman itu menekankan pentingnya dan orisinalitas pemikiran mereka. Dikatakan bahwa sudah selayaknya filsafat Yunani yang canggih muncul dan menggantikan mitos populer (“vulgar”). Dikatakan pada kita, bahwa perbedaan antara mitos yang tidak dipikirkan lebih dulu dengan filsafat yang dipikirkan matang-matang, yang menandai berakhirnya suatu era dan permulaan era lain, ialah bahwa yang pertama menekankan pada dewa-dewi, sedang yang kedua mempertahankan penjelasan “naturalistik”.
Mitos sibuk dengan antropomorfisme, proyeksi sifat-sifat manusia pada (apa yang kita anggap) kekuatan-kekuatan alamiah yang tak berjiwa. Demikianlah, orang-orang Mesir kuno dan kebanyakan kebudayaan Mediterania timur menjelaskan asal-usul dan hakikat alam semesta dalam kerangka tindakan-tindakan dan emosi-emosi dewa-dewi yang persis manusia. Tetapi dimulai dengan Thales (625?-547? SM) dan para filsuf pra Sokrates lainnya, kisah yang lazim digantikan, penjelasan-penjelasan menjadi makin ilmiah, makin “naturalistis”, makin materialistis. Para pemikir awal Yunani ini memuja suatu rasionalitas yang berperasaan dan menekankan pada sebab-sebab material ketimbang puisi spekulatif dan perilaku para dewa-dewi yang berada di balik layar.
Akan tetapi, pandangan yang disederhanakan dan puas diri tidak berhenti sejenak untuk melakukan pemeriksaan yang teliti. Para filsuf Yunani bergelimang dengan mitologi serta rasionalitas baru yang diilhami geometri, dan beberapa terobosan terbesar dalam filsafat yang dibuat oleh Pythagoras, Parmenides, dan Plato, misalnya meliputi penolakan tegas pada penjelasan-penjelasan materialis tentang dunia. Mereka sering melukiskannya dalam teka-teki dan kiasan-kiasan, dan mereka lebih sering terdengar seperti para penyair mistik ketimbang para profesor ilmu masa kini.
Ide bahwa filsafat, seperti ilmu, memberikan kebenaran-kebenaran harfiah, selalu diragukan. Para filsuf modern (seperti Kant dan Hegel) juga fasih dalam kiasan dan analogi. Tentunya, apakah ilmu itu sendiri tergantung pada kiasan, ketimbang deskripsi harfiah, merupakan tema yang akan membawa kita jauh melampaui batas-batas sejarah ini.
Yang pasti, asal usul filsafat di Yunani juga merupakan asal-usul ilmu Barat, tetapi filsafat bukan ilmu (setidaknya tidak secara eksklusif), dan mitologi yang mengaruniai kosmos dengan personalitas dan juga sama-sama dapat diterangkan secara rasional hampir tidak mungkin tanpa daya tariknya, bahkan bagi para filsuf. Tak heran bila pemikiran puitis dan mitologis berlanjut dalam filsafat hingga zaman ini.
Hal yang sama berlaku pada kebudayaan-kebudayaan lain, khususnya kebudayaan yang telah tidak dan barangkali tidak menganggap ilmu seserius yang kita lakukan. Cina mempunyai tradisi teknologis yang dapat ditelusuri jauh ke masa silam ketimbang tradisi Barat. (Orang Cina sudah menemukan serbuk mesiu, mi, dan kacamata, misalnya, berabad-abad sebelum Barat menemukannya). Tetapi, orang Cina selalu berpandangan pragmatik dan praktis terhadap ilmu, dan khususnya filsafat Konfusian, menganggap teori ilmiah jauh lebih rendah ketimbang harmoni sosial.
Sejarah teknologi yang luar biasa di Asia kebanyakan kurang dikaitkan dengan apa yang kerap dianggap sebagai “pencarian kebenaran” ketimbang dengan pragmatisme masyarakat yang sehat. Karena sepenuhnya menekankan pada alam, Taoisme benar-benar tidak berkaitan dengan ilmu, dan Buddhisme menganggap bukan ilmu saja, tetapi ide kemajuan yang terdapat pada pengetahuan alam tak lain dari ilusi-ilusi besar kemanusiaan.
Khususnya dalam filsafat religius, pembedaan antara dewa-dewi mitologis dengan individu-individu yang benar-benar berdarah berdaging sering dibuat lebih mutlak ketimbang ambiguitas-ambiguitas sifat keilahian yang dibutuhkan. Dewa-dewi Yunani dan Hindu terasa sama-sama samar antara manusiawi dan super manusiawi atau tidak manusiawi. Mereka sering berubah-ubah dari sifat yang satu ke sifat yang lainnya. Konfusius dan Buddha, seperti Musa, Yesus, dan Muhammad, tentu saja orang yang nyata-nyata ada. (Laotzu, jika bukan seorang raja, seperti Homerus adalah sekelompok kecil orang yang nyata-nyata ada.) Bahkan dalam kasus istimewa Yesus sebagai penjelmaan Tuhan, penampilan paradoks Yesus sebagai manusia dengan Kristus sebagai Allah telah menyebabkan borok-borok intelektual di sepanjang sejarah teologi Kristen.
Ambiguitas dan analogi adalah esensi filsafat Cina. Pada saat yang sama, “dewa-dewi” Konfusianisme dan Buddhisme adalah manusia perseorangan, bukan penjelmaan Allah seperti Kristus, dan bukan dewa-dewa yang satu ketika dilahirkan dalam wujud manusia untuk mengajari kita kebenaran-kebenaran mulia. Jadi, mengatakan bahwa dewa-dewa ini bersifat antropomorfis jelas-jelas di luar permasalahan. Walaupun Cina kuno mempunyai mitos-mitos yang berisikan bermacam-macam makhluk seperti naga-naga, dalam Konfusianisme dan Buddhisme, dasar tepatnya pembedaan antara filsafat dan mitologi benar-benar tak dapat diterapkan. Kisah tentang Buddha, seperti kisah Yesus, lebih berarti simbolis ketimbang sebagai sejarah.
Di India purba ceritanya jauh lebih kompleks. Hinduisme penuh dengan makhluk-makhluk dan dewa-dewi yang fantastik dan setidaknya lebih imajinatif ketimbang yang dapat dijumpai dalam mitologi Yunani. Trinitas utama para dewa sangat penting bagi mitologi Hindu klasik. Ketiganya adalah Brahma (dewa pencipta), Wisnu (dewa pemelihara alam semesta), dan Siwa (dewa perusak). Tetapi, ketiga dewa itu adalah wajah-wajah dari satu Tuhan, realitas yang tunggal ketimbang jamak. Sebenarnya, di satu sisi panteon Hindu jauh lebih besar dan lebih kompleks ketimbang panteon mana pun di Yunani, tetapi di sisi lain, jauh lebih bersatu secara eksplisit.
Sejarah Filsafat
Pelukisan akrab tentang Siwa yang mempunyai tangan enam atau lebih hanyalah permulaan dari kompleksitas yang membingungkan: para dewa secara rutin berubah-ubah rupa dan penjelmaan, mengadopsi orang-orang yang disenangi, menjalankan fungsi-fungsi yang berbeda, dan karenanya, mempunyai banyak nama yang berbeda-beda. Misalnya, istri Siwa yang bernama Parwati juga adalah Amba yang keibuan, juga Kali si penghancur, dan Sakti yang dianggap sebagai sumber kekuatan Siwa.
Mitos-mitos India bervariasi di berbagai kota subkultur, dan cerita rakyat India serta karya sastranya terdiri dari banyak kisah yang beragam, banyak miripnya dengan versi-versi paling awal mitos-mitos Yunani, yang dicoba (dengan tak berhasil) disatukan dan disintesiskan, khususnya oleh Hesiod. Dalam Hinduisme usaha seperti itu benar-benar tak dapat dipikirkan, seperti yang umumnya diakui oleh orang yang ahli dalam mitologi.
Sejarah panjang India kuno (seperti halnya sejarah Yunani kuno yang sangat pendek) istimewa karena kaya akan pahlawan-pahlawan kuasihistoris yang juga para teladan filosofis. Catatan khusus tentang itu adalah tentang Arjuna, seorang pahlawan dalam Bhagawad-Gita (Song of the Lord), sebuah teks yang religius disampirkan pada syair kepahlawanan Mahabharata (Epos terbesar dari Dinasti Bharata).
Arjuna beristirahat sebentar sebelum memulai peperangan. Ia tidak ingin memerangi kekuatan musuh yang menentang dirinya sendiri, musuh yang masih merupakan saudaranya sendiri. Meskipun mereka adalah keluarganya sendiri, Krisna, Dewa yang Tertinggi (berperan sebagai kusir kereta Arjuna), mengatakan pada Arjuna bahwa tugas Arjunalah untuk maju ke medan perang, hal ini harus dilakukan tanpa mementingkan dirinya sendiri, dengan jiwa seorang yang terpancang hanya pada Dewa.
Sebuah dilema moral yang sulit untuk dimengerti tampaknya mengejutkan kita, yaitu gagasan adanya keadaan ketika tugas seseorang ialah membunuh keluarganya sendiri. Namun, kengerian-kengerian yang hampir sama dapat ditemukan dalam Al-Kitab suci Ibrani, mitologi Yunani, dan dalam perang sipil.
Apakah akhir dari cerita-cerita menakutkan itu hanyalah untuk menghibur kita (seperti halnya sebuah film Godzilla)? Ataukah kisah-kisah moral ini mengajak kita pada kedalaman kebingungan-kebingungan filosofis pada pokok moral dan pengalaman manusia? Gandhi menginterpretasikan krisis yang dialami Arjuna sebagai peperangan antara baik dan buruk yang lazim terjadi pada setiap manusia. Pada saat Krisna menampakkan kedewaannya pada Arjuna, bumi kita berputar. Mitos-mitos pada kenyataannya adalah makanan bagi filsafat, bahan bakar bagi pemikiran spekulatif yang tidak perlu terlihat dalam bentuk sebenarnya.
Bersamaan dengan kisah yang penuh dengan bahasa yang berbunga-bunga, Bhagawad-Gita sampai pada bagian komentar yang dalam, penuh pemikiran dan filosofis dalam segala artinya, tetapi hanya mengekspresikan ketertarikan yang kecil (ketakjuban awal Barat dengan) penjelasan-penjelasan harfiah yang bersifat naturalistis.
Namun demikian, sebagaimana yang dapat kita lihat, para filsuf Yunani kuno sering kali bukanlah orang yang berpikiran begitu harfiah dan meskipun mereka menolak antropoformisme dalam bentuknya yang lebih kasar dan benar-benar tak masuk akal, namun demikian tetap berpegang pada ambiguitas yang disengaja dan visi yang bersemangat atas dunia yang tergambar dalam mitologi-mitologi masa lampau.
Yang paling jelas dan menarik dalam mitologi Hindu adalah kejenakaan yang imajinatif dan kurangnya hambatan relatif bila dibandingkan dengan mitologi Barat. (Zeus bisa saja berubah menjadi seekor sapi jantan, tapi ini hanyalah tipu muslihat sementara. Namun demikian, ia tetap Zeus.) Menurut salah satu kisah Hindu yang paling disukai, misalnya, Siwa berangkat ke medan perang ketika Ganesha, anaknya, masih sangat kecil.
Dia kembali beberapa tahun kemudian dan menemukan seorang pemuda tampan menemani istrinya. Karena mengira anak tersebut sebagai musuh, Siwa memenggal kepalanya dan akhirnya tahu bahwa orang itu adalah anaknya sendiri. Dengan perasaan yang sangat terkejut, ia bersumpah untuk menghidupkan kembali anaknya dengan memberikan kepala makhluk yang ia temukan kemudian, yakni kepala seekor gajah.
Apakah cerita-cerita tersebut dapat diterima secara harfiah? Apakah hanya sekadar khayalan? Atau barangkali mereka sedang menyajikan wawasan-wawasan yang mendalam dengan bentuk yang jenaka, mereka menyajikan interpretasi-interpretasi realitas dalam bentuknya yang lebih bagus, tetapi kurang dicerna sebelumnya dari pada interpretasi prailmu yang imajinatif dari filsafat Barat awal? Nyatanya, kita menganggap variasi imajinatif yang membingungkan dari mitologi India ini mengungkapkan ide-ide yang persis sama yang akan mendominasi filsafat India pada sebagian besar sejarahnya.
Bahkan pada sebagian besar kisah-kisah Hindu yang jenaka, kita menjumpai tema-tema abadi tentang pembaruan dan kesinambungan hidup. Akan tetapi, di atas semua itu, ada sebuah tema yang menentukan mengenai ”keesaan alam semesta”, meskipun banyak manifestasi atau penampakan yang terjadi. Dalam filsafat, realitas absolut yang esa ini dinamakan “Brahman”. Namun dalam mitologi awal, pluralitas dewa yang pada kenyataannya adalah manifestasi-manifestasi dari dewa yang tunggal, kebanyakan mengungkapkan tema yang sama. Dari mitologi ke filsafat bukanlah sebuah loncatan yang sedemikian rupa hebatnya dalam sebuah logika, sehebat perubahannya menjadi bahasa yang kurang indah.Walaupun demikian, perbedaan itu seharusnya tidak membuat kita cenderung menjauh dari mitos dan mendekati filsafat. Keduanya sama-sama memiliki keunggulan tersendiri. Mitos meliputi sebuah narasi cerita sementara tokoh-tokohnya boleh jadi berupa khayalan, cerita itu sendiri sangat penting, dan cerita itu menjadi sangat penting manakala kita membayangkan kita sendirilah yang menjadi para pelaku. Filsafat lebih berminat pada teori sistematis ketimbang sebuah cerita, namun pada saat filsafat meninggalkan narasi historis manakala ia menghapuskan seluruh gambar dari hadapan kita hasilnya sering kali berupa kumpulan konsep-konsep yang hampa konteks, yang secara keliru diartikan sebagai kebenaran-kebenaran abadi.
Sebuah narasi mitologis dapat mencakup kontradiksi-kontradiksi bahkan absurditas-absurditas, tetapi cakupan ini malah menambahkan daya tarik penangkapan kekacauan-kekacauan riil dunia daripada mengurangi kredibilitas dan konsistensinya. (Seorang sastrawan Amerika, Walt Whitman, bukan sekadar orang bijaksana yang memuja kontradiksi-kontradiksi daripada meratapinya atau mencoba untuk “mengatasi”nya.)
Sebaliknya, filsafat menggabungkan kontradiksi-kontradiksi dan inkoherensi sedapat mungkin hanya dalam keadaan genting, dan kebanyakan filsuf di setiap kebudayaan sangat berhasrat menghindarinya, bahkan pada saat mereka (seperti para filsuf Jerman Hegel dan Nietzsche dan beberapa filsuf besar tradisi Zen) melihat kontradiksi dan inkoherensi sebagai suatu bagian yang esensial bagi kehidupan dan filsafat.