revolution
Ditulis oleh desahan di/pada Juni 29, 2008
Pertumbuhan orang kaya di Indonesia terpesat di kawasan Asia Tenggara?
Ken Budha Kusumandaru
Perusahaan manajemen investasi terbesar di dunia, Merrill Lynch, bersama perusahaan teknologi penelitian, Capgemini, secara tahunan mengeluarkan sebuah laporan yang diberi tajuk World Wealth Report (Laporan Kekayaan Dunia). Laporan ini memuat perkembangan dari apa yang mereka sebut sebagai HNWIs (High Net Worth Individuals–Individu dengan Nilai Kekayaan Bersih Tinggi). Untuk ada di daftar HNWIs, anda harus memiliki kekayaan sedikitnya USD 1 Milyar.
Ada hal yang mengejutkan dalam laporan terbarunya, yang dilansir pada tanggal 24 Juni 2008 ini, sebagaimana dapat diunduh dari situs mereka dengan alamat http://www.ml. com/media/ 100502.pdf. Dalam laporan ini, disebutkan bahwa pertumbuhan jumlah orang yang memiliki kekayaan di atas USD 1 Milyar di Indonesia merupakan yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara–bahkan mengalahkan pertumbuhan serupa di Singapura. Sekalipun dengan demikian jumlah HNWIs di Indonesia (23.000 orang) masih lebih rendah daripada Singapura (77.000 orang), percepatan pertumbuhan ini membuat senang para eksekutif keuangan dunia. Indonesia pun masuk kembali ke dalam kategori “emerging market” (pasar yang sedang berkembang) untuk produk-produk jasa keuangan dari kapitalis keuangan internasional.
Ini tentu hal yang mengejutkan dan membuat kita miris. Di saat krisis ekonomi belum berhasil di atasi, di saat PHK massal merajalela, di saat pemukiman kaum miskin perkotaan dibabat habis, di saat nelayan harus pergi menangkap ikan dengan memakai minyak tanah sebagai pengganti solar, di saat petani makin kehilangan tingkat kesuburan tanah akibat tergerus oleh bahan kimia … di saat seperti ini jumlah orang kaya di Indonesia justru semakin bertambah.
Yang lebih membuat miris, pertumbuhan terbesar dari jumlah orang kaya ini terjadi di sabuk yang disebut dalam laporan ini sebagai “Ultra HNWIs”–yakni individu yang memiliki kekayaan minimal USD 30 Milyar. Di samping itu, sekalipun di banyak negeri tingkat tabungan secara nasional mengalami penurunan, pertumbuhan jumlah orang kaya ini masih ditopang oleh pembelanjaan komoditi yang oleh laporan ini disebut sebagai “passion investment”- -investasi gairah–yakni pada barang-barang mewah: koleksi seni, mobil mewah, kapal pesiar, klub olahraga, buah tangan, koleksi minuman anggur, pesiar mewah dan produk jasa kesehatan. Ini benar-benar jenis komoditi yang tidak akan pernah terjangkau oleh rakyat pekerja. Ketika mayoritas penduduk di negeri-negeri Asia hidup makin tertekan ke bawah garis kemiskinan, Ferrari justru menikmati peningkatan penjualan paling besar di Asia-Pasifik.
Bagaimana mungkin, ketika kapitalisme sedang mengalami krisis, malah jumlah orang kaya terus meningkat? Bahkan makin pesat? Yang mungkin tidak anda ketahui atau sadari, sistem kapitalis bekerja sedemikian rupa sehingga justru di saat krisislah jumlah orang kaya akan meningkat makin pesat. Mari kita susuri sedikit watak asli kapitalisme yang membuahkan kontradiksi ini.
Dari mana datangnya kekayaan ini?
Kapitalisme mengajarkan efisiensi, penggunaan uang dengan ketat, pada proses produksi. Apa yang terjadi sehingga kapitalisme kemudian justru menyandarkan pertumbuhan orang kaya dalam sistemnya dengan mengandalkan barang-barang mewah, yang tidak ada gunanya bagi kemaslahatan masyarakat, dan murni merupakan pemborosan (sekalipun diberi label yang keren seperti “passion invesment”)?
Memang masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut, tapi aku menengarai bahwa kapitalisme justru membutuhkan pemborosan seperti itu karena akumulasi kekayaan yang dilakukannya saat ini tidaklah berasal dari proses akumulasi normal dalam industri-industri- -melainkan dari apa yang dikenal sebagai “akumulasi primitif”.
Proses akumulasi normal dalam kapitalisme berlangsung dalam bentuk scam, penipuan, di mana rakyat pekerja dikibuli sehingga berpikir bahwa dia bekerja demi mendapat upah, dan upahnya sesuai dengan nilai kerjanya. Padahal, dia diupah sesuai nilai biaya yang dibutuhkan sekedar supaya dirinya bisa tetap bekerja lagi esok hari. Selisih antara nilai yang dihasilkan di tempat kerja dengan nilai biaya yang dibutuhkan untuk mempertahankan hidup si pekerja inilah yang diambil oleh kapitalis dalam bentuk “Nilai Lebih”.
Proses akumulasi primitif berlangsung dalam bentuk yang lebih kasar. Akumulasi jenis ini berlangsung dengan perampasan tanpa tedeng aling-aling terhadap hak hidup rakyat pekerja, memenggal rakyat pekerja dari kemampuannya untuk bertahan hidup secara subsisten (Marx, 1999. Bab 26).
Orang seringkali salah memaknai kata “primitif” dan menganggap bahwa proses ini hanya terjadi sebelum kapitalisme menancapkan taring. Seakan-akan, proses akumulasi primitif ini mendahului proses akumulasi normal, dan tidak lagi muncul ketika proses akumulasi normal telah berlangsung. Padahal, proses ini terus berlangsung, mengiringi proses normal. Bahkan, di saat-saat proses akumulasi normal mengalami kemacetan, proses akumulasi primitif tampil lagi ke muka sebagai juru selamat bagi kapitalisme.
Dapat diibaratkan kapitalisme itu adalah seorang begal besar, yang setelah puas merampok orang di jalan, punya cukup uang untuk membuka usaha sendiri. Para mafia Amerika (baik yang berketurunan Italia, Sisilia, Latin maupun Kulit Hitam) masih melakukan ini sampai sekarang. Mereka membuka “bisnis keamanan” (sebagai penghalusan dari kata “pemerasan”) di lingkungan tinggal mereka. Setelah cukup kaya, mereka mulai berpikir untuk “going legit”, artinya membuka bisnis legal dengan uang yang telah mereka kumpulkan lewat pemerasan, pembunuhan dan tindak kekerasan lainnya. Kita semua tahu sejarah berdirinya Las Vegas, seperti digambarkan dalam film tentang seorang mafioso terkenal Benjamin “Bugsy” Siegel. Las Vegas, sebagai sebuah “kota judi”, didirikan oleh Bugsy Siegel dengan uang hasil pembayaran “kontrak” dari para kliennya. (”Kontrak” dalam kosa kata para mafioso berarti pesanan untuk membunuh orang.) Tapi dasarnya begal, jika usaha legal mereka mengalami kemacetan, para begal ini tidak akan segan kembali ke jalanan untuk kembali ke watak aslinya.
Begitulah kira-kira hubungan antara sistem akumulasi modal “normal” dengan akumulasi primitif.
Bagaimana proses akumulasi primitif dilancarkan di tengah-tengah epos di mana kapitalisme tengah berjaya?
Kunci dari akumulasi primitif adalah “penciptaan kelangkaan” (Perelman, 2000. Bab 5). Secara praktek, ini dilakukan dengan membuat rakyat pekerja tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi sendiri kebutuhannya, dan dengan demikian menjadi tergantung pada ekonomi pasar.
Secara tradisional, proses akumulasi primitif pasti melibatkan persoalan penggunaan lahan. Agar akumulasi “normal” dapat berjalan, rakyat pekerja tidak boleh mempunyai akses bebas pada lahan. Harus diterapkan peraturan-peraturan yang keras tentang penggunaan lahan.
Proses lain yang tidak kalah penting dalam persoalan kelangkaan ini adalah bagaimana menciptakan kelaparan. Ya, benar, tidak salah. Kelaparan, bagi kapitalisme, adalah bak cemeti bagi para pemilik budak. Orang yang kelaparan akan bersedia melakukan apa saja untuk mengurangi rasa laparnya. Dengan menciptakan kelaparan, kapitalisme dapat mengendalikan rakyat pekerja untuk keperluan apapun.
Di masa lalu, ketika kapitalisme baru saja bangkit di Eropa, rakyat pekerja dicerabut dari kemampuannya bertahan secara subsiten dengan berbagai macam undang-undang yang secara umum dikenal sebagai UU Berburu (Game Law). Di berbagai negeri, undang-undang berburu ini membuat rakyat pekerja kehilangan tanahnya karena tanah tersebut dinyatakan sebagai milik raja atau milik tuan tanah. UU Berburu ini juga membuat rakyat pekerja kelaparan karena mereka tidak bisa lagi menambah pasokan bahan makanan mereka, dan hanya dapat mengandalkan hasil tanah mereka yang sungguh pas-pasan. UU ini terbukti ampuh untuk memaksa para petani meninggalkan tanahnya dan pergi memburuh ke kota-kota.
Di masa kini, ketika kapitalisme sudah menancapkan kuku dan relatif telah meresap ke segala sudut kehidupan manusia, kedua unsur pokok akumulasi primitif masih dijalankan. Di Indonesia sendiri, kita lihat betapa kapitalisme modern melakukan perampasan tanah di mana-mana. Di masa krisis ini, perampasan hak atas lahan juga dilakukan dalam bentuk berbagai penggusuran di kota-kota–baik besar maupun kecil.
Kalau membuat rakyat lapar? Jelaslah apa yang dilakukan pemerintah dengan terjadinya berbagai krisis pangan, pencabutan subsidi BBM, dll. Sekarang saja sudah banyak orang yang mengurangi makan, entah sebagai upaya yang sengaja dilakukan, ataupun terpaksa karena porsi makanan di kantin-kantin juga semakin kecil.
Mungkinkah orang kaya di Indonesia bertambah pesat justru ketika krisis?
Melihat cara kerja kapitalisme, di mana akumulasi “normal” dan “primitif” ternyata saling menggantikan, dan justru akumulasi primitif yang brutal justru dikedepankan di masa krisis, nampaknya wajar kalau jumlah orang kaya di Indonesia justru meningkat pesat ketika krisis. Memang masih diperlukan analisa lebih mendalam, tapi tinjauan pendahuluan ini telah menunjukkan betapa kelas penguasa modal Indonesia ternyata memang serius untuk memiskinkan rakyat Indonesia: mereka memilih menggunakan akumulasi primitif yang brutal demi menyelamatkan diri mereka sendiri dari krisis ekonomi.
Jakarta, 27 Juni 2008