<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>free_die</title>
	<atom:link href="http://desahan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://desahan.wordpress.com</link>
	<description>Mati itu gratis!  Mengapa hidup bayar?</description>
	<lastBuildDate>Sat, 20 Sep 2008 16:23:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='desahan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>free_die</title>
		<link>http://desahan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://desahan.wordpress.com/osd.xml" title="free_die" />
	<atom:link rel='hub' href='http://desahan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sejarah Gerakan Buruh Indonesia</title>
		<link>http://desahan.wordpress.com/2008/09/20/sejarah-gerakan-buruh-indonesia/</link>
		<comments>http://desahan.wordpress.com/2008/09/20/sejarah-gerakan-buruh-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Sep 2008 16:23:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>desahan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://desahan.wordpress.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar Pembuatan sebuah tulisan mengenai Sejarah Gerakan merupakan sebuah tugas besar yang luar biasa berat. Dinamika yang terjadi di dalam sebuah masyarakat selalu jauh lebih kompleks dan rumit daripada yang dapat diuraikan oleh satu atau beberapa orang penulis. Dalam tulisan ini penulis hanya berkeinginan untuk memaparkan pembabakan yang telah ditempuh oleh gerakan buruh Indonesia, situasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desahan.wordpress.com&amp;blog=4092156&amp;post=54&amp;subd=desahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright" title="?" src="http://www.geocities.com/semsar_siahaan/paintings/buruhbangunan.jpg" alt="" width="428" height="742" /><strong>Pengantar</strong></p>
<p>Pembuatan sebuah tulisan mengenai Sejarah Gerakan merupakan sebuah tugas besar yang luar biasa berat. Dinamika yang terjadi di dalam sebuah masyarakat selalu jauh lebih kompleks dan rumit daripada yang dapat diuraikan oleh satu atau beberapa orang penulis. Dalam tulisan ini penulis hanya berkeinginan untuk memaparkan pembabakan yang telah ditempuh oleh gerakan buruh Indonesia, situasi ekonomi-politik yang sedang berkembang, metode-metode yang dipakainya dalam tiap babak, dan akibat yang dirasakan oleh kaum buruh Indonesia dalam tiap babak pergerakan. Tentu saja, tidak semua orang akan sepakat dengan pembabakan yang dibuat di sini. Pembabakan ini semata ditujukan untuk membedakan keterorganisiran, unsur-unsur yang berfungsi sebagai tulang punggung gerakan dan manfaat/mudharat yang dirasakan kaum buruh Indonesia ketika babak tertentu berlangsung.</p>
<p class="MsoNormal">Diharapkan tulisan ini dapat membantu untuk membangkitkan ilham tentang bagaimana gerakan buruh harus dibangun untuk menghadapi tantangan dalam sebuah situasi tertentu yang berada di depan mata gerakan buruh.</p>
<p class="MsoNormal">Sumber data untuk tulisan ini adalah Edi Cahyono, Gerakan Serikat Buruh dari Masa Ke Masa: Kolonial Hindia Belanda sampai Orde Baru, Hasta Mitra, Jakarta, tanpa tahun.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Babak I: Masa Gerakan Tak Teroganisir</strong></p>
<p class="MsoNormal">Diterapkannya sistem Tanam Paksa oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Van den Bosch (1830-1870) adalah satu masa penting dalam sejarah gerakan buruh. Pada masa inilah para petani di Nusantara, utamanya di Jawa (sebagai pusat kekuasaan Hindia Belanda), mulai dihancurkan prikehidupannya sebagai petani dan diubah paksa menjadi buruh tani. Tentu saja, di bawah akumulasi primitif yang diterapkan dalam sistem tanam paksa, para buruh tani ini tidak memperoleh upah. Kondisi kerjanya lebih mirip corvee labor atau pekerja paksa. Para petani Jawa diperkenankan memiliki tanah, namun harus membayar pajak natura berupa keharusan untuk menyerahkan sebidang tanahnya untuk tanaman komersial yang laku di Eropa. Pilihan lain adalah menyerahkan 66 hari dalam setahun untuk bekerja pada perkebunan milik Gubernemen. Tepatlah jika istilah koeli dipakai pada jaman itu. Dalam masa ini, dimulailah proses di mana prikehidupan tani feudal mulai digantikan oleh sebuah prikehidupan di mana kerja tidak lagi dikaitkan dengan tanah milik, melainkan dengan sebuah lembaga pencetak profit—dalam hal ini pemerintah Hindia Belanda dan perusahaan-perusahaan perkebunan milik Kerajaan Belanda.</p>
<p class="MsoNormal">Era Liberal yang menyusul tahun-tahun Tanam Paksa menyebabkan tumbuh suburnya perkebunan swasta menggantikan perkebunan milik Kerajaan Belanda. Struktur pedesaan Jawa pun digerus oleh struktur industrial, sekalipun masih berupa industri ekstraktif. Perkebunan-perkebunan swasta pun dibuka di Sumatra, dengan sumber tenaga kerja para koeli kontrak—yang didatangkan dari Jawa atau Semenangjung Melayu. Kontrak-kontrak ini disertai ancaman poenale sanctie yang kejam.</p>
<p class="MsoNormal">Kondisi kerja yang demikian buruk memicu munculnya bentuk perlawanan yang khas sebuah gerakan buruh: pemogokan. Salah satu pemogokan pertama dalam sejarah Indonesia tercatat di tahun 1882 di Yogyakarta, di mana pada puncak gelombang pemogokan ini 21 pabrik gula terpaksa menghentikan produksinya karena pemogokan. Isu yang diangkat adalah 1) Upah; 2) kerja gugur-gunung yang terlalu berat; 3) kerja jaga 1 hari tiap 7 hari; 4) kerja moorgan yang tetap dijalankan padahal tidak lazim lagi; 5) upah tanam sering tidak dibayar; 6) banyak pekerjaan tidak dibayar padahal bukan kerja wajib; 7) harga yang dibayar pengawas terlalu murah dibandingkan harga pasar; 8) pengawas Belanda sering memukul petani. Apakah Anda merasa akrab dengan tuntutan-tuntutan ini?</p>
<p class="MsoNormal">Tiadanya pengorganisasian modern untuk mendukung pemogokan-pemogokan ini menyebabkan terjadinya kekalahan demi kekalahan di pihak kaum buruh. Para sejarawan juga enggan melakukan pencatatan terhadap pergerakan ini terutama karena tiadanya keteraturan dalam pemogokan-pemogokan tersebut.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Babak II: Terbentuknya Serikat-serikat Buruh</strong></p>
<p class="MsoNormal">Serikat-serikat buruh di Hindia Belanda mulai dibangun oleh buruh-buruh kulit putih. Perkembangan gerakan buruh di negeri Belanda sendiri membuat banyak buruh warga negara Belanda membentuk serikat buruh di negeri-negeri jajahan. Banyaknya buruh kulit putih di negeri jajahan ini juga bersangkutan dengan semakin berkembangnya industri, terutama industri perkebunan, yang kemudian menuntut dikembangkannya sarana transportasi yang menghubungkan lahan kebun, pabrik dan pasar-pasar, didirikannya sekolah-sekolah untuk mencetak tenaga perkebunan yang handal dari kalangan pribumi, maupun perluasan jajaran birokrasi yang diperlukan untuk mengatur perekonomian modern yang lebih kompleks tersebut.</p>
<p class="MsoNormal">Berturut-turut lahirlah Nederlandsch-Indisch Onderwijzer Genootschap (1897), Statspoor Bond (serikat kereta api negeri, 1905), Suikerbond (serikat buruh gula, 1906), Cultuurbond Vereeniging v. Asistenten in Deli (serikat pengawas perkebunan Deli, 1907), Vereeniging von Spoor en Tramweg Personeel in Ned-Indie (serikat buruh kereta api dan trem, 1908), dll.</p>
<p class="MsoNormal">Sekalipun pada awalnya serikat-serikat buruh ini dibangun oleh buruh-buruh kulit putih, namun semangat internasionalis dari gerakan buruh, yang saat itu sedang kuat di Eropa, meluber juga ke Hindia Belanda. Banyak serikat buruh yang tadinya eksklusif untuk kulit putih ini perlahan-lahan membuka pintu untuk bergabungnya buruh-buruh pribumi. Selain itu, persinggungan antara buruh-buruh pribumi dengan buruh-buruh kulit putih telah menularkan pula keinginan untuk membangun serikat buruh sendiri di kalangan pribumi.</p>
<p class="MsoNormal">Di antara serikat-serikat buruh yang dibangun oleh pribumi, layak disebut Perkoempoelan Boemipoetera Pabean (1911), Persatoean Goeroe Bantoe (1912) dan Personeel Fabriek Bond (1917). PFB adalah sebuah serikat buruh yang dibentuk oleh Soerjopranoto, yang kelak akan dikenal sebagai salah seorang “radja mogok” Hindia Belanda.</p>
<p class="MsoNormal">Dari beberapa serikat buruh yang dibentuk oleh buruh-buruh kulit putih, salah satu yang terpenting adalah VSTP. VSTP, yang didirikan 14 November 1908 di Semarang, dengan cepat menyerap buruh-buruh pribumi ke dalam jajarannya. Pada tahun 1914, buruh-buruh pribumi ini telah mendapat tempat dalam jajaran pimpinan tertinggi VSTP—di mana 3 dari 7 anggota pimpinan pusatnya adalah pribumi. Tahun 1915, VSTP telah menerbitkan sebuah koran dalam bahasa Melayu, bertajuk Si Tetap. Salah satu dari tiga orang pribumi yang terpilih dalam pimpinan pusat VSTP ini adalah seorang pemuda berusia 16 tahun bernama Semaoen. Semaoen adalah seorang organiser yang sangat giat dan, semenjak bergabung dengan VSTP di tahun 1914, sampai tahun 1920 dia telah mendirikan 93 cabang VSTP di Jawa dan Sumatera. Pada tahun 1923, anggota VSTP tercatat berjumlah 13.000 orang atau ¼ dari total buruh industri kereta api di Hindia Belanda.</p>
<p class="MsoNormal">Semaoen dan Soerjopranoto kemudian menyatukan kekuatan dan berdirilah PPKB (Persatoean Pergerakan Kaoem Boeroeh) di tahun 1919. Semaoen menjadi ketua sedang Soerjopranoto menjadi wakilnya. Sejak berdirinya PPKB ini dimulailah era pemogokan di mana kedua pimpinan PPKB ini lantas dikenal sebagai “si radja-radja mogok”. Pemogokan menjadi senjata utama PPKB menimbang metode perjuangan yang dipilihnya:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1cm;"><em>“PPKB akan memasakkan itu dengan 3 djalan yang ada, jaitu: ‘Berichtiar mendapat kuasa dalam pemerintahan negeri supaja negeri terperintah—oleh—rakyat—sendiri mengurus djalannya redjeki.’ (sosial demokratisch politiek), ‘mengeratkan kaum buruh dalam pekerdjaannya guna merobah nasibnja’ (vakstrijd), ‘mengadakan perdagangan oleh—dan—buat—rakjat (koperasi).”</em></p>
<p class="MsoNormal">Berhadapan dengan gelombang pemogokan yang terutama ditulangpunggungi oleh PFB dan VSTP, pemerintah Hindia Belanda awalnya berupaya mendorong terjadinya hubungan industrial yang harmonis lewat “Dewan Perdamaian untuk Spoor dan Tram di Djawa dan Madura”. Namun, karena keterlibatan banyak aktivis buruh dalam ISDV (Perhimpunan Sosial Demokrat Hindia) dan kedekatan dengan isu-isu hak menentukan nasib sendiri, pemerintah Kolonial lantas mengambil tindakan yang lebih keras. Ditetapkanlah UU Larangan Mogok (161 bis), UU Penghasutan dan Penghinaan pada Pemerintah (151 bis dan 151 TER)—UU Penghasutan dan Penghinaan ini di kemudian hari diadopsi oleh pemerintah Indonesia dalam KUHP dan dikenal sebagai “pasal-pasal karet.”</p>
<p class="MsoNormal">Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa gerakan buruh di seputar tahun 1920-an adalah gerakan teroganisir pertama di Indonesia yang menempatkan penggulingan kekuasaan kolonial sebagai salah satu tujuan perjuangannya. Apalagi,di tahun 1920, Semaoen telah memimpin peralihan ISDV menjadi Partai Komunis Hindia, lalu tujuh bulan kemudian menjadi Partai Komunis Indonesia—ini menjadikan PKI sebagai organisasi nasional pertama yang terang-terangan menggunakan kata “Indonesia”. Persoalan penggulingan kekuasaan kolonial inilah yang kemudian membuat pemerintah Kolonial bertindak keras. Para pimpinan buruh ditangkapi dan dibuang ke berbagai tempat. Semaoen sendiri dibuang ke Negeri Belanda.</p>
<p class="MsoNormal">Pasca penangkapan terhadap para pimpinan buruh ini, generasi berikutnya ternyata bersikap lebih keras terhadap pemerintahan kolonial. Mereka ini, terutama yang tergabung dalam PKI, menganjurkan dilakukannya pemberontakan terbuka oleh buruh untuk menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda. Rencana untuk memberontak ini direalisasikan di tahun 1926.</p>
<p class="MsoNormal">Tidak banyak yang diketahui mengenai rencana pemberontakan ini. Berbagai keterangan menggambarkan pemberontakan ini secara simpang-siur. Jika memoar Hatta dapat dipercaya, rencana ini sesungguhnya adalah sebuah rencana setengah matang, yang tidak dikoordinasikan dengan baik, tidak melibatkan front perjuangan yang luas dan dilancarkan secara prematur. Apapun yang sesungguhnya terjadi, pemberontakan 1926 ini adalah pemberontakan buruh yang sejati, yang direncanakan dan dilaksanakan sendiri oleh kaum buruh. Pemberontakan ini adalah juga pemberontakan pertama yang dilancarkan secara terbuka untuk tujuan menggulingkan pemerintah kolonial Belanda.</p>
<p class="MsoNormal">Pemberontakan yang gagal ini merugikan gerakan buruh. Tercatat 4500 orang pimpinan gerakan buruh dijebloskan ke penjara dan 1300 lainnya dibuang ke Boeven Digul (di Papua Barat sekarang). Praktis, gerakan buruh kehilangan sebagian besar pimpinannya, yang sudah terlatih membangun gerakan buruh selama belasan tahun.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Babak III: Konservatisme Gerakan Buruh</strong></p>
<p class="MsoNormal">Kekalahan Pemberontakan 1926 melucuti gerakan buruh dari pimpinan-pimpinannya yang radikal dan berwatak revolusioner. Yang tersisa adalah para pimpinan yang konservatif, yang berwatak pasifis dan condong kepada ideologi keserasian antara buruh dan kapitalis.</p>
<p class="MsoNormal">Salah satu bentuknya muncul dalam gagasan Dr. Soetomo, yang mengajukan bahwa buruh harus memisahkan dirinya dari partai politik, harus juga memusatkan perhatian pada upaya-upaya memperbaiki nasib dan tidak bersentuhan dengan aksi-aksi politis. Soetomo mendukung berdirinya Persatoean Serikat Sekerdja Indonesia di Surabaya, tahun 1930. Dia juga mendukung adanya asas tunggal untuk serikat-serikat sekerja semacam itu.</p>
<p class="MsoNormal">Ide ini menyebar luas di kalangan gerakan buruh. Di tahun 1941, menjelang masuknya Jepang ke Indonesia, berdirilah Gabungan Serikat-serikat Sekerdja Partikelir Indonesia (GASPI) yang berideologi semangat damai dalam perusahaan dan “pemegang modal dan pemegang buruh adalah sama harga, karena sama arti.”</p>
<p class="MsoNormal">Pada tahun itu juga Jepang masuk ke Indonesia, dan semua gerakan politik di Indonesia (termasuk gerakan buruh) dibungkam total oleh pemerintahan Fasis Jepang dan terpaksa bergerak di bawah tanah.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Babak IV: Buruh Berpolitik</strong></p>
<p class="MsoNormal">Selepas penjajahan Jepang, gerakan buruh menggeliat bangkit dari kehidupan bawah tanahnya. Tidak sampai sebulan setelah Proklamasi Agustus 1945, didirikanlah Barisan Buruh Indonesia (BBI). Pada gilirannya, BBI melahirkan pula Partai Buruh, Lasjkar Buruh Indonesia sebagai sayap bersenjata, dan Barisan Buruh Wanita (BBW) sebagai sayap perempuan dari gerakan buruh. Di tahun 1946, BBI berubah nama menjadi Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GASBI). Tahun itu juga, GASBI bergabung dengan Gabungan Serikat Buruh Vertikal (GSBV) membentuk SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia).</p>
<p class="MsoNormal">Keterlibatan SOBSI dalam Proklamasi Madiun (1948), dan represi yang menyusulnya, menyebabkan gerakan buruh agak terseok-seok selama beberapa lama. Namun, di tahun 1950, ketika Soekarno memutuskan untuk mengundang unsur-unsur progresif dalam pembentukan kabinetnya, SOBSI telah kembali berdiri dan semakin menguat dalam dasawarsa tersebut. Pada dasawarsa tersebut, SOBSI adalah serikat buruh terbesar dan terkuat di Indonesia, dengan 2,5 juta anggota dan 34 serikat buruh anggota.</p>
<p class="MsoNormal">Selain SOBSI, ada dua lagi serikat buruh beraliran progresif yang patut disebut. Yang pertama adalah GASBRI (Gabungan Serikat Buruh Revolusioner Indonesia) yang dekat dengan Partai Murba. Partai Murba sendiri adalah hasil pengembangan dari sekelompok orang yang di tahun 1946 memisahkan diri dari SOBSI. Dalam kongresnya tahun 1951, GASBRI berubah nama menjadi SOBRI (Sentral Organisasi Buruh Revolusioner Indonesia).</p>
<p class="MsoNormal">Yang kedua adalah SARBUPRI (Sarekat Buruh Perkebunan Republik Indonesia) yang didirikan tahun 1947. SARBUPRI memiliki kedekatan dengan SOBSI dan ormas-ormas lain yang juga dekat dengan PKI.</p>
<p class="MsoNormal">Ketiga serikat buruh ini kerap mengadakan pemogokan besar yang berujung pada kemenangan bagi buruh. Statistik menunjukkan bahwa antara tahun 1921-1955 terjadi 11.763 pemogokan yang melibatkan 918.739 buruh. Aksi-aksi nasionalisasi yang dilancarkan oleh serikat-serikat ini menghasilkan kemenangan besar di mana-mana, sekalipun kemudian kemenangan ini tidak banyak mereka nikmati—malah banyak perusahaan Belanda yang berhasil dinasionalisasi kemudian malah diambil-alih oleh Angkatan Darat. Tuntutan untuk dilibatkan dalam proses produksi juga berhasil dimenangkan. Presiden Soekarno mendukung program ini dan memerintahkan membentuk Dewan Perusahaan di tahun 1960, di mana buruh berkedudukan dalam Dewan Pertimbangan.</p>
<p class="MsoNormal">Kehadiran tiga serikat buruh besar yang beraliran progresif ini menyebabkan partai-partai politik lainnya juga berusaha untuk membangun serikat buruhnya sendiri. PNI membangun Kesatuan Buruh Marhaen (KBM, berdiri 1952), NU membentuk Sarekat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi, berdiri 1956), PSII membentuk GOBSI di tahun 1959, orang-orang Katolik membangun Ikatan Buruh Pantjasila dan Masjumi mendirikan Serikat Buruh Islam Indonesia (SBII). SBII inilah yang kelak memainkan peranan penting dalam mengubah wajah gerakan serikat buruh, terutama memasuki era Orde Baru.</p>
<p class="MsoNormal">SBII menganut ideologi harmoni. Bagi mereka, jangan sampai ada permusuhan antara buruh dengan majikan. Jadi, apabila ada perselisihan perburuhan, SBII akan mengusahakan bantuan materiil pada buruh yang menjadi korban, baik berupa uang ataupun bentuk lainnya. Ini supaya lambat-laun akan terjadi perdamaian dan harmoni di setiap pusat-pusat buruh.</p>
<p class="MsoNormal">Pada tahun 1959, SBII terkena dampak dari pembubaran Masjumi atas perintah Soekarno—dengan alasan keterlibatan Masjumi dalam pemberontakan PRRI-Permesta. SBII kemudian bergabung dengan Gabungan Serikat Buruh Islam Indonesia (Gasbiindo). Jusuf Wibisono, salah satu pendiri Gasbiindo, menelurkan konsep Bahaya Merah di Indonesia. Untuk membendung “Bahaya Merah” ini, Wibisono kemudian bekerja sama dengan Angkatan Darat membangun Badan Kerdjasama Buruh-Militer (BKS BuMil) dan menjadi salah satu pendukung utamanya.</p>
<p class="MsoNormal">Angkatan Darat juga mensponsori pembentukan SOKSI (Sentral Organisasi Karyawan Seluruh Indonesia) di tahun 1961. Para perwira Angkatan Darat yang terlibat dalam PRRI-Permesta, seperti Zulkifli Lubis dan Sumual, ditempatkan sebagai pimpinan SOKSI. Ketua SOKSI, Jenderal Suhardiman, juga merangkap sebagai Presiden Direktur dari PT. PP Berdikari.</p>
<p class="MsoNormal">Berhadapan dengan kebangkitan dan penguatan serikat-serikat buruh yang berorientasi pada ideologi “harmoni”, yang dekat dengan tentara dan yang jelas-jelas dipimpin oleh militer-pengusaha ini, serikat-serikat buruh beraliran progresif malah mengalami berbagai kemunduran. Tentu saja jumlah anggota mereka meningkat. SOBSI saja tercatat memiliki 3,3 juta anggota di tahun 1960-an, belum kedua serikat buruh progresif lainnya. Namun, di antara mereka sendiri sulit untuk bekerja sama. Perasaan saling curiga, yang sebagian di antaranya didorong oleh pertikaian di kalangan gerakan progresif internasional, menghambat kerjasama efektif antara SOBSI dan SARBUPRI dengan SOBRI. Di samping itu, ruang politik yang terbuka lebar, di antaranya adalah partisipasi dalam penyusunan UU Perburuhan no 22/57 dan 12/64, menyebabkan ketiga serikat buruh progresif ini menurunkan aktivitasnya di basis. Antara tahun 1955-59 hanya terjadi 631 kali pemogokan yang diikuti 441.900 orang buruh. Terjadi penurunan perlawanan nyaris sampai setengah dari apa yang kita lihat pada tahun-tahun sebelumnya.</p>
<p class="MsoNormal">Jadi, ketika badai datang di pertengahan dasawarsa 1960-an, gerakan buruh progresif tidak siap untuk menghadangnya.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Babak V: Pembungkaman Gerakan Buruh</strong></p>
<p class="MsoNormal">Peristiwa kelam yang terjadi di tahun 1965 membalikkan keadaan secara drastis. Tuduhan yang dilontarkan Angkatan Darat bahwa PKI mendalangi peristiwa penculikan jenderal-jenderal, dan pembantaian aktivis gerakan rakyat yang terjadi sesudahnya, praktis menghancurkan struktur dan sendi-sendi kekuatan gerakan buruh progresif.</p>
<p class="MsoNormal">Orde Baru bergerak cepat merekonstruksi perekonomian Indonesia sementara para aktivis buruh progresif tengah meregang nyawa di tangan para pembunuh yang sampai sekarang tidak pernah diadili. Orde Baru membuka pintu lebar-lebar kepada perusahaan-perusahaan asing. Soeharto juga membuka pintu bagi mengalirnya pinjaman luar negeri untuk berbagai proyek yang kemudian dikelola oleh mitra-mitra dan kerabat dekatnya.</p>
<p class="MsoNormal">Dengan bantuan Frederich Ebert Stiftung, sebuah yayasan milik Partai Sosial Demokrat Jerman yang pro pasar bebas, pemerintahan militer ini juga merekonstruksi gerakan buruh. Melalui sebuah seminar yang disponsori FES di tahun 1971, disusunlah konsep baru serikat buruh Indonesia yang akan didukung oleh Orde Baru:</p>
<p class="MsoNormal">1.      Gerakan Buruh harus sama sekali lepas dari kekuatan politik manapun;</p>
<p class="MsoNormal">2.      Keuangan organisasi tidak boleh tergantung dari pihak luar;</p>
<p class="MsoNormal">3.      Kegiatan serikat buruh dititikberatkan pada soal-soal sosial ekonomis;</p>
<p class="MsoNormal">4.      Penataan ulang serikat-serikat buruh yang mengarah pada penyatuan;</p>
<p class="MsoNormal">5.      Perombakan pada struktur keserikatburuhan, mengarah pada serikat sekerja untuk masing-masing lapangan pekerjaan.</p>
<p class="MsoNormal">Setidaknya, itulah prinsip yang dicanangkan secara teoritik. Kenyataannya, rekonstruksi serikat buruh dilaksanakan dalam bentuk FBSI (Federasi Buruh Seluruh Indonesia) yang diketuai Agus Sudono, mantan ketua Gasbiindo, dan sekjennya adalah Suwarto, seorang mantan perwira Opsus (Operasi Khusus, pendahulu Kopkamtib). Di bawah komando dua orang petinggi Golkar ini, serikat buruh memang dilepaskan dari kekuatan politik manapun—dan jatuh ke dalam cengkeraman Golkar. Jajaran pengurus FBSI selalu diambil dari kader-kader Golkar.</p>
<p class="MsoNormal">Sejak awal, jelas bahwa FBSI ditujukan untuk memberangus buruh dan menutup dunia politik bagi buruh. Ideologi yang dikenakan oleh FBSI adalah ideologi harmoni, yakni antara buruh dan pengusaha harus ada ketenangan, tidak boleh ada konflik. Para pengurus teras FBSI juga selalu merupakan tokoh-tokoh yang dekat atau tergabung dalam Golkar. Dengan komposisi kepengurusan semacam ini, FBSI juga berfungsi sebagai pendulang suara bagi Golkar dalam tiap pemilu, mirip dengan “organisasi-organisasi profesi” lainnya seperti HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) maupun HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia).</p>
<p class="MsoNormal">Walau demikian, FBSI tetap tidak dapat sepenuhnya mengendalikan perselisihan perburuhan. Terlebih sejak Soeharto mengeluarkan Keputusan 15 Nopember 1978 (KNOP 15) yang mendevaluasi nilai rupiah terhadap dolar, dari Rp 415 per dolar menjadi Rp 625 per dolar. Devaluasi ini melambungkan harga-harga kebutuhan pokok—dan mereka yang upahnya tetap, seperti buruh, adalah yang paling terpukul oleh keadaan ini. Perlawanan buruh berlangsung di mana-mana.</p>
<p class="MsoNormal">Di tahun 1985, FBSI diganti menjadi SPSI, keadaan menjadi bertambah parah karena SPSI dijadikan sebuah “wadah tunggal”—sebuah penghalusan istilah bagi dijalankannya sistem korporatisme negara oleh Orde Baru. Untuk memperhalus kenyataan bahwa pemberangusan gerakan buruh dilakukan secara lebih sistematis, Soeharto menunjuk Cosmas Batubara, seorang mantan aktivis ’66, menjadi Menteri Tenaga Kerja. Cosmas memperkenalkan konsep Upah Minimum dan Jamsostek sebagai sogokan bagi buruh yang sekarang tidak lagi memiliki kebebasan untuk berorganisasi.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Babak VI: Kebangkitan Kembali Gerakan Buruh Progresif</strong></p>
<p class="MsoNormal">Biar bagaimanapun rejim Orde Baru berusaha—dengan segala represi, siksaan dan terornya—gelombang perlawanan buruh tetap tidak dapat diredam. Bahkan SPSI, yang dirancang sebagai satu alat yang secara sistematik akan menghabisi aspirasi politik buruh, ternyata kemudian dipakai oleh banyak buruh sebagai alat perlawanan. Kita tahu, Marsinah gugur di tahun 1993 ketika memperjuangkan pembentukan SPSI di pabriknya, di Sidoarjo.</p>
<p class="MsoNormal">Kegagalan SPSI untuk berfungsi sebagai serikat buruh yang memperjuangkan nasib buruh ketika berhadapan dengan kerakusan pengusaha ini menyebabkan mulai bertumbuhnya serikat-serikat buruh alternatif. Beberapa yang patut disebut adalah SBSI (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia), SBMSK (Serikat Buruh Merdeka Setia Kawan) dan PPBI (Pusat Perjuangan Buruh Indonesia).</p>
<p class="MsoNormal">Perjuangan panjang gerakan buruh Indonesia akhirnya mendapatkan titik-terangnya ketika Soeharto dipaksa turun dari singgasananya. Sekalipun reformasi, yang menyusul lengsernya penguasa Orde Baru itu, tidaklah memberi buah seperti yang diimpikan sebelumnya, reformasi ini tetaplah memberi ruang bagi bertumbuhnya gerakan buruh baru yang lebih segar dan bersemangat. Banyak serikat-serikat independen (baca: berdiri di luar serikat buruh yang bersangkutan dengan SPSI) berdiri di mana-mana. Serikat-serikat yang tadinya dipaksa bergabung dengan SPSI-pun satu-persatu mulai melepaskan diri dari tubuh induknya. Aksi-aksi pemogokan dan demonstrasi buruh besar-besaran mulai menjadi bagian dari berita sehari-hari di media massa.</p>
<p class="MsoNormal">Salah satu bukti kebugaran gerakan buruh progresif kontemporer ini adalah kemampuannya untuk selama tiga tahun berturut-turut menyelenggarakan Mayday, yang terpimpin oleh ABM, dan diikuti puluhan (mungkin malah ratusan) ribu buruh di seluruh Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Penutup</strong></p>
<p class="MsoNormal">Sepanjang sejarahnya, gerakan buruh telah mengalami pasang-surut yang tiada hentinya. Setiap kali gerakan buruh mengalami pasang, itu pasti karena pengorganisiran yang militan di basis-basis, dan disertai dengan semangat berpolitik. Dan setiap kali gerakan buruh mengalami pukulan balik, itu niscaya disebabkan oleh ketergesa-gesaan, oleh mengendurnya militansi di basis-basis atau oleh keterlenaan akibat politik parlementarisme.</p>
<p class="MsoNormal">Gerakan buruh berlandaskan pada kolektivisme, pada pengorganisiran, pada propaganda yang sabar dan pendidikan yang tidak kenal menyerah, dan penggabungan antara perlawanan sosial-ekonomi dengan perlawanan politik untuk berkuasa. Jika gerakan buruh mengingat ini, dan konsisten melaksanakannya, dia akan kuat dan bugar. Tapi, jika dilupakan, maka gerakan buruh akan letih-lesu, dan akan tercengkeram oleh politiknya kaum pemodal.</p>
<p class="MsoNormal">Sumber, <a href="http://www.prp-indonesia.org" target="_blank">Perhimpunan Rakyat Pekerja</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/desahan.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/desahan.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/desahan.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/desahan.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/desahan.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/desahan.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/desahan.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/desahan.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/desahan.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/desahan.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/desahan.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/desahan.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/desahan.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/desahan.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desahan.wordpress.com&amp;blog=4092156&amp;post=54&amp;subd=desahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://desahan.wordpress.com/2008/09/20/sejarah-gerakan-buruh-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/144885257042ca3addf1cb87d9d99561?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Ucok</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.geocities.com/semsar_siahaan/paintings/buruhbangunan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">?</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dijajah oleh Bangsa Sendiri</title>
		<link>http://desahan.wordpress.com/2008/09/20/dijajah-oleh-bangsa-sendiri/</link>
		<comments>http://desahan.wordpress.com/2008/09/20/dijajah-oleh-bangsa-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Sep 2008 16:17:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>desahan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://desahan.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Berita-berita tentang kasus suap yang dilakukan oleh wakil rakyat kian hari kian ramai saja diberitakan, bukan seribu atau dua ribu rupiah uang yang mereka gunakan untuk kepentingan pribadi melainkan ratusan juta rupiah bahkan hingga trilyunan rupiah. Sungguh sangat ironis sekali di tengah kemiskinan dan lapangan kerja yang tidak memadai untuk rakyat, malah para wakil-wakil itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desahan.wordpress.com&amp;blog=4092156&amp;post=52&amp;subd=desahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;"> </span><img class="alignleft" title="?" src="http://musakazhim.files.wordpress.com/2008/01/broken-mirror.jpg?w=305&#038;h=224" alt="" width="305" height="224" /><span style="font-size:10pt;font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;">Berita-berita tentang kasus suap yang dilakukan oleh wakil rakyat kian hari kian ramai saja diberitakan, bukan seribu atau dua ribu rupiah uang yang mereka gunakan untuk kepentingan pribadi melainkan ratusan juta rupiah bahkan hingga trilyunan rupiah. Sungguh sangat ironis sekali di tengah kemiskinan dan lapangan kerja yang tidak memadai untuk rakyat, malah para wakil-wakil itu bersenang-senang dengan limpahan uang yang diambil dari uang rakyat. Memang bukan suatu hal yang baru bagi kita ketika mendengar kasus korupsi yang merajalela di lingkungan pemerintahan, namun mengapa dari sekian kasus itu masih saja belum terselesaikan. Padahal uang yang mereka ambil jumlahnya sangat banyak. Berbeda dengan rakyat biasa yang melakukan pencurian atau penjambretan, hukumannya bisa langsung di tempat dilakukan oleh warga sekitar mulai dari dikeroyok hingga dipukuli bersama-sama, lalu dilanjutkan di kantor polisi.</span></p>
<table class="contentpaneopen" border="0">
<tbody>
<tr>
<td colspan="2" valign="top"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p {mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman","serif"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!  /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} --> <!--[endif]--></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;">Apakah benar hukum di negara kita ini sudah ditegakkan? Sebuah pertanyaan yang bisa kita jawab sendiri ketika melihat kondisi objektif di lapangan, hukum akan sangat menyakitkan bagi rakyat tapi tidak bagi para koruptor-koruptor itu. Hukum akan sangat tajam menusuk ke bawah tapi tumpul ke atas. Di Indonesia ini hukum seakan tunduk kepada para penguasa, hukum bisa diperjualbelikan bagi mereka yang beruang. Yang lebih memalukannya adalah di tingkat lembaga yang konon katanya sebagai penegak hukum (kejaksaan) ternyata terlibat pula tindakan korupsi itu. Tidak ada hukuman yang bisa membuat jera para pelaku koruptor itu, walaupun diberikan jatuhan hukuman penjara, tapi fasilitas di dalam penjara bisa sangat dibuat seperti rumah sendiri dengan dilengkapi berbagai perabot rumah tangga. Seperti kasus Edi Tansil yang dahulu pernah mewarnai layar kaca dengan berbagai berita korupsi yang dilakukannya, yang akhirnya dapat meloloskan diri dari penjara dan entah ke mana perginya dan disebutkan telah merugikan negara. Namun apa yang dilakukan negara? Tidak ada.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;">Pemerintahan Negara Indonesia ini seperti mainan saja, dan pantasnya para pejabat-pejabat tersebut bisa diberikan label menjual rakyat demi keuntungan mereka sendiri. Mereka dengan semangatnya menjual rakyat Indonesia hanya untuk isi perutnya sendiri. Rela menggadaikan harga diri dan kehormatan bangsa. Bukan satu atau dua produk hukum yang menjadi pesanan kaum kapitalis, dan yang dijadikan korban adalah rakyat. Seperti undang-undang ketenagakerjaan, migas, pendidikan. Sangat jelas sekali tidak ada keberpihakan pemerintah terhadap rakyat. Pemerintah membiarkan begitu saja perang antara buruh dan majikan, dan lagi-lagi pemerintah mudah untuk disuap dalam berbagai kasus tentang ketenagakerjaan dan kontrol terhadap pelaksaan hak normatif pun sangat lemah. Seperti yang kita ketahui bahwa undang-undang ketenagakerjaan ini merupakan pesanan kaum kapitalis pula. Selain itupun sekarang ini kita bisa melihat indikasi pemerintah untuk mulai memprivatisasikan aset-aset negara, dan tentunya pemerintah akan mendapatkan fee atas proses privatisasi tersebut. Ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola aset-aset negara ini semakin mempertegas bahwa pemerintah memang tidak bisa mengatur kebutuhan prioritas untuk rakyat, kebutuhan yang sangat penting dan menyangkut hajat hidup orang banyak. Pemerintahpun sekarang sudah mulai untuk menyimpang dari UUD 1945 tentang pengelolaan aset-aset negara. Dan seharusnya pemerintah mendapatkan hukuman atas pelanggaran tersebut. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;">Namun karena lagi-lagi di dalam pemerintahan itu sendiri tempat berkumpulnya kaum-kaum borjuis yang dengan menghalalkan segala caranya untuk dapat komisi, tanpa adanya kontrol dari rakyat. Kalau bisa kita sebut, pemerintah adalah maling terbesar yang menguras kekayaan alam dan mengeksploitasi rakyat habis-habisan. Ketika rakyat sudah bangkit, kritis, dan berani melawan, aparatlah yang dijadikan alat untuk menghadapi rakyat. Namun sesungguhnya aparat itu tidak lebih dari kacung yang hanya bisa disuruh ini-itu, dan dalam keadaan yang seperti ini tidak ada lagi yang namanya hati nurani yang dipakai. Akan menjadi apakah rakyat Indonesia jika semua produk hukum bisa dibuat karena kekuatan uang? </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;">Para pejabat-pejabat pemerintahan itu tidak pernah memikirkan akan makan apa hari ini dan besok karena semua sudah tersedia. Tidak pernah mereka memikirkan untuk antrian minyak tanah yang datang sekali dalam 2 minggu, dan kita dituntut untuk membeli minyak untuk stok 2 minggu ke depan. Tidak pernah pula mereka memikirkan bagaimana kalau ada warga yang tidak kebagian minyak tanah dalam antrian itu dan tidak bisa memasak untuk makan sehari-hari, padahal untuk beli di warung nasi tentunya akan mengeluarkan dana yang lebih besar lagi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;">Dengan kondisi seperti itu, para wakil rakyat yang dipilih melalui pemilihan legislatif dan dengan penuh rasa kebanggaan masuk melenggang ke kursi DPR tidak dapat dengan sebenarnya menjadi wakil rakyat, malah justru di tangan mereka rakyat menjadi lebih sengsara dengan diluluskannya berbagai produk hukum yang tidak merakyat. Karena ulah mereka pula yang dengan sangat mudahnya menerima dana-dana liar hanya untuk segera menyelesaikan sebuah undang-undang tanpa berpikir lebih panjang untuk kemashlahatan bangsa.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;">Sudah banyak hal ditemui bahwa tindakan-tindakan yang dilakukan pemerintah bukan untuk mensejahterakan rakyatnya, tetapi justru sebaliknya semakin membuat rakyat terpuruk, semakin membuat rakyat tertindas, semakin membuat rakyat menjadi bodoh dengan biaya pendidikan yang sangat mahal. Biaya pendidikan yang mahal dan bagus hanya dapat dijangkau oleh orang-orang yang mempunyai kelebihan uang. Kalaupun kita bisa mengeyam pendidikan, itu pastilah dengan perjuangan yang sangat berat, mulai dari nyambi-nyambi kerja sambil sekolah ditambah dengan puasa Senin-Kamis. Kondisi seperti itu sangat dekat dengan keseharian kita, bahkan untuk jadi pengemis pun sekarang sudah dijadikan sebagai profesi yang menghasilkan uang cukup lumayan. Bahkan bisa lebih besar dari upah buruh sehari.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;">Pesta demokrasi yang sebentar lagi akan dilaksanakan sesungguhnya bukanlah pesta demokrasi untuk rakyat, tetapi pesta demokrasi yang menghantarkan orang untuk menjadi koruptor-koruptor baru. Masihkah kita ingin tetap memuluskan para calon koruptor-koruptor baru itu menduduki kursi pemerintahan? Karena mereka yang masuk dalam kompetisi pemilu cukup banyak mengeluarkan uang, yang sejatinya itu adalah uang yang berasal dari rakyat yang hanya dipergunakan untuk foya-foya oleh pemerintah, bukan untuk dialokasikan pada kepentingan rakyat. Cukup sudah rakyat hanya dijadikan pelumas untuk lebih memperlancar jalan jika hanya disalahgunakan, jika hanya untuk mengejar rupiah di bangku pemerintahan. Bukan seorang pemimpin yang dekat dengan rakyat, tapi seorang pemimpin haruslah dari rakyat, bukan dari kaum-kaum kapitalis yang memanfaatkan rakyat untuk kepentingan pribadi dengan menghalalkan segala cara. Karena walaupun mereka dekat dengan rakyat, tapi hanya menonton dan dijadikan bahan “jualan” saja. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;">Rakyat sesungguhnya belumlah merasakan sebuah kemerdekaan, hingga kita memperingati kemerdekan yang ke-63, rakyat Indonesia kini justru dijajah oleh pemerintahnya sendiri, dikorbankan oleh pemerintah yang tidak pernah punya mental yang kuat untuk melindungi dan mensejahterakan rakyatnya. Karena Pemerintahan Indonesia saat ini adalah sebuah pemerintahan boneka yang tunduk akan kepentingan pemodal.</span></p>
<p>Sumber, buletin sadar</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/desahan.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/desahan.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/desahan.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/desahan.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/desahan.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/desahan.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/desahan.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/desahan.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/desahan.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/desahan.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/desahan.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/desahan.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/desahan.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/desahan.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desahan.wordpress.com&amp;blog=4092156&amp;post=52&amp;subd=desahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://desahan.wordpress.com/2008/09/20/dijajah-oleh-bangsa-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/144885257042ca3addf1cb87d9d99561?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Ucok</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://musakazhim.files.wordpress.com/2008/01/broken-mirror.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">?</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Saatnya Mengubah Cara Pembagian Zakat atau Sedekah</title>
		<link>http://desahan.wordpress.com/2008/09/20/saatnya-mengubah-cara-pembagian-zakat-atau-sedekah/</link>
		<comments>http://desahan.wordpress.com/2008/09/20/saatnya-mengubah-cara-pembagian-zakat-atau-sedekah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Sep 2008 16:07:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>desahan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://desahan.wordpress.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Ini sebuah tragedi yang sejatinya tak perlu terjadi. Sebagaimana diberitakan, 21 orang orang tewas dan 16 lainnya luka-lika tatkala mengantri pembagian zakat yang dilakukan H. Syaichon, di Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo Kota Pasuruan, Jawa Timur, Senin (15/9) siang. Cara berbagi zakat atau sedekah dengan cara mengundang kaum fakir miskin memang kadung marak dilakukan. Tidak hanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desahan.wordpress.com&amp;blog=4092156&amp;post=49&amp;subd=desahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table style="background-color:#f5f5f5;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td style="padding-right:5px;padding-top:5px;"><img src="http://apps.berpolitik.com/data/buzz/berpolitik/files/images/ori_16443.JPG" border="0" alt="" hspace="0" vspace="0" align="left" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Ini sebuah tragedi yang sejatinya tak perlu terjadi. Sebagaimana diberitakan, 21 orang orang tewas dan 16 lainnya luka-lika tatkala mengantri pembagian zakat yang dilakukan H. Syaichon, di Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo Kota Pasuruan, Jawa Timur, Senin (15/9) siang.</p>
<p>Cara berbagi zakat atau sedekah dengan cara mengundang kaum fakir miskin memang kadung marak dilakukan. Tidak hanya oleh individu muslim, tetapi juga organisasi sosial dan keagamaan lain. Dan, dalam setiap pembagian, kasus-kasus penerima zakat/sedakah yang pingsan bukan pula satu &#8211; dua kali lagi terjadi, sebenarnya.</p>
<p>Tak heran jika kaum muslim kembali diingatkan agar menyalurkan zakatnya melalui badan zakat yang amanah dan profesional.&#8221;Padahal petunjuk Al-Quran dan surat At Taubah ayat 60 dan 103 dan beberapa hadits nabi memberi petunjuk agar zakat tersebut disalurkan melalui amil zakat yang amanah dan profesional,&#8221; ujar Ketua Umum Baznas Didin Hafidhudin sebagaimana dikutip detik.com.</p>
<p>Tapi,memang, sebagaimana disebut Menag Maftuh Basyuni, ada sebagian dari umat Islam yang kurang mempercayai lembaga penyalur zakat yang sudah ada. Kita tak tahu, mengapa ketidakpercayaan itu bisa berkembang.</p>
<p>Ajakan untuk menyalurkan zakat atau sedakah melalui amil zakat atau badan profesional yang sudah ada semakin sulit ddilakukan jika yang memberi adalah lembaga sosial atau keagamaan yang non-Islam. Mereka biasanya berbagi sembako dengan semangat tolong-menolong dan kadung menjadi bagian dari program organisasi sehingga sulit jika sedakah itu diserahkan ke amil yang profesional.</p>
<p>Toh, begitu, ada kritik terhadap perilaku warga penerima sedakah dan atau zakat. &#8220;Kadang-kadang kita sebagai warga, tidak disiplin. Tidak mau nunggu, tidak mau antre,&#8221; kata Muhaimin Iskandar, Ketum PKB di Gedung DPR(15/9).</p>
<p>Dalam kaitan ini, ada usul yang menarik dilontarkan Kapolri Jenderal Sutanto yang sebentar lagi lengser itu. &#8220;Kita harapkan kalau warga ingin zakat, sodakoh mungkin tidak dengan cara seperti itu. Tapi lebih bagus mendatangi ke warga-warga yang mau diberikan sumbangan,&#8221; kata Kapolri Jenderal Pol Sutanto usai bertemu dengan Presiden Yudhoyono di Kantor Presiden (15/9).</p>
<p>Dalam sebuah kotbah Jumat sepekan pekan menjelang Ramadahan di sebuah mesjid di bilangan Kuningan,Jakarta, penceramah juga mengutarakan hal yang sama. Menurut dia, itulah yang dilakukan Rasullah. Karena itu, kata dia lagi, sudah sepantasnya cara-cara pembagian zakat atau sekadah dengan cara mengumpulkan para fakir miskin di sebuah tempat mulai ditinggalkan.</p>
<p>Bagi pemberi zakat atau sekadah, ini memang cara yang menyulitkan. Dan, sebagai alternatifnya, dia bisa menyalurkannya ke lembaga amil zakat yang profesional dan terpercaya.</p>
<p>Tapi, barangkali, ada hal-hal yang tak &#8220;tercapai&#8221; jika begitulah cara berbagi zakat dan atau sedekah yang dilakukan.</p>
<p>Dalam hal ini, ada baiknya juga pemerintah juga mengevaluasi pembagian dana BLT yang mengharuskan para penerimanya antre berjam-jam di kantor pos terdekat. Barangkali lebih indah jika ada disalurkan langsung ke rumah-rumah yang berhak sehingga ketahuan pula kelayakan sang penerima BLT.</p>
<p>sumber, <a href="http://www.berpolitik.com/apakataanda.pl?n_id=16443&amp;c_id=7&amp;param=Z9pNQTG5xcnx5jxTvhWj" target="_blank">berpolitik.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/desahan.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/desahan.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/desahan.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/desahan.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/desahan.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/desahan.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/desahan.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/desahan.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/desahan.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/desahan.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/desahan.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/desahan.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/desahan.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/desahan.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desahan.wordpress.com&amp;blog=4092156&amp;post=49&amp;subd=desahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://desahan.wordpress.com/2008/09/20/saatnya-mengubah-cara-pembagian-zakat-atau-sedekah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/144885257042ca3addf1cb87d9d99561?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Ucok</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://apps.berpolitik.com/data/buzz/berpolitik/files/images/ori_16443.JPG" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>FAKTA-FAKTA KELAPARAN</title>
		<link>http://desahan.wordpress.com/2008/08/28/fakta-fakta-kelaparan/</link>
		<comments>http://desahan.wordpress.com/2008/08/28/fakta-fakta-kelaparan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Aug 2008 15:49:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>desahan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://desahan.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[1. Tiap hari kurang-lebih 24.000 orang meninggal karena lapar atau hal-hal yang berkenaan dengan kelaparan. Angka ini telah menurun kalau dibandingkan dengan sepuluh tahun yang lalu yang berkisar sekitar 35.000 dan 45.000 untuk duapuluh tahun yang lalu. Tiga perempat dari angka-angka kematian ini adalah anak-anak berumur dibawah lima tahun. 2. Kini, 10% dari anak-anak di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desahan.wordpress.com&amp;blog=4092156&amp;post=34&amp;subd=desahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.eramuslim.com/fckfiles/Image/pic4(192).jpg"><img class="alignleft" src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/Image/pic4(192).jpg" alt="" width="546" height="428" /></a><span style="font-family:Arial;">1. Tiap hari kurang-lebih       24.000 orang meninggal karena lapar atau hal-hal yang berkenaan dengan       kelaparan. Angka ini telah menurun kalau dibandingkan dengan sepuluh tahun       yang lalu yang berkisar sekitar 35.000 dan 45.000 untuk duapuluh tahun       yang lalu. Tiga perempat dari angka-angka kematian ini adalah anak-anak       berumur dibawah lima tahun.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">2. Kini, 10% dari anak-anak       di negara berkembang meninggal sebelum mereka berumur lima tahun. Angka       ini menurun 28% dari lima puluh tahun yang lalu.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">3. Kelaparan dan perang       menyebabkan hanya 10% kematian karena lapar, meskipun hal ini merupakan       hal yang biasa kita dengar sehari-hari. Kebanyakan dari kematian karena       lapar disebabkan oleh malnutrisi yang kronis akibat dari (keadaan bahwa)       penderita tidak dapat mendapatkan makanan yang cukup. Hal ini disebabkan       oleh kemiskinan yang sangat parah.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">4. Disamping kematian,       malnutrisi juga menyebabkan kerusakan indra penglihatan, kurang semangat,       kelambatan pertumbuhan badan dan meningkatnya kerawanan terhadap penyakit.       Penderita malnutrisi berat tidak berdaya untuk berfungsi melakukan       kegiatan ringan sehari-hari.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">5. Diperkiran bahwa didunia       ada kira-kira 800 juta penderita kelaparan dan malnutrisi, yaitu 100 kali       lebih banyak dari yang meninggal karena kelaparan dan malnutrisi itu       setiap tahunnya.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">6. Pada hakekatnya,       dibutuhkan hanya sedikit bahan dasar saja untuk memungkinkan si miskin       berkesinambungan dalam memproduksi makanan. Termasuk dalam bahan dasar ini       adalah bibit yang berkualitas tinggi, alat-alat yang sesuai dan kemudahan       dalam mendapatkan air. Sekedar peningkatan dalam teknik pertanian dan cara       penyimpanan makanan juga akan menolong.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">7. Banyak pakar dalam bidang       kelaparan percaya bahwa pada akhirnya jalan terbaik untuk mengurangi       kelaparan adalah lewat pendidikan. Orang-orang yang berpendidikan adalah       bibit yang terbaik dalam meningkatkan diri dari kemiskinan yang menjadi       penyebab kelaparan.</span></p>
<p><strong>SUMBER <a href="http://www.lonweb.org/hunger/hung-ind-eng.htm" target="_self">lonweb</a></strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/desahan.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/desahan.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/desahan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/desahan.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/desahan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/desahan.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/desahan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/desahan.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/desahan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/desahan.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/desahan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/desahan.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/desahan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/desahan.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/desahan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/desahan.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desahan.wordpress.com&amp;blog=4092156&amp;post=34&amp;subd=desahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://desahan.wordpress.com/2008/08/28/fakta-fakta-kelaparan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/144885257042ca3addf1cb87d9d99561?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Ucok</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.eramuslim.com/fckfiles/Image/pic4(192).jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Phobia isu BBM</title>
		<link>http://desahan.wordpress.com/2008/07/07/phobia-isu-bbm/</link>
		<comments>http://desahan.wordpress.com/2008/07/07/phobia-isu-bbm/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 16:25:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>desahan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://desahan.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Phobia Isu BBM (Diambil dari Buletin SADAR) Ditulis Oleh Fredy Wansyah* Sunday, 06 July 2008 Kenaikan harga BBM tidak mengenal kompromi bagi masyarakat miskin untuk menambah kemiskinan. Kanaikan tersebut yang jatuh pada akhir Mei lalu diikuti oleh naiknya harga-harga kebutuhan bahan pokok lainnya. Mengapa harga-harga bahan pokok harus mengikuti alur harga BBM? Mobilitas suatu barang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desahan.wordpress.com&amp;blog=4092156&amp;post=22&amp;subd=desahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table class="contentpaneopen" border="0">
<tbody>
<tr>
<td class="contentheading" width="100%">Phobia Isu BBM (Diambil dari Buletin SADAR)</td>
<td class="buttonheading" width="100%" align="right"><a title="PDF" href="http://www.prp-indonesia.org/index2.php?option=com_content&amp;do_pdf=1&amp;id=337" target="_blank"> </a></td>
<td class="buttonheading" width="100%" align="right"><a title="Cetak" href="http://www.prp-indonesia.org/index2.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=337&amp;pop=1&amp;page=0&amp;Itemid=98" target="_blank"> </a></td>
<td class="buttonheading" width="100%" align="right"><a title="E-mail" href="http://www.prp-indonesia.org/index2.php?option=com_content&amp;task=emailform&amp;id=337&amp;itemid=98" target="_blank"> </a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table class="contentpaneopen" border="0">
<tbody>
<tr>
<td colspan="2" width="70%" align="left" valign="top"><span class="small"> Ditulis Oleh Fredy Wansyah* </span></td>
</tr>
<tr>
<td class="createdate" colspan="2" valign="top">Sunday, 06 July 2008</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" valign="top"><img class="jce_tooltip" style="border:1px solid #000000;float:left;width:85px;height:104px;margin:5px;" src="http://www.prp-indonesia.org/images/stories/images/phobia_bbm.jpg" alt="phobia_bbm.jpg" width="85" height="104" />Kenaikan harga BBM tidak mengenal kompromi bagi masyarakat miskin untuk menambah kemiskinan. Kanaikan tersebut yang jatuh pada akhir Mei lalu diikuti oleh naiknya harga-harga kebutuhan bahan pokok lainnya. Mengapa harga-harga bahan pokok harus mengikuti alur harga BBM? Mobilitas suatu barang di dalamnya yang berperan penting adalah bahan bakar minyak. Kendaraan sebagai materi yang tidak bernyawa tidak akan berpindah tanpa adanya bahan bakar. Paska klimaks Revolusi Inggris segala kendaraan (angkutan) diintensifkan sebagai alat mobilitas suatu barang.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa hari paska pengumuman harga BBM oleh pemerintah, pedagang-pedagang kaki lima dan sopir-sopir angkutan dipaksa untuk menyeimbangkan pengeluaran dengan pendapatan. Hasilnya harga-harga kebutuhan bahan pokok dan tarif angkutan melonjak rata-rata 20% &#8211; 50%. Harga beras misalnya dari Rp 4.500 menjadi Rp 5.500 serta harga tarif angkutan berubah dari Rp 2.000 menjadi Rp 3.000.<span id="more-22"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Seorang pedagang nasi goreng di daerah Jatinangor menyerukan bahwa pemerintah tidak konsisten terhadap janjinya, “Sudah <em>capek</em> saya <em>sama</em> pemerintah kayak <em>gitu</em>,” tuturnya. Bahkan ia menambahi bahwa saat ini masih takut terhadap kenaikan BBM kembali. Sebelum kenaikan BBM, pedagang tersebut dapat mencukupi kebutuhannya dengan satu orang anak, namun setelah kenaikan harga BBM ia harus mencari tambahan melalui kerja sampingan setelah berdagang nasi goreng.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal serupa juga diikuti oleh pedagang putu bambu di kawasan Kampus Jatinangor yang tidak mengetahui rencana kenaikan harga BBM jika harga bahan bakar dunia terus melonjak yang kini telah berada di level $130 per barel. Seperti ketakutan yang ada dalam benaknya jika isu tersebut benar-benar terjadi. Putu bambu yang dijualnya hanya Rp 1.000 per tiga buah, seharinya dapat terjual sekitar 150 – 200 buah dengan pendapatan sekitar Rp 50.000 – Rp 67.000. Jika laba yang didapatnya sebelum kenaikan harga BBM Rp 15.000 – Rp 25.000, namun setelah kenaikan harga BBM laba tersebut menurun menjadi Rp 10.000 – Rp 13.000 hal tersebut juga dikarenakan penjualan yang menurun.</p>
<p style="text-align:justify;">Pedagang putu bambu tersebut juga mengeluhkan BLT yang ditawarkan oleh pemerintah, karena pemerintah tidak mendata secara serius terhadap masyarakat miskin. “Bayangkan, <em>Mas</em>, saya mau makan apa kalau pendapatan cuma sepuluh ribu. <em>Belum</em> untuk uang sekolah anak. Padahal gubernur dulu waktu kampanye janji membuat sekolah gratis, tapi mana?” ujarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang dirasakan oleh kedua pedagang tersebut merupakan <em>sample</em> dari Masyarakat Indonesia. Masyarakat tidak sedikit yang berprofesi sebagai pedagang. Jika kenaikan harga BBM akan terulang kembali yang diakibatkan melonjaknya harga minyak dunia, maka keharusan menaikkan harga-harga dagangan harus dilakukan. Hal ini akan mengakibatkan menurunnya penjualan dagangannya yang menjadikan pendapatan pun ikut menurun. Bayangan ke depan pedagang-pedagang tersebut terhadap kenaikan harga BBM berikutnya menjadi <em>phobia</em>, ironisnya aplikasi <em>phobia</em> tersebut dapat berakibat fatal. Seperti di media televisi beberapa hari paska kenaikan harga BBM, seorang pedagang bunuh diri karena masalah ekonomi.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengenai demo-demo yang dilakukan oleh mahasiswa, kedua pedagang tersebut menyepakatinya. <em>“Demo kayak gitu kan untuk masyarakat juga, Mas, kata pedagang nasi goreng. Tetapi sangat disayangkan jika implikasi demo-demo tersebut berupa tindakan anarkis. Tindakan-tindakan anarkis mahasiswa tersebut menambah phobia masyarakat. Kekerasan mahasiswa dalam demo merekonstruksi masyarakat bahwa demo berkonotasi negatif&#8221;.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Klimaks dari kemarahan mahasiswa terjadi pada tanggal 24 Juni di depan gedung MPR dengan tindakan anarkis. Pembakaran ban, pelemparan batu terhadap polisi, dan reaksi polisi menjadikan suasana demo merupakan ketakutan tersembunyi masyarakat. Meski sebagian masyarakat juga menyetujui tindakan mahasiswa tersebut, namun di sisi lain dari masyarakat yang tidak menginginkan adanya kekerasan menjadikan aksi tersebut menambah beban pikiran. Para orang tua yang memiliki anak berkuliah di sekitar Pulau Jawa, menjadikan hal tersebut menambah beban serta halusinasi <em>phobiaisasi</em>. Ketakutan terhadap anaknya menjadi pelaku aksi-aksi tersebut yang berujung pada kematian. Hal ini tidak terlepas dari traumaistik tragedi Mei ’98.</p>
<p>Tekanan terhadap pemerintah dari mahasiswa tersebut belum juga menemukan titik pencerahan. Sebaliknya, pemerintah berani mengalihkan isu kenaikan harga BBM. Kedua pedagang tersebut mengutarakan hal yang sama, yakni, “Kapan pemerintah mau <em>nurutin</em> masyarakat?”</p>
<p><em>*Penulis adalah anggota Front Demokratik Bandung dan anggota PRP Komite Kota Bandung</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/desahan.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/desahan.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/desahan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/desahan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/desahan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/desahan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/desahan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/desahan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/desahan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/desahan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/desahan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/desahan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/desahan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/desahan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/desahan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/desahan.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desahan.wordpress.com&amp;blog=4092156&amp;post=22&amp;subd=desahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://desahan.wordpress.com/2008/07/07/phobia-isu-bbm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/144885257042ca3addf1cb87d9d99561?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Ucok</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.prp-indonesia.org/images/stories/images/phobia_bbm.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">phobia_bbm.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika kaum buruh perempuan bergerak</title>
		<link>http://desahan.wordpress.com/2008/07/07/ketika-kaum-buruh-perempuan-bergerak/</link>
		<comments>http://desahan.wordpress.com/2008/07/07/ketika-kaum-buruh-perempuan-bergerak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 16:23:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>desahan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://desahan.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Kaum Buruh Perempuan Bergerak: Sekilas mengenai Revolusi Febuari 1917 di Rusia By Ken Budha Kusumandaru (PRP) Perhimpunan Rakyat Pekerja Thursday, 17 April 2008 Prolog Pada bulan Maret ini, tepatnya pada tanggal 8 Maret, kita sepatutnya mengenangkan kembali sebuah peristiwa besar yang mengguncang seluruh dunia, yang mengubah arah sejarah, yang dampaknya masih terasa sampai sekarang-namun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desahan.wordpress.com&amp;blog=4092156&amp;post=21&amp;subd=desahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table class="MsoNormalTable" border="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="width:100%;padding:0.75pt;" width="100%">
<p class="MsoNormal">Ketika Kaum Buruh Perempuan Bergerak: Sekilas mengenai   Revolusi Febuari 1917 di Rusia</p>
</td>
<td style="width:100%;padding:0.75pt;" width="100%">
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><a title="Print" href="http://www.marxist.com/index2.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=5737&amp;pop=1&amp;page=0&amp;Itemid=66"><span style="text-decoration:none;color:blue;"><!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></a></p>
</td>
<td style="width:100%;padding:0.75pt;" width="100%">
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><a title="E-mail" href="http://www.marxist.com/index2.php?option=com_content&amp;task=emailform&amp;id=5737&amp;itemid=66"><span style="text-decoration:none;color:blue;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></a></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;display:none;" lang="EN"> </span></p>
<table class="MsoNormalTable" border="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="width:70%;padding:0.75pt;" width="70%" valign="top">
<p class="MsoNormal">By Ken Budha Kusumandaru (PRP) <a href="http://www.prp-indonesia.org" target="_blank">Perhimpunan Rakyat Pekerja</a></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding:0.75pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal">Thursday, 17 April 2008</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding:0.75pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong>Prolog</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img src="http://voicesnoises.blogs.friendster.com/voices_noises/images/070326_141643.jpg" alt="buruh sedang menuju tempat kerja" width="300" height="216" /><p class="wp-caption-text">buruh sedang menuju tempat kerja</p></div>
<p class="MsoNormal"><img src="/DOCUME~1/user/LOCALS~1/Temp/moz-screenshot.jpg" alt="" /><img src="/DOCUME~1/user/LOCALS~1/Temp/moz-screenshot-1.jpg" alt="" />Pada   bulan Maret ini, tepatnya pada tanggal 8 Maret, kita sepatutnya mengenangkan   kembali sebuah peristiwa besar yang mengguncang seluruh dunia, yang mengubah   arah sejarah, yang dampaknya masih terasa sampai sekarang-namun yang juga   diupayakan pelupaannya oleh para intelektual pengabdi kelas berkuasa-Revolusi   Februari 1917 di Rusia.</p>
<p class="MsoNormal">Revolusi   ini disebut Revolusi Februari karena penanggalan yang dipakai di Rusia pada   jaman itu merupakan penanggalan Gereja Ortodoks Yunani (Kalender Julian).   Kalender ini, pada abad ke-20, ketinggalan 13 hari dari penanggalan Gereja   Katolik Roma (Kalender Gregorian, yang di Indonesia dikenal sebagai   penanggalan Masehi). Maka, seturut penanggalan tersebut, apa yang bagi kita   adalah 8 Maret 1917, bagi kaum revolusioner Rusia masa itu adalah 22 Februari   1917. Oleh karena itulah revolusi yang dipicu oleh demonstrasi di tanggal 8   Maret 1917 ini dikenal sebagai Revolusi Februari.<span id="more-21"></span></p>
<p class="MsoNormal">Revolusi   ini sangat menarik dan tepat dibahas dalam satu edisi yang tema utamanya   bicara tentang Hari Perempuan Internasional karena picu bagi Revolusi ini   ditarik persis ketika kaum buruh perempuan di St. Petersburg, Rusia,   berdemonstrasi memperingati Hari Perempuan Internasional. Penembakan yang   dilakukan pasukan tentara dan polisi Tsar Rusia terhadap 128.000 buruh yang   terlibat dalam peringatan Hari Perempuan Internasional itu merupakan bendera   start bagi sebuah gelombang revolusioner yang mampu memaksa salah satu   Kekaisaran tertua dan paling kolot di Eropa untuk turun tahta.</p>
<p class="MsoNormal">Kaum   perempuan seringkali dipandang sebagai elemen terbelakang dalam gerakan   revolusioner. Kaum revolusioner seringkali memandang kaum perempuan dalam   hidup mereka sebagai penghalang bagi aktivitas revolusioner mereka. Kaum   liberal memandang tidak seharusnya perempuan terlibat dalam aktivitas   revolusioner dan mengarahkan perempuan pada aktivitas politik berbasis   &#8220;gender&#8221; yang anti perjuangan kelas. Kaum konservatif yang paling   parah, memandang gerakan perempuan dengan jijik, tapi sekaligus berusaha   mengorganisir perempuan agar tetap terpenjara oleh semboyan &#8220;kasur,   dapur dan sumur&#8221;.</p>
<p class="MsoNormal">Menarik   pelajaran dari sebuah masa revolusioner adalah tugas yang nyaris mustahil   dilakukan dengan sempurna. Tapi, setidaknya ada beberapa point yang harus   dikemukakan karena point-point ini muncul dengan begitu jelas di tengah   gejolak revolusioner di Rusia, yang diawali oleh demonstrasi memperingati   Hari Perempuan Internasional 8 Maret 1917.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Menuju Revolusi Februari 1917</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Latar belakang</strong></p>
<p class="MsoNormal">Kalau   mau menunjuk, peristiwa mana yang menjadi titik-tolak dari Revolusi Februari   1917, kita akan mengalami kesulitan memilih. Proses yang terjadi menjelang   Februari 1917 adalah satu proses yang membingungkan. Ada setidaknya tiga   faktor pembingung yang beredar di tengah gerakan buruh Rusia masa itu:</p>
<p class="MsoNormal">1.   Di satu pihak, Perang Dunia I yang pecah di tahun 1914 telah membuat banyak   buruh dikirim ke medan pertempuran, baik sebagai anggota pasukan garis depan   ataupun sebagai tentara cadangan. Dapat diperkirakan bahwa jika pengusaha   ditanya oleh kekaisaran: &#8220;buruh mana yang kiranya akan dilepas untuk   dijadikan tentara wajib militer?&#8221;, tentunya buruh-buruh maju yang   &#8220;rewel&#8221; yang akan pertama kali dilepas oleh pengusaha untuk dibiarkan   maju berperang. Sekitar 17% dari kader buruh maju Rusia terpaksa pergi ke   garis depan karena wajib militer ini.</p>
<p class="MsoNormal">2.   Di pihak lain, terjadi kekacauan di tengah gerakan sosialis di seluruh dunia   akibat pertikaian yang dipicu sikap Partai Sosial Demokrat Jerman, yang   memilih untuk mendukung pemerintahnya berperang. Dengan kata lain, gerakan   buruh Jerman kemudian memobilisasi diri untuk bertempur dengan buruh-buruh   dari negeri lain, yang pada saat bersamaan dimobilisasi juga oleh pemerintah   masing-masing. Partai Sosial Demokrat Jerman, yang dipimpin Kautsky, pada   saat itu adalah suar bagi partai-partai buruh dan revolusioner di seluruh   dunia. Dapat dibayangkan kekacauan yang timbul gara-gara sikap ini-sikap yang   oleh Lenin disebut sebagai &#8220;sosial-chauvinisme&#8221;.</p>
<p class="MsoNormal">3.   Keadaan darurat perang juga membuat aktivitas polisi dan militer meningkat   tajam. Ini jelas merupakan satu penghalang yang besar bagi kekuatan-kekuatan   revolusioner Rusia yang, di masa itu, bergerak di bawah tanah. Keadaan   darurat perang ini membuat banyak jalur dana, terbitan dan komunikasi antar   kader terputus dan, kalaupun ada, menjadi beresiko sangat tinggi. Hampir   semua kader revolusioner yang bekerja &#8220;di atas tanah&#8221; ditangkapi,   disiksa dan/atau dipenjarakan. Terhitung Januari 1915, hampir semua jaringan   legal gerakan buruh revolusioner Rusia telah berhasil dihancurkan oleh polisi   dan tentara Rusia.</p>
<p class="MsoNormal">Akibat   kekacauan ini, terjadi penguatan yang besar pada kekuatan kiri-tengah, yang   pada saat itu diwakili oleh Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia (RSDRP-Rossijskoj   Social-Demokratičeskoj Rabočej Partii) dari sayap Mensheviki. Sementara RSDRP   dari sayap revolusioner, Bolsheviki, mengalami kemunduran yang tajam.</p>
<p class="MsoNormal">Gerakan   buruh, secara umum, juga mengalami pukulan hebat. Para buruh yang sudah lama   terlatih dalam teori dan praktek progresif, harus merunduk-runduk di bawah   penerapan &#8220;disiplin militer&#8221; dalam pabrik. Akibat banyaknya buruh   laki-laki yang dikirim ke medan tempur, para pengusaha mengisi kebutuhan   tenaga kerja mereka dengan buruh-buruh perempuan-yang, selain dianggap lebih   patuh, juga dapat diupah lebih murah. Meningkatnya jumlah buruh perempuan dan   buruh-buruh muda yang tidak pernah terlatih dalam perjuangan buruh   menyebabkan padamnya suasana pergerakan di pabrik-pabrik.</p>
<p class="MsoNormal">Para   buruh Rusia, di awal Perang Dunia I, bersedia bekerja lembur demi memacu   produksi untuk memenangkan perang. Mereka juga lebih suka mengumpulkan dana   untuk membantu keluarga buruh yang kepala keluarga atau anggota keluarganya   harus pergi berperang-bukannya untuk dana mogok. Pendeknya, propaganda   revolusioner tentang sikap yang harus diambil gerakan buruh terhadap perang   ditabur di tanah yang kering dan gersang.</p>
<p class="MsoNormal">Suasana   gerakan buruh benar-benar amat lembam (macet, tidak mau bergerak). Massa yang   apatis karena tidak memiliki teori dan pengalaman revolusioner memadai,   ketakutan akibat represi dan suasana perang, kurangnya kader akibat keharusan   menyembunyikan diri dan banyaknya penangkapan. Tidak ada kepemimpinan sentral   dalam gerakan. Semua ini menyebabkan setiap orang yang &#8220;berakal   sehat&#8221; akan mengatakan: suasana revolusioner di Rusia padam sudah.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Kebangkitan kembali suasana revolusioner</strong></p>
<p class="MsoNormal">Memang,   orang &#8220;berakal sehat&#8221; akan mengatakan demikian. Tapi, karena itulah   kita menolak penggunaan akal sehat. Kita memakai dialektika sebagai cara   berpikir, bukan akal sehat. Dengan dialektika, kita tahu bahwa setiap hal   selalu mengandung benih dari hal lain yang menjadi lawannya. Mudahnya: setiap   kemunduran selalu mengandung potensi untuk terjadinya kemajuan, tiap   kelemahan dapat dibalik menjadi kekuatan, tiap kekuatan dapat menjadi titik   lemah yang mematikan, tiap kelahiran akan membawa kematian dan tiap kematian   adalah bahan bakar bagi kelahiran baru.</p>
<p class="MsoNormal">Oleh   karena itu, banyak orang menjadi tidak tahan dan berputus asa ketika   mengalami kemunduran dan kekalahan serius. Banyak orang tidak sadar bahwa   proses dialektika bekerja secara laten dalam tiap kekalahan, dalam tiap   kemunduran, dalam tiap kejatuhan. Kesabaran, keuletan dan ketelatenan dalam   mengolah kekalahan dan kemunduran adalah kunci bagi kemenangan dan kemajuan.   Seperti burung Phoenix dari legenda kuno Timur Tengah, sejenis burung yang   hanya bertelur sekali dalam 500 tahun, dan telur itu hanya bisa menetas jika   si burung membakar dirinya sendiri-dari kematian, muncul kelahiran baru.</p>
<p class="MsoNormal">Banyak   orang di sekitar kita yang tadinya terlibat dalam gerakan buruh, atau gerakan   rakyat secara umum, menjadi tawar hatinya melihat kemunduran demi kemunduran   yang terjadi di tengah gerakan ini. Pada titik ekstrimnya, orang-orang ini   kemudian tidak lagi percaya bahwa gerakan buruh atau gerakan rakyat lainnya   akan mampu mencapai kemenangan. Orang-orang yang putus asa ini kemudian   berpaling pada cara-cara instan untuk &#8220;membantu rakyat&#8221;. Ada yang   berpaling pada terorisme, ada yang berpaling pada &#8220;penguatan ekonomi&#8221;-ada   pula yang terang-terangan menyeberang ke kubu musuh, dengan alasan   &#8220;bermain dari dalam sistem&#8221;.</p>
<p class="MsoNormal">Mereka   ini tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu, bahwa keuletan dan ketepatan kerja   di masa-masa sulit akan menjadi kunci kemenangan ketika situasi berubah. Ini   karena jika kita terus bertahan di masa sulit, kita akan menjadi yang paling   siap ketika angin berganti arah. Secara mental dan disiplin tubuh kita paling   siap. Tapi juga karena massa akan menilai siapa yang paling setia pada mereka   di saat-saat tersulit.</p>
<p class="MsoNormal">Para   kader partai proletariat revolusioner di Rusia, mereka yang tersisa, yang   jumlahnya tidak banyak, memiliki kesabaran yang dituntut dari mereka dalam   masa-masa sulit seperti itu. Tanpa terburu-buru, tapi juga sekaligus tanpa   mengendurkan tuntutan politiknya, mereka berhasil mengorganisir pemogokan   yang diikuti 2000 orang di St. Petersburg pada tanggal 9 Januari 1915. Mayday   gagal diperingati karena aksi kepolisian dilancarkan secara membabi-buta   pasca pemogokan Januari 1915 itu. Hanya 600 orang yang ikut serta dalam aksi   Mayday di seluruh Rusia. Tapi, kerja-kerja propaganda, agitasi dan   pengorganisiran terus dilakukan tanpa henti. Ketiadaan kepemimpinan sentral   dijawab oleh para organiser dengan inisiatif dari bawah. Berbekal kemampuan menggunakan   dialektika, para organiser dan &#8220;kolektif pimpinan dari bawah&#8221; ini   menangkap situasi, memanfaatkan kabar yang datang dari luar sebisa mungkin   sebagai bekal pengorganisiran mereka. Tidak ada yang nampak mendengarkan, oke   sajalah. Tapi, seperti kebijaksanaan para petani tempo doeloe, apa yang kita   tabur itulah yang akan kita tuai.</p>
<p class="MsoNormal">Demikianlah,   di tengah kelembaman massa rakyat pekerja, ketidakpuasan perlahan-lahan   muncul kembali ke permukaan. Kekalahan demi kekalahan yang dialami oleh   tentara Rusia di medan perang, korban yang begitu besar akibat tidak   kompetennya para perwira, harga-harga yang pelan tapi pasti merambat naik,   makin langkanya barang-barang kebutuhan pokok karena semua produksi dikirim   ke garis depan &#8230; semua ini tidak luput dari perhatian rakyat pekerja Rusia.   Ketidakpuasan ini bukanlah hasil dari agitasi kader-kader revolusioner.   Situasi ekonomi-sosial-politiklah yang menciptakannya. Tapi, rakyat pekerja   Rusia mendapatkan ekspresi-jalan untuk menyatakan ketidakpuasan mereka-melalui   apa yang diagitasi-propagandakan oleh para kader revolusioner, buruh-buruh   maju dan mereka yang pernah berpengalaman terlibat dalam revolusi 1905.</p>
<p class="MsoNormal">Dengan   kata lain, para kader yang bertahan dalam kondisi sulit di tahun-tahun awal   Perang Dunia I berhasil menjadi corong (alias &#8220;megafon&#8221;) bagi   ketidakpuasan massa rakyat pekerja.</p>
<p class="MsoNormal">Demikianlah,   setelah begitu lama tidak terjadi pemogokan atau aksi besar di seluruh   Rusia-mendadak-terjadilah aksi besar-besaran menentang keputusan Tsar yang   membekukan Duma (parlemen kekaisaran Rusia). Kekalahan demi kekalahan yang   diderita pasukan-pasukan Rusia bukanlah satu hal yang bisa diabaikan begitu   saja. Para politisi yang ada dalam Duma melihat bahwa keresahan yang muncul   di tengah rakyat jelata akibat kekalahan-kekalahan ini bisa dipicu menjadi   sebuah pemberontakan yang lebih luas. Oleh karena itu, kaum parlementaris ini   lantas mengajukan sebuah petisi pada Tsar untuk menghentikan perang,   setidaknya mengurangi peran Rusia dalam perang. Tapi, Tsar yang bodoh itu   menjawab petisi ini dengan membekukan Duma. Pecahlah demonstrasi dan   pemogokan di seluruh Rusia pada tanggal 4 September 1915, diikuti oleh   puluhan sampai ratusan ribu orang di St. Petersburg, Nizhni Novgorod, Moskow,   Kharkov danYekaterinoslav. Di St. Petersburg sendiri aksi diikuti oleh   150.000 orang.</p>
<p class="MsoNormal">Betapa   jauh bedanya dengan yang kita lihat terjadi pada tanggal 1 Mei 1915, di mana   Mayday hanya diperingati 600 orang di seluruh Rusia!</p>
<p class="MsoNormal">Perubahan   yang terjadi hanya dalam hitungan bulan!</p>
<p class="MsoNormal">Mereka   yang berpikir dengan &#8220;akal sehat&#8221; tidak akan dapat mengerti hal   ini. Mereka akan menuduhkan terjadinya konspirasi, hasutan, tipuan &#8230;. Yang   benar saja! Mana mungkin berkonspirasi dengan 150 ribu orang? Atau menghasut,   atau menipu, sekian banyak orang untuk bergerak hanya dalam satu hari setelah   Duma dibekukan?</p>
<p class="MsoNormal">Dan,   yang paling menarik adalah kenyataan bahwa buruh-buruh perempuan dan   buruh-buruh mudalah yang paling banyak bergerak-lapisan yang tadinya   dipandang sebagai lapisan berkesadaran paling terbelakang. Bagaimana mungkin mereka   yang &#8220;paling belakang&#8221; bisa tiba-tiba melompat ke depan?</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Kaum perempuan Rusia melompati rintangan</strong></p>
<p class="MsoNormal">Dialektika   bekerja tanpa kasat mata. Ia adalah proses yang terus berlangsung (ongoing)   dan tanpa henti (unceasingly). Ia adalah proses molekular (mengutip Trotsky),   yang terjadi pada atom-atom dalam susunan masyarakat. Ia adalah tumbuhnya   tanaman. Ia adalah geraknya bumi-kita tidak menyadarinya sampai gempa   menghantam kita. Tumburan, kontradiksi, gesekan, terjadi dari hari ke hari.   Tidak selalu dapat kita amati. Tidak selalu dapat kita analisa karena   kerumitan dan kompleksitasnya. Tapi proses itu terus berlangsung tanpa   sepengetahuan kita, dan kita pun terkejut ketika mendadak kita tiba di   penghujung proses tanpa menyadari jalannya proses tersebut.</p>
<p class="MsoNormal">Oleh   karena itulah setiap orang yang bekerja dengan gerakan rakyat harus selalu   mawas diri dan waspada terhadap segala bentuk perubahan yang terjadi di   tengah masyarakatnya. Perubahan-perubahan kecil, yang nyaris tidak   terdeteksi, barangkali akan sangat vital dan menentukan di masa depan.</p>
<p class="MsoNormal">Perempuan   adalah korban utama yang diserahkan oleh Rusia demi Perang Dunia Pertama.   Memang, korban tewas dalam pertempuran mungkin 99% terdiri dari laki-laki.   Namun, mereka adalah ayah dan suami dari banyak keluarga rakyat pekerja.   Kekaisaran Rusia tidak mau tahu dengan nasib keluarga yang ditinggalkan suami   atau anak atau saudara-saudara yang tewas di medan laga. Untuk mengisi perut   mereka dan anak-anak mereka, mereka dipaksa menjadi pencari nafkah bagi   keluarga. Di samping itu, kekurangan tenaga kerja (seperti sudah disebutkan   di muka) membuat Kekaisaran Rusia menerapkan wajib-kerja (work draft) pada   kaum perempuan Rusia. Maka, kini kaum perempuan Rusia mengalami penindasan   berganda, di rumah oleh sistem patriarki dan di pabrik oleh sistem   kerja-upahan. Mereka harus bekerja lima belas sampai delapan belas jam di   pabrik, lalu masih harus melaksanakan &#8220;kewajiban&#8221; kerja-kerja   domestik di rumah-hanya untuk mendapati bahwa harga-harga barang kebutuhan   pokok melejit tinggi akibat perang dan semakin jauhnya kesenjangan antara si   kaya dan si miskin.</p>
<p class="MsoNormal">Semua   ini terjadi di depan mata mereka. Dari hari ke hari mereka melihat hal ini   berlangsung. Kemuakan bertumbuh di hati dan pikiran kaum perempuan Rusia.   Bersamaan dengan kemuakan, tumbuh pertanyaan di hati mereka. Bersama dengan   pertanyaan, muncul pula ketidakpercayaan pada sistem kemasyarakatan yang   selama ini mereka anggap benar adanya.</p>
<p class="MsoNormal">Dan   mereka menemukan jawaban pertanyaan mereka dari apa yang dilakukan,   dipropagandakan dan diperjuangkan oleh kaum revolusioner. Mereka menemukan   bahwa sosialismelah jawaban bagi pertanyaan mereka.</p>
<p class="MsoNormal">Tentu   saja mereka tidak begitu saja percaya. Mereka akan terus mempertanyakan.   Sebagian dari kaum perempuan ini, yang kepercayaannya tumbuh dengan cepat, lantas   bergabung dengan kaum revolusioner. Tapi, mereka yang tidak yakin juga pada   satu saat tiba pada kesimpulan bahwa mereka harus bergerak mengambil   kesimpulan sendiri. Mereka harus memastikan bahwa mereka bisa mengambil   kesimpulan sendiri.</p>
<p class="MsoNormal">Pada   titik inilah kesadaran mereka melompat. Dari keadaan skeptis, terbelakang dan   pasif, mereka melompat ke dalam kesadaran maju yang revolusioner.</p>
<p class="MsoNormal">Inilah   yang sering tidak dipahami oleh mereka yang menepuk dada bahwa dirinya   revolusioner. Mereka yang merasa kesadarannya paling maju dan paling   menginginkan perubahan, sehingga gagal melihat bahwa masyarakat juga terus   berubah dan menginginkan perubahan itu. Banyak orang yang mengaku   revolusioner menginginkan agar jumlah orang yang revolusioner menjadi   mayoritas dalam masyarakat. Tidak benar. Tidak pernah ada revolusi yang   terjadi karena kaum revolusioner adalah mayoritas. Revolusi akan terjadi jika   mayoritas rakyat sudah memutuskan bahwa mereka harus menemukan jawaban   sendiri atas pertanyaan-pertanyaan dalam hati dan pikiran mereka. Mereka   belum tentu sudah menerima bahwa jawaban yang diberikan oleh kaum   revolusioner adalah benar. Mereka hanya mengambil keputusan bahwa pertanyaan   mereka harus terjawab dan sistem yang sekarang ada tidak bisa memberikan   jawabannya. Mereka mau dipimpin oleh kaum revolusioner hanya jika, bagi   mereka, hanya kaum revolusioner yang memiliki jawaban. Biarlah sekarang kaum   revolusioner yang memimpin, tapi nanti mereka akan menuntut pembuktian   jawaban itu dari kaum revolusioner.</p>
<p class="MsoNormal">Saat-saat   kritisnya terletak pada saat di mana pertanyaan mulai muncul secara spontan   dalam bentuk-bentuk gerakan tak terorganisir. Jika pada titik ini kaum   revolusioner gagal menanggapi, maka pertanyaan itu akan berubah menjadi rasa   putus asa.</p>
<p class="MsoNormal">Kaum   revolusioner Rusia tepat membaca pembalikan posisi ini. Pada saat yang tepat,   pada peringatan Hari Perempuan Internasional 8 Maret 1914 (penanggalan kita),   diluncurkanlah sebuah terbitan khusus perempuan: Rabotnitsa (Perempuan   Buruh). Terbitan ini didanai oleh sumbangan kolektif-kolektif perempuan di   tengah gerakan buruh, dikerjakan sendiri oleh para aktivis perempuan buruh.   Isinya adalah tentang kondisi buruh perempuan dan perjuangan perempuan-baik   di pabrik, di desa, di partai maupun di tengah rumah tangga. Terbitan ini   juga memuat perjuangan perempuan di negeri-negeri lain-baik itu buruh maupun   bukan. Satu seruan yang terus-menerus dikumandangkan oleh Rabotnitsa adalah   agar perempuan kelas pekerja mengorganisir diri sendiri, lalu bergabung   dengan perjuangan kaum laki-lakinya-bahkan juga menyerukan agar kaum   perempuan berani membangunkan dan memimpin kaum laki-laki yang masih   &#8220;tertidur&#8221;.</p>
<p class="MsoNormal">Jadi,   ketepatan pembacaan situasi dan perumusan tindakan oleh kaum revolusioner   berkecocokan dengan proses dialektik yang meradikalisir kaum buruh perempuan   di Rusia. Ketika kedua hal ini bertemu dan berkecocokan, meledaklah tenaga   revolusioner yang dibangunkan oleh situasi objektif di tengah kaum perempuan   Rusia. Tanpa tindakan yang tepat dari kaum revolusioner, tenaga yang   terbangun secara spontan ini akan selalu tersimpan sebagai potensi. Sama   seperti batu batere atau accu, yang memiliki potensi tenaga listrik, baru   dapat dimanfaatkan tenaganya ketika terhubung secara tepat dengan rangkaian   listrik tertentu. Jika kutub-kutub batere dihubungkan dengan cara keliru,   potensi tenaga listrik tidak akan keluar-atau malah menyebabkan korsleting   (hubungan pendek), yang bersifat merusak.</p>
<p class="MsoNormal">Kita   melihat kesadaran kaum perempuan Rusia seperti &#8220;melompat&#8221; karena   kita tidak melihat proses dialektika yang terjadi di tengah mereka.   Sebenarnya, potensi kesadaran mereka bergerak sejajar dengan kesadaran   masyarakat pada umumnya. Hanya saja, karena mereka mulai dari posisi yang   terbelakang, kaum revolusioner juga terlambat menyadari perkembangan   kesadaran itu. Begitu disadari, begitu kaum revolusioner mengambil tindakan   untuk menangkup kesadaran tersebut, kaum perempuan langsung menyambut-dan   kita melihat seakan mereka mengalami &#8220;lompatan kesadaran&#8221;.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Penutup</strong></p>
<p class="MsoNormal">Salah   satu pelajaran terpenting dari Revolusi Februari 1917 di Rusia ini adalah   bahwa kaum revolusioner tidak dapat-dan tidak boleh-mengabaikan sektor-sektor   rakyat pekerja yang manapun. Kaum revolusioner tidak boleh memvonis satu   sektor sebagai &#8220;terbelakang&#8221; dan kemudian meninggalkannya sama   sekali. Semua sektor rakyat pekerja harus diberi perhatian yang sama-walau   mungkin untuk penanganannya memang harus menuruti sebuah skala prioritas yang   disesuaikan dengan sumberdaya yang dipunyai organisasi.</p>
<p class="MsoNormal">Revolusi   Februari 1917 di Rusia merupakan pembuktian bahwa sektor perempuan bukan saja   berpotensi revolusioner, melainkan berpotensi untuk memimpin sebuah revolusi.   Di saat kaum laki-laki meragu, kaum perempuanlah yang tampil ke depan memicu   revolusi berlangsung. Kalau ada yang kita bisa teladani, pengorganisiran   spesial di sektor perempuan, penggemblengan kader-kader perempuan   revolusioner menjadi pemimpin-pemimpin, harus dimulai dari sekarang.   Sehingga, ketika peluang untuk perluasan propaganda, rekrutmen dan pendidikan   di kalangan perempuan kelas pekerja terbuka lebih lebar, kitalah yang akan   menjadi organisasi yang paling siap untuk mengambil peluang itu.</p>
<p class="MsoNormal">Jakarta,   7 April 2008</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/desahan.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/desahan.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/desahan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/desahan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/desahan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/desahan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/desahan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/desahan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/desahan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/desahan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/desahan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/desahan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/desahan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/desahan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/desahan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/desahan.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desahan.wordpress.com&amp;blog=4092156&amp;post=21&amp;subd=desahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://desahan.wordpress.com/2008/07/07/ketika-kaum-buruh-perempuan-bergerak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/144885257042ca3addf1cb87d9d99561?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Ucok</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://voicesnoises.blogs.friendster.com/voices_noises/images/070326_141643.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">buruh sedang menuju tempat kerja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dialektika Materialis</title>
		<link>http://desahan.wordpress.com/2008/07/07/dialektika-materialis/</link>
		<comments>http://desahan.wordpress.com/2008/07/07/dialektika-materialis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 16:17:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>desahan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://desahan.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[ABC Dialektika Materialis Leon Trotsky (1939) Diterjemahkan dan diedit oleh Anonim (Desember 1998) dari Leon Trotsky, The ABC of Materialist Dialectics diterjemahkan sesuai teks dalam website In Defence of Marxism. Dialektika bukanlah fiksi dan bukan pula mistisisme, melainkan sebuah pengetahuan mengenai bentuk pemikiran kita sejauh ia tidak dibatasi ke dalam masalah-masalah kehidupan sehari-hari, tetapi berusaha [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desahan.wordpress.com&amp;blog=4092156&amp;post=20&amp;subd=desahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align:center;"><span style="font-size:15pt;">ABC Dialektika Materialis</span></h1>
<h2 style="text-align:center;"><span style="font-size:12pt;">Leon Trotsky (1939)</span></h2>
<p>Diterjemahkan dan diedit oleh Anonim (Desember 1998) dari Leon Trotsky, <a href="http://www.marxist.com/Theory/ABC.html">The ABC of Materialist Dialectics</a> diterjemahkan sesuai teks dalam website <a href="http://www.marxist.com/">In Defence of Marxism</a>.</p>
<p class="fst">Dialektika bukanlah fiksi dan bukan pula mistisisme, melainkan sebuah pengetahuan mengenai bentuk pemikiran kita sejauh ia tidak dibatasi ke dalam masalah-masalah kehidupan sehari-hari, tetapi berusaha mencapai sebuah pengertian yang lebih rumit dan proses-proses yang mendesak untuk diperbincangkan. Logika dialektika dan logika formal memikul sebuah hubungan yang serupa dengan hubungan antara matematika tingkat tinggi dengan matematika yang lebih rendah.<span id="more-20"></span></p>
<p>Di sini saya akan mencoba untuk membuat sketsa substansi masalah dalam sebuah format yang sangat ringkas. <span lang="PT-BR">Silogisme sederhana logika Aristotelian bermula dari preposisi bahwa &#8220;A&#8221; sama dengan &#8220;A&#8221;. Postulat ini diterima sebagai sebuah aksioma bagi banyak sekali tindakan praktis manusia dan generalisasi-generalisasi elementer. Tetapi pada kenyataannya &#8220;A&#8221; tidak sama dengan &#8220;A&#8221;. Hal ini mudah untuk dibuktikan jika kita mengamati dua huruf ini di bawah sebuah lensa &#8211;satu sama lain sama sekali berbeda. Namun, orang dapat saja berkeberatan, karena mereka semata simbol bagi kuantitas-kuantitas sederajat, contohnya satu pon gula, masalahnya bukan ukuran atau bentuk dari huruf-huruf itu. Keberatan itu tidak penting; pada kenyataannya satu pon gula tidak pernah sama persis dengan satu pon gula &#8211;sebuah pengukuran yang lebih teliti selalu menyingkapkan adanya perbedaan. Lagi-lagi orang dapat berkeberatatan: tapi satu pon gula adalah sama dengan dirinya sendiri. Ini juga tidak benar &#8211;semua bentukan tanpa bisa diinterupsi berubah dalam ukuran, berat, warna, dan lain sebagainya. Mereka itu tidak pernah sama dengan dirinya sendiri. Seorang sophis akan menanggapi bahwa satu pon gula adalah sama dengan dirinya &#8220;pada saat yang tertentu&#8221;.</span></p>
<p><span lang="PT-BR">Terlepas dari nilai praktis yang sangat ekstrim meragukan dari &#8220;aksioma&#8221; ini, ia tidak bertahan juga terhadap kritisisme teoritis. Bagaimana kita harusnya benar-benar memahami kata &#8220;saat&#8221;? Jika ia adalah sebuah interval waktu yang sangat kecil, maka satu pon gula ditundukkan menjadi sasaran selama berlangsungnya &#8220;saat&#8221; tersebut pada perubahan-perubahan yang tak dapat dielakkan, atau apakah &#8220;saat&#8221; adalah sebuah abstraksi yang murni matematis, yaitu, sebuah kekosongan dari waktu? Tapi semua hal eksis dalam waktu; dan eksistensi sendiri adalah sebuah proses yang tidak berhenti dari transformasi; waktu secara konsekuen adalah sebuah elemen fundamental bagi eksistensi. Jadi aksioma &#8220;A&#8221; adalah sama dengan &#8220;A&#8221; menandakan bahwa suatu hal adalah sama dengan dirinya sendiri jika ia tidak berubah, yaitu jika ia tidak eksis.</span></p>
<p><span lang="PT-BR">Secara sepintas kelihatannya &#8220;kepelikan-kepelikan&#8221; ini tiada berguna. Dalam realita, hal-hal itu amat menentukan arti. Di satu sisi aksioma &#8220;A&#8221; adalah sama dengan &#8220;A&#8221; muncul sebagai titik keberangkatan bagi semua pengetahuan kita, di sisi lain sebagai titik keberangkatan segala kekeliruan dan kesalahan dalam pengetahuan kita. Untuk membuat penggunaan yang bebas resiko dari aksioma &#8220;A&#8221; adalah sama dengan &#8220;A&#8221; adalah hanya mungkin di dalam batasan-batasan pasti. Ketika perubahan-perubahan kuantitatif dalam &#8220;A&#8221; adalah tidak berarti bagi tugas-tugas yang ada, maka kemudian kita dapat memperkirakan bahwa &#8220;A&#8221; adalah sama dengan &#8220;A&#8221;. Contohnya ini adalah cara di mana seorang pembeli dan seorang penjual mengingat satu pon gula, demikian pula kita mempertimbangkan suhu matahari. </span>Sampai waktu sekarang ini kita mempertimbangkan kekuatan mata uang dollar dengan cara yang sama. Tetapi perubahan-perubahan kuantitatif, yang melebihi batasan-batasan pasti, terkonversi menjadi kualitatif. Satu pon gula tunduk kepada tindakan air atau bensin, berhenti menjadi satu pon gula. Satu dollar dalam pelukan seorang presiden berhenti sebagai satu dollar. Untuk menentukan titik kritis pada saat yang tepat di mana kuantitas berubah menjadi kualitas adalah satu dari tugas-tugas yang paling penting serta paling susah di dalam semua bidang pengetahuan, termasuk sosiologi.</p>
<p>Setiap pekerja mengetahui bahwa mustahil membuat dua benda yang sepenuhnya sama. Dalam perluasan bearing-brass menjadi cone bearings diperkenankan adanya sebuah deviasi atas yang disebut terakhir, yang, bagaimanapun, tidak boleh melampaui batasan-batasan pasti (hal ini disebut toleransi). <span lang="PT-BR">Dengan mengamati norma-norma toleransi, intinya dipertimbangkan menjadi setara. (&#8220;A&#8221; adalah sama dengan &#8220;A&#8221;). Saat toleransi menjadi berlebih, kuantitas berlanjut menjadi kualitas; dengan kata lain, cone bearings tadi menjadi inferior atau sepenuhnya tak berharga.</span></p>
<p><span lang="PT-BR">Pemikiran ilmiah kita hanyalah satu bagian dari keseluruhan tindak praktek kita, termasuk teknik-teknik. Bagi konsep-kopsep, eksistensi &#8220;toleransi&#8221; juga ada. Toleransi ini ditegakkan bukan dengan logika formal yang berasal dari aksioma &#8220;A&#8221; adalah sama dengan &#8220;A&#8221;, tetapi dengan logika dialektis yang berasal dari aksioma bahwa semua hal selalu berubah. &#8220;Akal sehat&#8221; dikarakterisasi oleh kenyataan bahwa ia secara sistematis melampaui &#8220;toleransi&#8221; dialektis.</span></p>
<p><span lang="PT-BR">Pemikiran vulgar beroperasi dengan konsep-konsep macam kapitalisme, moral, kebebasan, negara pekerja, dll. sebagai abstraksi-abstraksi pasti, mengira bahwa kapitalisme adalah sama dengan kapitalisme, moral adalah sama dengan moral, dan seterusnya. Pikiran dialektis menganalisa semua hal dan fenomena dalam perubahannya yang terus berlangsung, sambil menetapkan dalam kondisi-kondisi material dari perubahan-perubahan tersebut yang batas kritis di luar hal yang &#8220;A&#8221; barhenti menjadi &#8220;A&#8221;, sebuah negara pekerja berhenti menjadi negara pekerja.</span></p>
<p><span lang="PT-BR">Kekurangan fundamental dari pemikiran vulgar terletak dalam kenyataan bahwa ia berharap untuk mengisi dirinya sendiri dengan cetakan ajeg dari sebuah realitas yang mengandung gerakan abadi. Dengan cara memperketat perkiraan-perkiraan, koreksi-koreksi, kongkritisasi; pemikiran dialektis memberikan sebuah kekayaan mengenai isi dan fleksibitas kepada konsep-konsep; bahkan saya katakan bahwa ini adalah sebuah kelembapan yang bagi sebuah bidang tertentu membawanya lebih dekat pada fenomena yang nyata hidup. Bukan kapitalisme secara keseluruhan, melainkan sebuah kapitalisme tertentu pada sebuah tahap perkembangan tertentu. Bukan sebuah negara pekerja secara keseluruhan, tetapi sebuah negara pekerja tertentu dalam sebuah negara terbelakang dalam sebuah pengepungan kaum imperialis, dan lain-lain.</span></p>
<p><span lang="PT-BR">Pemikiran dialektis berhubungan dengan pemikiran vulgar dengan cara yang sama seperti sebuah gambar bergerak (motion picture) berhubungan dengan sebuah foto yang ajeg. Gambar bergerak tidak berada di luar hukum foto ajeg tetapi mengkombinasikan sebuah urutan dari foto-foto tersebut sesuai dengan hukum-hukum gerak. Dialektika tidak mengingkari silogisme, tetapi mengajari kita untuk menggabungkan silogisme dalam cara yang sedemikian rupa untuk membawa pengertian kita menjadi lebih dekat pada realitas yang berubah secara abadi. Dalam bukunya, Logika, Hegel mendirikan satu rangkaian ketentuan-ketentuan: perubahan kuantitas menjadi kualitas, perkembangan melalui kontradiksi, konflik mengenai isi dan bentuk, interupsi dari kontinuitas, perubahan posibilitas menjadi hal yang tak dapat dihindarkan adanya, dll., yang sama pentingnya bagi pemikiran teoritis sepenting dalam silogisme sederhana bagi tugas-tugas yang lebih elementer.</span></p>
<p><span lang="PT-BR">Hegel menulis sebelum Darwin dan sebelum Marx. Berterima kasih kepada impuls kuat yang diberikan Revolusi Perancis kepada pemikiran, Hegel mengantisipasi gerakan ilmu pengetahuan secara menyeluruh. Tetapi karena itu semata sebuah antisipasi, meskipun dilakukan oleh seorang jennius, hal itu menerima sebuah karakter idealistik dari Hegel. Hegel mengoperasikan bayangan-bayangan ideologis sebagai realitas terakhir. Marx mendemonstrasikan bahwa gerakan dari bayangan-bayangan idiologis ini tidak merefleksikan apa-apa kecuali gerakan dari tubuh-tubuh materi.</span></p>
<p><span lang="PT-BR">Kita menamakan dialektika kita, materialis, sebab ia tidak berakar baik di surga maupun di kedalaman dari &#8220;kehendak bebas&#8221; kita, melainkan di dalam realitas objektif, di alam. Kesadaran timbul dari bawah sadar, psikologi dari fisiologi, dunia organik dari dunia inorganik, galaksi dari nebula. Di atas tiap undakan tangga perkembangan ini, perubahan-perubahan kuantitatif ditransformasikan menjadi kualitatif. Pikiran kita, terrmasuk pikiran dialektis, hanyalah satu dari bentuk-bentuk ekspresi zat yang berubah. Di dalam sistem ini tidak tersedia tempat bagi Tuhan, Syetan, jiwa kekal, tidak juga norma-norma abadi dari hukum dan moral. Dialektika pemikiran, timbul dari dialektika alam, secara konsekuen memiliki sebuah karakter yang seluruhnya materialis. Darwinisme, yang menjelaskan evolusi spesies melalui transformasi kuantitatif berlanjut pada kualitatif, adalah kemenangan tertinggi dari dialektika dalam seluruh lapangan perkara organik. Kemenangan besar besar lainnya adalah penemuan tabel berat atom dari unsur kimia dan transformasi lebih lanjut dari satu elemen menjadi satu elemen lain.</span></p>
<p><span lang="PT-BR">Secara erat, transformasi-transformasi ini (spesies, elemen, dll.) berkaitan dengan masalah klasifikasi, sama pentingnya dalam ilmu alam sebagaimana dalam ilmu sosial. Sistem Linneaus (abad ke-18) mempergunakan immutabilitas spesies sebagai titik awalnya, terbatas pada deskripsi dan klasifikasi mengenai pertanian sesuai karakteristik-karakteristik abadinya. Periode infantil dari botani adalah analogis dengan periode infantil logika, karena bentuk-bentuk pikiran kita berkembang seperti semua hal yang hidup. Hanya penyangkalan yang tak dapat disanggah mengenai ide tentang spesies jadi, hanya studi mengenai sejarah evolusi tentang pertanian dan anatominya, menyiapkan basis bagi sebuah klasifikasi yang benar-benar ilmiah.</span></p>
<p><span lang="PT-BR">Marx, yang dalam perbedaan dari Darwin adalah seorang dialektikus yang sadar, menemukan sebuah basis bagi klasifikasi ilmiah mengenai masyarakat-masyarakat manusia dalam perkembangan kekuatan-kekuatan produktifnya dan struktur kepemilikan yang membentuk anatomi masyarakat. Marxisme memberikan substitusi berupa sebuah klasifikasi dialektik materialistis kepada klasifikasi vulgar mengenai masyarakat dan negara, yang bahkan hingga sekarang masih tumbuh dengan subur dalam berbagai universitas. Hanya dengan menggunakan metode Marx dimungkinkan secara benar menentukan baik konsep mengenai sebuah negara pekerja maupun juga momen keruntuhannya.</span></p>
<p><span lang="PT-BR">Kita lihat, semua ini sama sekali tidak mengandung hal &#8220;metafisik&#8221; atau &#8220;scholastis&#8221; sebagai ungkapan ketidaktahuan yang congkak. Logika dialektis mengungkapkan hukum gerak dalam pemikiran ilmiah kontemporer perjuangan melawan dialektika materialis sebaliknya mengungkapkan sebuah masa lalu yang berjarak, konservatisme dari borjuasi kecil, keangkuhan diri para pengusung rutinitas universitas, dan &#8230; sekilat harapan bagi sebuah alter-life (kehidupan yang berubah).</span></p>
<p class="author"><span lang="PT-BR">15 Desember 1939.</span></p>
<p class="author">
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p><img class="aligncenter" src="http://www.marxistsfr.org/archive/trotsky/photo/t1919a.jpg" alt="Leon Trotsky" width="500" height="436" /></p>
<p class="MsoNormal">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/desahan.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/desahan.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/desahan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/desahan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/desahan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/desahan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/desahan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/desahan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/desahan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/desahan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/desahan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/desahan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/desahan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/desahan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/desahan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/desahan.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desahan.wordpress.com&amp;blog=4092156&amp;post=20&amp;subd=desahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://desahan.wordpress.com/2008/07/07/dialektika-materialis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/144885257042ca3addf1cb87d9d99561?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Ucok</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.marxistsfr.org/archive/trotsky/photo/t1919a.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Leon Trotsky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Advokasi dan Pengorganisiran</title>
		<link>http://desahan.wordpress.com/2008/07/07/advokasi-dan-pengorganisiran/</link>
		<comments>http://desahan.wordpress.com/2008/07/07/advokasi-dan-pengorganisiran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 16:16:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>desahan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://desahan.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Tekhnik Advokasi dan Pengorganisiran a. Pengertian Advokasi selama ini diartikan semata-mata sebagai kegiatan pembelaan kasus atau beracara di peradilan (litigasi), mungkin ini juga beralasan karena terpengaruh oleh padanan katanya dari bahasa Belanda advocaat, advovaateur yang berarti pengacara hukum atau pembela. Namun, kata advokasi jika kita mengadopsi pada bahasa Inggris maka to advocate tidak hanya berarti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desahan.wordpress.com&amp;blog=4092156&amp;post=19&amp;subd=desahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tekhnik Advokasi dan Pengorganisiran</span></strong><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">a. </span><span style="font-size:13pt;">Pengertian</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">Advokasi selama ini diartikan semata-mata sebagai kegiatan pembelaan kasus atau beracara di peradilan (litigasi), mungkin ini juga beralasan karena terpengaruh oleh padanan katanya dari bahasa Belanda <em>advocaat, advovaateur </em>yang berarti<em> </em>pengacara hukum atau pembela.</span></span><span id="more-19"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">Namun, kata advokasi jika kita mengadopsi pada bahasa Inggris maka <em>to advocate</em> tidak hanya berarti ‘membela’ (<em>to defend</em>), tetapi juga bisa berarti ‘mengajukan’ atau ‘mengemukakan’ (<em>to promote</em>) atau dengan kata lain bisa berarti juga berusaha ‘menciptakan’ (<em>to create</em>). Dan berarti juga melakukan ‘perubahan’ (<em>to change</em>) yang dilakukan secara terorganisir dan sistematis. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">Jadi, pengertian advokasi tidaklah sempit seperti yang selama ini dipahami banyak orang, bahwa advokasi adalah pekerjaan pengacara yang berkaitan dengan praktek pembelaan oleh praktisi hukum diperadilan. Ataupun dianggap sebagai urusan atau monopoli organisasi yang berkaitan dengan ilmu dan praktek hukum. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="PT-BR">Advokasi dilakukan dalam rangka mencapaiu suatu tujuan tertentu. Advokasi lebih merupakan kegiatan atau upaya yang dilakukan secara sistematik dan terorganisir untuk mempengaruhi dan mendesakan terjadinya perubahan dalam kebijakan publik secara bertahap-maju. Dengan kata lain advokasi juga <strong>bukan revolusi, </strong>tetapi lebih merupakan suatu usaha perubahan sosial melalui semua saluran dan piranti demokrasi perwakilan.</span></span><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">Beberapa alasan melakukan advokasi;</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">1. </span><span style="font-size:13pt;">ideologis, visi sosial dan politik mengenai hubungan rakyat, negara dan pemerintah</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">2. </span><span style="font-size:13pt;">kemanusiaan, keprihatinan dan kesetiakawanan pada kelompok-kelompok masyarakat yang dirugikan oleh kebijakan publik/pemerintah</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">3. </span><span style="font-size:13pt;">pribadi, memang terlibat sebagai korban langsung atau pihak yang dirugikan oleh kebijakan</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">4. </span><span style="font-size:13pt;">praktis,</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:13pt;">b. </span><span style="font-size:13pt;">Strategi dan Taktik</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">Sebuah upaya pendidikan terhadap rakyat dengan menyelami kondisi yang mereka alami untuk dapat membuka cakrawala berpikir secara perlahan dan terarah untuk menguatkan sektor rakyat agar dapat mengorganisir basisnya sendiri.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="PT-BR">Pra Pengorganisiran </span></span></span><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="PT-BR">Sebelum memulai sebuah pengorganisiran, harus dimulai dengan beberapa hal, yaitu : </span></span><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">1. </span><span style="font-size:13pt;">melakukan survei kewilayah tujuan </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">2. </span><span style="font-size:13pt;">menemui salah satu tokoh dan melakukan pendekatan persuasif </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">3. </span><span style="font-size:13pt;">memegang kontrak person salah seorang tokoh di wilayah tersebut</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:13pt;">Setelah memegang kontak salah satu tokoh, survei tetap dilanjutkan untuk dapat melihat secara langsung kondisi masyarakat, dan mempelajari budaya, mata pencaharian, kebiasaan dan informasi sebanyak mungkin tentang masyarakat tersebut, baik dari jumlah penduduk, tingkat pendidikan dan kondisi real ekonomi rakyat. Selanjutnya acuan awal tersebut di kembangkan dari kondisi di lapangan.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">Hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk Memulai pengorganisiran </span></span></span><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">1. </span><span style="font-size:13pt;">pengorganisiran yang baik adalah pengorganisiran yang dilakukan melalui wilayah culture, karena hal itu merupakan wilayah yang dapat diterima dengan mudah oleh rakyat, contohnya : rakyat Bojong merupakan rakyat agamis, maka seorang organisator dapat masuk melalui media dakwah, tahlil dan sejenisnya. Cara lain yang dapat diterima dengan mudah adalah upaya seorang organisator menjadikan rakyat nyaman dengan kehadiran organisator.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">2. </span><span style="font-size:13pt;">kemampuan untuk dapat dengan cepat menyesuaikan dengan kondisi dan alam rakyat</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">3. </span><span style="font-size:13pt;">seorang organisator juga diharapkan mengerti dan mampu dengan bahasa rakyat setempat, guna dapat membangun komunikasi dengan baik</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">Memulai pengorganisiran</span></span></span><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">1. </span><span style="font-size:13pt;">Pendidikan rakyat adalah hal terpenting dalam sebuah pengorganisiran, pendidikan tersebut diharapkan dimulai dari menjabarkan pemahaman dasar tentang hal-hal yang paling dekat dengan apa yang mereka rasakan, dengan bahasa yang mudah dicerna dan dipahami oleh rakyat</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">2. </span><span style="font-size:13pt;">dilanjuti tentang, hak-hak dasar manusia, pengertian Rakyat v.s negara, pola hubungan rakyat dan negara.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">3. </span><span style="font-size:13pt;">Demokrasi, keadilan, hukum dll</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">4. </span><span style="font-size:13pt;">setelah pemahaman tentang pengertian dasar tersebut dilanjuti dengan materi pergerakan; dalam artian mengapa mereka harus bergerak dan bersatu.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">Proses pengorganisiran</span></span></span><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">1. </span><span style="font-size:13pt;">Selama dalam proses pengorganisiran, kepercayaan rakyat harus tetap dijaga dan dipertahankan </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">2. </span><span style="font-size:13pt;">dalam memberikan suatu pemahaman terhadap suatu hal, jangan dilanjutkan sebelum rakyat memahami.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">3. </span><span style="font-size:13pt;">Sistem pendidikan (kursus politik) diharapkan dilakukan secara bertahap, dengan jumlah efektif pendidikan 10 s.d 15 orang</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:13pt;">c. </span><span style="font-size:13pt;">Tehnik dan jenis advokasi masyarakat</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;"><span style="font-size:11pt;">d. </span><span style="font-size:13pt;">Advokasi dan perubahan kebijakan</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><!--[endif]--></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/desahan.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/desahan.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/desahan.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/desahan.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/desahan.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/desahan.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/desahan.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/desahan.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/desahan.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/desahan.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/desahan.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/desahan.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/desahan.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/desahan.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/desahan.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/desahan.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desahan.wordpress.com&amp;blog=4092156&amp;post=19&amp;subd=desahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://desahan.wordpress.com/2008/07/07/advokasi-dan-pengorganisiran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/144885257042ca3addf1cb87d9d99561?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Ucok</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>OTONOMI KAMPUS</title>
		<link>http://desahan.wordpress.com/2008/07/07/otonomi-kampus/</link>
		<comments>http://desahan.wordpress.com/2008/07/07/otonomi-kampus/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 16:13:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>desahan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://desahan.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Otonomi : Menggusur Tahu Petis Semenjak diundangkan pada tanggal 24 Juni 1999, PP No. 61 tahun 1999 tentang Perubahan Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia menjadi Badan Hukum, banyak mengundang kontroversi. Niat ‘baik’ pemerintah ini ditangkap oleh banyak kalangan dengan kekhawatiran akan semakin mahalnya biaya pendidikan, terutama di perguruan tinggi. Hal ini semakin memperkokoh pencerdasan bangsa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desahan.wordpress.com&amp;blog=4092156&amp;post=18&amp;subd=desahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Otonomi : Menggusur Tahu Petis</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Semenjak diundangkan pada tanggal 24 Juni 1999, PP No. 61 tahun 1999 tentang Perubahan Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia menjadi Badan Hukum, banyak mengundang kontroversi. Niat ‘baik’ pemerintah ini ditangkap oleh banyak kalangan dengan kekhawatiran akan semakin mahalnya biaya pendidikan, terutama di perguruan tinggi. Hal ini semakin memperkokoh pencerdasan bangsa Indonesia sebagai prioritas nomor buncit. PP No. 61/1999 juga belum menjawab permasalahan seberapa otonom perguruan tinggi negeri dan eksesnya nanti. Tim laput DIANNS menurunkan laporannya untuk Anda.</span><span id="more-18"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;">Otonomisasi PTN = Orang Miskin Dilarang Kuliah ! </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Perubahan status Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi Badan Hukum, -disebut juga otonomisasi PTN- bukanlah hal yang kontroversial apabila tidak terjadi saat bangsa Indonesia sedang mengalami krisis multi dimensi, yang memaksa keuangan negara menjadi kembang-kempis. Sehingga keluarnya PP No. 61/1999 dianggap sebagai langkah pemerintah mengurangi subsidi pendidikan. Ketakutan yang kemudian muncul; kapitalisasi pendidikan. Gejala komersialisasi pendidikan ini ditunjukkan dengan naiknya SPP pada pilot project otonomisasi PTN. Universitas Gadjah Mada (UGM) misalnya, seperti dituturkan Ali Fahmi -Presiden Keluarga Mahasiswa UGM-, yang dulu SPP hanya 225 ribu, sekarang menjadi 460 ribu. Universitas Indonesia malah lebih ‘gila’ lagi, dengan membebankan 1,5 juta sampai 1,7 juta kepada mahasiswa barunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Rektorat UGM, PT Toyota Astra dapat membuka showroom disini<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Adanya peningkatan biaya pendidikan di PTN sebenarnya tidak perlu terjadi apabila PP No. 61/1999 dicermati sebagai kebutuhan untuk mewujudkan pendidikan tinggi yang ideal. Pendidikan tinggi seharusnya bukan menonjolkan nafsu kapitalistik, atau menurut Ali Fahmi, lebih mengedepankan sisi-sisi keintelektualan. Kebutuhan semacam inilah yang seharusnya dipahami oleh para petinggi PTN-PTN. Sehingga otonomisasi PTN tidak diterapkan sebagai sekedar euforia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kesan aji mumpung untuk meningkatkan SPP yang masih melekat pada beberapa petinggi PTN seharusnya dikikis habis. Tetapi Pembantu Rektor II IPB, Ir. H. Darwin Kadarisman, MS, tidak menunjukkan gelagat tersebut, &#8220;Jadi kalau misalnya perguruan-perguruan tinggi mau diswastanisasikan, alangkah senangnya kita. Kita langsung terapkan keuangan seperti Trisakti,&#8221; ujarnya. Pemahaman ini juga menimpa Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Eka Afnan Troena, SE. Rektor yang memakai banyaknya mobil waktu wisuda, sebagai indikator banyaknya mahasiswanya yang kaya itu melontarkan, &#8220;Kalau SPP naik ‘kan bukan berarti orang miskin tidak bisa pintar, sekarang SPP ‘kan 450 ribu rata-rata, berarti ‘kan yang miskin mensubsidi yang kaya, adil ndak kalau begitu? Yang kaya itu seharusnya tidak membayar segitu, mas.&#8221; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Perilaku ini jelas melenceng dari maksud otonomisasi PTN. Kesan perguruan tinggi sebagai agen pembaharu dan kekuatan perjuangan moral dipertaruhkan. Dengan otonomisasi, sistem pendidikan tinggi di Indonesia -seperti coretan Roem Topatimasang dalam Sekolah Itu Candu- seharusnya terjadi desentralisasi kewenangan. Sehingga memungkinkan munculnya kebebasan prakarsa pembaharuan dan kreativitas dari bawah. Kemandirian perguruan tinggi akan semakin memperkokoh kesan tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Tetapi, apabila otonomisasi PTN dikuti dengan peningkatan biaya, image PTN sebagai lembaga pendidikan dengan biaya murah akan luntur. Dan harapan PTN sebagai tumpuan untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintah semakin jauh. Serta harapan otonomisasi PTN dapat meningkatkan kredibilitas PTN di mata masyarakat dan efisiensi penyelenggaraan pendidikan di PTN, seperti diungkapkan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Dr. Ir. Satryo Soemantri Brojonegoro ketika diwawancarai DIANNS melalui e-mail, semakin menjauhi keniscayaan. Ironisnya Doktor lulusan Research Fellow at Lawrence Berkeley Laboratory, USA ini tidak memungkiri kemungkinan naiknya SPP, &#8220;Kebijakan otonomi tidak mengharuskan kenaikan SPP, akan tetapi SPP dapat dinaikkan dengan persetujuan Majelis Wali Amanat, jika memang tidak memberatkan masyarakat&#8221;. Lebih gamblang lagi Tim Persiapan Penerapan Otonomi di Perguruan Tinggi menyatakan, &#8220;Tidak dapat diingkari bahwa uang kuliah sudah sepantasnya dinaikkan mengingat pada jenjang pendidikan tinggi partisipasi masyarakat harus lebih besar dibandingkan dengan pendidikan dasar dan menengah.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Tak urung adanya sinyal hijau peningkatan biaya pendidikan oleh para pembuat keputusan di bidang pendidikan semakin mengaburkan maksud dari otonomisasi pendidikan. Pendidikan yang menurut Paulo Freire harusnya menjadi jalan pemanusiaan, pembebasan dan pemerataan, di Indonesia sekedar menjadi retorika. Tak heran apabila ketika otonomisasi PTN digulirkan masih banyak yang meragukan, otonomisasi PTN tidak dibarengi oleh meningkatnya SPP. Seperti yang dilontarkan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya Widyo Nugroho, &#8220;Siapa yang bisa menjamin ketika kemudian pada beberapa program diterapkan (otonomisasi, Red), ternyata peningkatan beban nominal itu kepada konsumen (mahasiswa).&#8221; Lebih lanjut Presiden Mahasiswa pertama yang dipilih secara demokratis setelah dilengserkannya rejim Senat Mahasiswa Universitas Brawijaya (SMUB) ini menambahkan, &#8220;Jadi kalau ngomong otonomi perguruan tinggi, nggak ada itu otonomi perguruan tinggi menurut PP 61/1999.&#8221; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;">Selamat Datang di Kampus, McDonald&#8230; </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Dunia pendidikan di jaman modern sepertinya tidak bisa lepas dari arus globalisasi. Perguruan tinggi saat ini tidak bisa memisahkan proses pendidikan dengan faktor-faktor di luar pendidikan, yang dianggap menunjang proses pendidikan itu sendiri. Perguruan tinggi dihadapkan pada perkembangan ekonomi, politik dan sosial masyarakat. Sehingga, seperti diungkapkan Ivan Illich dalam bukunya Bebas dari Sekolah, perguruan tinggi mau tidak mau harus memanajemeni dirinya secara modern layaknya sebuah perusahaan modern. Permasalahan administrasi, manajemen, proyeksi-proyeksi, rencana induk pengembangan, anggaran belanja, efisiensi, kredibilitas, promosi, relasi, bahkan arus penawaran dan permintaan harus terwadahi dalam institusi yang bernama perguruan tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Sudah jamak terjadi, di PTN-PTN yang ada, sistem manajerialnya berjalan ala kadarnya. Belitan birokrasi di PTN sering menimbulkan inefisiensi. PR II IPB mengakui bahwa selama ini masalah utama inefisiensi terletak pada visi pembangunannya. Selain itu menurut Presiden keluarga Mahasiswa IPB, Aly Yusuf, banyak PTN yang amburadul dalam pengaturan fasilitasnya. Aly memberi contoh, selama ini di IPB banyak fasilitas yang menganggur dan tidak dikelola dengan baik sehingga cost-nya itu besar untuk biaya perawatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Inefisiensi ini berimbas pada terbatasnya dana pengembangan sarana dan prasarana pendidikan. Dan otomatis perkembangan proses pendidikan berjalan lambat, bahkan bisa mandeg. Setelah PTN berubah status menjadi badan hukum, PTN dituntut kreativitasnya mencari sumber-sumber dana alternatif yang baru. Seperti terungkap dalam press release Tim Persiapan Otonomi di Perguruan Tinggi, &#8220;Sebagai suatu Badan Usaha mandiri, perguruan tinggi dapat mendirikan unit usaha (business units).&#8221; Perguruan tinggi di luar negeri membagi unit usahanya menjadi dua kelompok, yaitu unit usaha yang erat kaitannya dengan fungsi perguruan tinggi dalam Tridharma (auxiliary enterprises) dan unit usaha yang relatif tidak berkaitan langsung dengan Tridharma (commercial ventures). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Selanjutnya, Unit usaha di dalam kampus seperti kantin, toko buku, gelanggang olahraga dan asrama dapat dikategorikan sebagai auxiliary enterprises dan. dikelola secara berbaur oleh unit struktural dalam perguruan tinggi. Sedangkan unit usaha seperti pengelolaan hak paten yang dihasilkan oleh penelitian, inkubator teknologi, inkubator bisnis atau bahkan pengelolaan dana abadi harus dikelompokkan sebagai commercial ventures. Keuntungan bersih setelah dipotong pajak merupakan penghasilan perguruan tinggi, yang kemudian dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan Tridharmanya. Unit seperti ini di perguruan tinggi luar negeri umumnya dikelola secara mandiri oleh Majelis, yang terpisah dari pengelolaan perguruan tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Dalam pengembangan sumber-sumber dana alternatif ini Unair telah mempersilahkan para pengusaha ke dalam kampus, baik lokal maupun multi national corporation. Pembantu Rektor I Unair, Prof. Dr. Puruhito, Med menyebutkan beberapa gedung di Unair yang selama ini menganggur akan disewakan kepada para pengusaha. Jadi tidak tertutup kemungkinan nantinya PT. Toyota Astra menyewa salah satu gedung di Unair untuk show room mereka. &#8220;Dari sana bisa dapat uang, atau misalkan lagi disewakan pada Kentucky Fried Chicken untuk membuka outlet di sana. Mc Donald’s juga boleh,&#8221; imbuhnya. Bahkan di UGM, menurut Presiden Mahasiswanya, &#8220;Kegiatan-kegiatan aktivitas mahasiswa digusur kemudian dibangun sebuah mall dan segala macam. Apalagi sekarang kalau kamu lihat di UGM sudah dibangun BNI lantai 4 dengan mewah. Kemudian lahan-lahan bisnis, proyek-proyek makanan di UGM. Saya kira orientasi perguruan tinggi yang terjadi bukan wacana-wacana keintelektualan.&#8221; Orientasi sekarang, adalah bagaimana mendapat dana sebesar-besarnya demi alternatif biaya pendidikan. Namun upaya menggali sumber-sumber dana altenatif ini perlu dilakukan secara hati-hati dan secermat mungkin.. Gejala ini, jelas, apabila terlalu mengobarkan nafsu kapitalistik akan menggusur kegiatan-kegiatan aktivitas mahasiswanya. Dan akhirnya perguruan tinggi akan menjadi, seperti disindir oleh Ivan Illich dalam bukunya Bebas dari Sekolah, majikan terbesar dan paling anonim dari semua majikan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">Selamat Jalan Dosen Nyambi ! </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Amburadulnya manajerial di PTN juga ditambah dengan mental dan etos kerja sumber daya manusia PTN yang kurang produktif. Kinerja dan etos kerja yang selama ini ada, tidak bisa lepas dari status mereka sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Sudah sangat umum dijumpai, tingkat kehadiran dosen yang rendah, intensitas guru besar ‘turun lapangan’ kecil, hasil ujian yang baru diumumkan beberapa bulan sesudahnya, bahkan sampai maraknya plagiarisme di antara dosen di perguruan tinggi. Hal ini dapat terjadi dikarenakan alasan klise yang sering mereka lontarkan, yaitu kecilnya gaji mereka. Dirjen Dikti dan Tim Persiapan Otonomi di Perguruan Tinggi dalam press release mengakui distorsi ini. Tetapi sudah tentu inefisiensi institusional tersebut tidak dapat mengesampingkan kenyataan bahwa masih terdapat dosen-dosen ideal yang secara sepenuh hati mencurahkan waktu dan tenaganya untuk mahasiswa dan kemajuan ilmu melalui penelitiannya. Oleh karena itu dalam konteks otonomi perguruan tinggi, kekuatan moral secara kelembagaanlah yang harus direvitalisasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Dengan revitalisasi kekuatan moral secara kelembagaan, diharapkan berimbas pada perubahan output perguruan tinggi. Sangat banyak ditemui lulusan perguruan tinggi tidak siap ketika berhadapan dengan dunia kerja. Atau ketika memasuki dunia di luar kampus masih saja memerlukan penambahan ketrampilan melalui kursus-kursus, seakan tidak yakin kemampuannya tidak dapat menyesuaikan diri dengan dunia barunya. Bahkan sangat lazim dijumpai seorang lulusan perguruan tinggi bekerja pada bidang yang tidak sesuai dengan keilmuan yang digeluti semasa di perguruan tinggi. Kondisi ini membuktikan perguruan tinggi dalam proses pengeraman, seperti disentil Roem Topatimasang di Sekolah Itu Candu, terlalu asyik dengan perubahan kuantitatif , sehingga menelorkan output yang tidak layak secara kualitatif. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Tetapi dalam konteks otonomisasi PTN, sampai saat ini hakekat tujuan dan isi dari otonomisasi belum dihayati secara mendalam, bahwa sistem pendidikan sebenarnya menciptakan lapangan kerja, bukan menjadikan kaum buruh. Sehingga pantas Ali Fahmi mencurigai otonomisasi PTN saat ini, hanya didasarkan pada pangsa pasar. &#8220;PTN otonom nantinya akan menghasilkan manusia-manusia yang seperti robot,&#8221; imbuhnya, ketika ditemui DIANNS di sela-sela Kongres Mahasiswa Indonesia awal Desember 1999.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Untuk meningkatkan mutu lulusan perguruan tinggi, sudah selayaknya dosen-dosen lebih mengkonsentrasikan diri pada perannya. Pemandangan umum dosen-dosen yang merangkap menjadi tenaga pengajar pada beberapa perguruan tinggi, dapat mengurang minat dosen-dosen itu untuk lebih memperdalam keilmuannya. Meskipun dalam press release Tim Persiapan Otonomi di Perguruan Tinggi menyebutkan kewenangan perekrutan dan pengangkatan dosen dan karyawan dalam lembaga swadana, menjadi pimpinan lembaga yang bersangkutan dan statusnya tetap sebagai pegawai negara, permasalahan kemalasan intelektual akan timbul jika tradisi dosen ‘negeri’ yang merangkap sebagai dosen swasta tetap dipertahankan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Untuk menghilangkan dosen-dosen nyambi, dapat diselesaikan, menurut Divisi Kerjasama dan Hubungan Masyarakat Badan Eksekutif Universitas Brawijaya, Paring Waluyo Utomo, dengan memberi mereka 4 pilihan. Pertama, mereka dipersilahkan untuk pensiun sebagai pegawai negeri sipil. Kedua, mereka pensiun dan menjadi pegawai perguruan tinggi negeri yang berubah menjadi badan hukum. Ketiga, dosen-dosen yang telah ‘kerasan’ menjadi dosen swasta pensiun dari PNS dan menjadi dosen swasta. Dan keempat, mereka tetap sebagai PNS tetapi mengajar di perguruan tinggi swasta.&#8221; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Tentu saja, alasan klise dosen-dosen yang nyambi selama ini harus ada jalan keluarnya. Tidak ada jalan lain, menurut Darwin Kadarisman, setidaknya gaji harus dinaikkan 3 kali lipat dari gaji sebagai PNS. Karena bagaimanapun dosen juga manusia biasa yang harus diperhatikan kesejahteraan ekonominya. Sehingga lagu wajib kebanyakan aparat pemerintah pada Orde Baru, menjual jabatan dan kehormatan demi kesejahteraan ekonomi, tidak terjadi lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Spesialisasi PTN ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Dalam UU No. 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, sistem pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional. Iklim belajar mengajar yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri sendiri dan budaya belajar di kalangan masyarakat, terus dikembangkan agar tumbuh sikap dan perilaku yang kreatif, inovatif, dan berorientasi ke masa depan. Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Apa yang terkandung dalam UU No. 2/1989 memang mencerminkan hakekat isi dan tujuan dari pendidikan. Tetapi untaian kata-kata indah menjadi momok ketika penafsirannya berwujud kurikulum nasional. &#8220;Penerapan kurikulum nasional merupakan pencerminan dari sentralisasi kebijakan pendidikan,&#8221; protes Keke, panggilan akrab Widyo Nugroho. Perguruan tinggi yang seharusnya mengembangkan keilmuan yang bebas nilai, dengan diterapkannya kurikulum nasional, seperti diungkapkan Roem Topatimasang, menjadi wadah yang menumpulkan daya penalaran dan memasung wawasan alternatif. Melalui kurikulum nasional tangan-tangan kekuasaan mencengkeram rasionalitas perguruan tinggi. &#8220;Sehingga pendidikan tinggi kita merupakan ajang brainwashing atau politisasi kampus,&#8221; lanjut Keke, mahasiswa Fakultas Teknik Pengairan Unibraw yang cuti kuliah sehubungan dengan jabatannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kurikulum PT sekarang, dengan dihembuskannya otonomisasi PTN, sepertinya menawarkan pembaharuan sistem pendidikan tinggi ke sistem yang mencerminkan dinamisnya kampus. Tetapi nampaknya kondisi pendidikan tinggi, seperti diungkapkan Roem Topatimasang, akan tetap berkutat pada bagaimana menyesuaikan perangkat teknis dengan manajemen dan teknologi yang baru. Karena, meskipun diserahkan ke masing-masing perguruan tinggi, menurut Dr. Suprodjo Pusposutardjo , kurikulum perguruan tinggi tetap memiliki grand design dari pusat atau apa yang biasa dikenal dengan istilah kurikulum nasional. Karena, imbuh Suprodjo, &#8220;Rambu kurikulum tersebut harus ada untuk menyesuaikan dengan persyaratan minimal yang dibutuhkan dalam memperoleh pengakuan berprofesi.&#8221; Satryo juga melontarkan pernyataan yang senada, &#8220;Rambu tersebut merupakan kurikulum inti (minimal) yang harus dipenuhi supaya ada baku mutu minimal&#8221;. Jadi tidak perlu mengernyitkan dahi ketika otonomisasi PTN diterapkan, di Unibraw kurikulumnya tidak akan jauh dari kisaran semula, seperti diungkapkan PR I Unibraw, Prof. Dr. Umar Nimran, sekitar 60 – 70 %.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Indikasi ini jelas mengabaikan kemajemukan potensi masing-masing daerah tempat PTN berada. Sekaligus pembiasan filosofi dasar dari otonomisasi pendidikan, yang menurut Roem Topatimasang, pendidikan liberal dan liberalisasi pendidikan. Padahal kurikulum seharusnya melihat potensi lokal dan membaca kemampuan obyektif masing-masing PTN. Apabila nantinya kurikulum perguruan tinggi banyak berisi muatan-muatan potensi lokal, maka tidak tertutup kemungkinan di masing-masing PTN terjadi pengkonsentrasikan diri pada pengembangan satu bidang keilmuan atau spesialisasi keilmuan. Tetapi yang jelas, kurikulum perguruan tinggi diharapkan oleh Rahmat Syafaat, SH. dosen Fakultas Hukum Unibraw, dapat mencerminkan keberpihakan terhadap kaum marginal bukan kepada pemodal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Akhirnya, kita harus siap-siap aja minta uang lebih pada orang tua. Buat bayar SPP mahal dan beli McDonald di kampus. Masak SPP jutaan, jajannya tahu petis dan krupuk upil ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/desahan.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/desahan.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/desahan.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/desahan.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/desahan.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/desahan.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/desahan.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/desahan.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/desahan.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/desahan.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/desahan.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/desahan.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/desahan.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/desahan.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/desahan.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/desahan.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desahan.wordpress.com&amp;blog=4092156&amp;post=18&amp;subd=desahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://desahan.wordpress.com/2008/07/07/otonomi-kampus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/144885257042ca3addf1cb87d9d99561?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Ucok</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERAN MEDIA DAN PEMERINTAH ATAS RENTETAN KEKERASAN</title>
		<link>http://desahan.wordpress.com/2008/06/29/peran-media-dan-pemerintah-atas-rentetan-kekerasan/</link>
		<comments>http://desahan.wordpress.com/2008/06/29/peran-media-dan-pemerintah-atas-rentetan-kekerasan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 16:43:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>desahan</dc:creator>
				<category><![CDATA[kekerasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://desahan.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[PERAN MEDIA DAN PEMERINTAH ATAS RENTETAN KEKERASAN oleh FREDY Kekerasan kembali terekspose, bukan kata yang tepat ‘kekerasan kembali terjadi’.Sistem di salah satu pendidikan perguruan tinggi telah di black list oleh masyarakat. Hal tersebut terjadi setelah merebaknya berita mengenai kematian salah satu siswa STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran). Belum pulih ingatan masyarakat mengenai kekerasan yang dilakukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desahan.wordpress.com&amp;blog=4092156&amp;post=6&amp;subd=desahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="center"><strong>PERAN MEDIA DAN PEMERINTAH ATAS RENTETAN KEKERASAN</strong></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify">oleh <em>FREDY</em></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify">Kekerasan kembali terekspose, bukan kata yang tepat ‘kekerasan kembali terjadi’.Sistem di salah satu pendidikan perguruan tinggi telah di <em>black list </em>oleh masyarakat. Hal tersebut terjadi setelah merebaknya berita mengenai kematian salah satu siswa STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran).</p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify">Belum pulih ingatan masyarakat mengenai kekerasan yang dilakukan oleh Geng Nero di kota Pati. Kejadian pemukulan senior kepada junior itu pun bersambut alur cerita dengan kasus kekerasan antar Geng di kota yang sama (Pati). Ironisnya, realita tersebut dilakukan oleh kaum hawa yang terkenal dengan paradigma kelembutan.</p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify">Bila menghitung dari bulan Januari hingga Juni, telah banyak kasus kekerasan yang diekspose oleh media. Seperti kekerasan yang dilakukan oleh para mahasiswa UNAS dengan dalih isu kenaikan BBM. Sebagian masyarakat mengatakan hal yang dilakukan oleh mahasiswa UNAS tersebut tidak pantas, melihat mahasiswa merupakan individu yang berpendidikan, namun sebagian lagi berpendapat bahwa tindakan tersebut wajar bahkan terpuji, melihat mahasiswa UNAS melakukannya untuk membela kepentingan masyarakat kecil.</p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify">Kasus kekerasan UNAS berakhir dengan pembebasan mahasiswa-mahasiswa yang ditangkap karena diduga menjadi pemicu kerusuhan. Tetapi tindakan polisi yang <em>over acting</em> menangkap mahasiswa-mahasiswa yang berada di kampus UNAS saat kejadiaan sangat tidak terpuji, melihat secara fungsional polisi merupakan peredam kekerasan.<span id="more-6"></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify">Saat-saat emosional masyarakat masih menggebu-gebu atas kenaikan harga BBM, media mengangkat berita kerusuhan yang dilakukan oleh sekelompok orang berjubah, kejahatan beratasnamakan agama. Pada saat itu, monas yang menjadi ciri khas ibu kota berperan sebagai saksi bisu tindakan kekerasan manusia beragama. Penyelidikan pihak kepolisian menemukan jendral lapangan serang monas tersebut adalah mantan pemimpin salah satu LSM yang intensif bergerak dibidang HAM. Secara ideologi, LSM yang dipimpin orang tersebut dengan basis masa yang dipimpinnya sangat jauh bertentangan. Kembali realitas kekerasan yang sangat disayangkan.</p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify">Pasca tragedi monas, rentetan tindakan kekerasan terus berlanjut, seperti prilaku Geng Nero dan Geng di kota yang sama dengan Nero. Rentetan tragedi tersebut dapat dikatakan telah menjadi budaya masyarakat Indonesia. Kontruksi-kontruksi media sangat berperan dalam membentuk pola pikir anak muda maupun anak kecil dibawah umur.</p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify">Tragedi-tragedi kekerasan tersebut mencerminkan negara ini merupakan negara non-hukum. Banyaknya kasus-kasus kekerasan yang terjadi sampai saat ini belum menemukan klimaks yang memuaskan bagi penderita. Seperti kasus pembunuhan aktivis Munir, kasus Trisaksi dan Semanggi ’98, dan masih banyak lagi kasus-kasus pembiaran oleh pemerintah. Menurut J. Galtung, pembiaran merupakan kekerasan secara structural yang dilakukan oleh pemerintah terhadap rakyat. Masalah ini diatur dalam kovenan Hak Azasi Manusia.</p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify">Ironisnya, pemerintah bermain dalam peng-eksplor-an isu dari suatu tragedi. Misalnya atas kematian mahasiswa Unas dalam beberapa waktu terakhir. Beberapa stasiun televisi swasta telah dikuasai oleh pemerintahan, yakni Metro TV dan TVOne (Saham Aburizal Bakrie) sehingga jelaslah bahwa isu-isu kematian mahasiswa Unas tersebut atas dasar campur tangan pemerintah, meski mereka tidak terjun langsung.</p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify">Rentetaan tindakan kekerasan yang terus menerus terjadi tidak dapat dilepaskan dari tangan pemerintah, meski bukan pelaku atau pun otak pelaku seharusnya menjadi penempatan peradilan yang pantas. Jika pemerintah tidak mampu menempatkan peradilan dari kasus-kasus tersebut, layakkah mereka berada dalam pemerintahan selanjutnya?</p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify">Tragedi-tragedi kekerasan memiliki dasar masalah sosial berupa ekonomi. Kemiskinan, pembodohan, penaikan harga-harga bahan pokok bahkan terakhir penaikan harga bahan bakar minyak memberikan tingkat laju stress semakin meningkat. Belum selesai memikirkan hal-hal pokok pekerjaan yang sangat sulit akibat sedikitnya lapangan pekerjaan, masyarakat kembali dihimpit masalah kenaikan harga BBM. Tingkat stress masyarakat yang semakin meningkat tersebut diaplikasikan melalui tindakan-tindakan anarkis maupun perilaku-perilaku yang abnormal (kerasukan roh) seperti yang telah dilakukan oleh Geng Nero, secara sosiologis tindakan pemudi tersebut merupakan implementasi dari diskontrol dari orang tua atau bahkan karena minat-minat mereka yang tidak tersalurkan. Kedua kausal tersebut juga terkait dengan masalah ekonomi saat ini.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/desahan.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/desahan.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/desahan.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/desahan.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/desahan.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/desahan.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/desahan.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/desahan.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/desahan.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/desahan.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/desahan.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/desahan.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/desahan.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/desahan.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/desahan.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/desahan.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desahan.wordpress.com&amp;blog=4092156&amp;post=6&amp;subd=desahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://desahan.wordpress.com/2008/06/29/peran-media-dan-pemerintah-atas-rentetan-kekerasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/144885257042ca3addf1cb87d9d99561?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Ucok</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
