sajak-sajak
Perbujangan
Bujang!
Bujangan
Para bujangan
Jadi pemimpin jangan
Bujangan
Tak kenal bujang
Para bujang
Hidup sendiri jangan
Bujangan bujang
Pemimpin bujangan
Pemimpin bujang
Bujang bujangan
Hidup bujangan
Hidup bujang
free_die
Maju Langkah
Prajurit siap bertempur
Serang…
Langkah awal adalah buka baju
Maju…
Langkah selanjutnya adalah pegang senjata
Maju…
Langkah selanjutnya adalah kokang senjata
Maju…
Langkah selanjutnya adalah tembak
Diam di tempat
Langkah selanjutnya adalah berkata ‘Ah’
Mundur…
Senjata telah habis peluru
Karena musuh adalah wanita
(Dimuat di buletin Alis)
Ucapku bulan satu
Bulan satu kemarin masih belum lari dari ingatan
Bulan satu kemarin bukan hasil pembagian
Kata-kata keluar dari madu
Siapa yang tak tahu nusantara tak beribu
Semut juga tahu kalau sajakku tak laku
Karena sajakku berprilaku
Bulan di angka satu meski tak laku
Semut-semut berprilaku tak tahu malu
Bahwa penjara telah rapuh
Pengemis pun mati seperti berudu
Semut-semut beriringan ringan ingin tahu
Ucapku
ALHAMDULILAH WA SUKURILAH
Tanamlah daun tua itu
Karena membuat semak tahu
Tak hijau lagi entah suruh siapa dulu
Dia bukan bapakku
Tak pantas hujan disaat kemarau
Dia dan tangannya nakal
Tak pantas untuk dikenal
Meski dia orang nomor satu
Untuk kisah di Indonesia pada bulan satu 2008
Raja tolol
Semut-semut hijau kapan tewas
Santun memantun mereka berleret
Sesemut saja mencari jalan terdepan
Opak-apik jika unggas tegas
Eviden hidup semut-semut
Harus berjalan untuk tuan
Harus makan berikan tuan
Aturan sebagai cermin perjalanan
Raja semut memantau semut-semut hijau
“To !”
“Tolol kalian semut-semut, mengapa unggas tahu jalan kalian?!”
Onar sudah terjadi dan raja harus mati
Operasi gagal lagi, unggas pun reformasi
Lingu
Hidup bukan, bohong lontar nenekku
Menawa bila tawa
Menangis bila tangis
Menderita bila derita
Mencaci bila caci
Histeris
Uang !
Uang !
Uang !
Uang !
Uang !
Bersatu bertembak
Satu kaliber
Tembak-tembak
Satu !
Kaliber
Kaliberka
Kaliberkali
Kaliberkaliber
Kaliberkaliberka
Kaliberkaliberkali
Kaliberkaliberkaliber
Tembak !
Berkali
Berkaliber
Berkaliberka
Berkaliberkali
Berkaliberkaliber
Berkaliberkaliberka
Berkaliberkaliberkali
Satu kali Ber
Tembak !
(Dimuat di buletin Alis)
Arti?
Belum ada kata damai sayang
Bila cinta masih remang katanya
Nafasku masih seperti nafas hewan
Di malam hari aku buas
Mencuri buah karena aku lapar
Mereka memiliki semuanya
Sementara satu tetes darah saja pun aku mengemis
Dan kau belum memberiku suatu arti
Aku buas
Bajuku kertas
Rambutku kapas
Hidupku adalah napas
Hingga malam aku tak makan
Sedetik waktu aku terbang
Perdetik aku tergilas
Besar kapalku
Kekar bualku
Daun teduhku
Untuk pedih aku bekerja
Untuk siang aku berpuasa
Untuk binatang aku buas
Awas !
23 March 2008, Pondok Anugrah
Kemuning kering king
Sayat-sayatan di jalan tubrukan empat simpangan, hati-hati !
Semua semut, semua tak takut, semua kentut.
Di salah satu wadah, tanah rata dan simsalabim, kuning kering !
Suruh siapa, untuk siapa, dari siapa ?
Dan kemuning datang dari bis
Wajahnya wajah ia, tubuhnya tubuh kemuning di pulau seberang
Kemuning ratu karena yang lainnya ikut turun,
Dan raden-raden motoria berebut.
Tanah ini kering kemuning.
Tanah ini kemuning kering king !
Membiarkan kemuning ditiduri sang kuning
Bulat-bulat hati sang kuning meniduri dan mengulum seperti anjing kapital.
Siapa yang mampu meraih hati kemuning?
Siapa yang lihai merangkak di mata kemuning?
Bila tanah ini terus aluri kemuning, kering king.
Katanya aku jauh dari kemuning,
tapi ini bukan realita yang hanya sebuah perintah.
Dimana kuping Damri?
Cepat lawan sang kuning!
Sajak reformasi
Baru saja aku berak di depan televisi yang berkata-kata tanpa realita
Segenap bangsaku histeris hingga pula menangis karena mengais.
Taik ku keluar satu, seiring gonggongan televisi menjual reformasi,
“Sepuluh tahun reformasi”.
Aku benahi celanaku untuk menutup kemaluanku, karena tak usah kalian tahu.
Sempitnya celanaku, sementara saja aku berak rasanya menyudahi waktu sejuta bulan.
Belum sudah lika-liku pengancingan celana, televisi berorasi
“BBM naik lagi!”
Bau taikku masih ada, tapi si bemo mogok karena BBM akan mahal.
Ibu-ibu di desaku mendesah layaknya desahan bersama suami simpanannya.
Anak-anak jalanan tak kusebut lagi anak jalanan, karena jalan pun susah.
Buruh-buruh bukan lagi memburuh, tapi menunggu.
Mahasiswa-mahasiswa jangan sebut mereka siswa kalau takut pemerintah.
Rasanya ingin kencing untuk ketiga kalinya setelah presiden berpidato di dalam televisi.
Taikku saja masih tercecer, kencing ingin lagi berproses.
Aku keluarkan kemaluanku di depan bapak presiden tersayang yang menjadi pecundang
Dialah pecundang, karena berpidato hanya di dalam televisi. Aku tantang !.
Secuil keluar dan serr…
Presiden pun berkata, “BBM naik karena karena kita mengalami devisit”
Aku tertawa, burungku tertawa, dan si embok tertawa.
Aku tertawa untuk presiden yang tak punya malu, mana kemaluan presiden?
Burungku tertawa karena si embok ada.
Si embok tertawa karena aku tak salah.
Air kencing yang masih hangat ku angkut ke dalam gelas untuk ku aduk
dengan secuil taik hangat, ku aduk dan ku aduk seperti orba menutup sejarah.
Ku hidangkan di depan televisi tepatnya untuk 10 tahun reformasi.
Kalau tak ada yang mencicipi hidangan ku, jelaslah reformasi melebih jijiknya hidanganku.
Fredy. Menjelang seabad harkitnas.
Inilah mau geranganku
ketenangan diatas laut
bersambut anak burung
sang pengembara lari
tak ada kusut
tak ada murung
tak ada sedu
berapa cinta?
kalis…
meneguk hasil
rasa yang tak terteguk
sorak sorai padi-padi
aku di mauku
aku di surau
bukan semut dengan bawaannya
jalur baru akan dilalui
tanpa ragu dan malu
ombak bertanya “ada apa gerangan?”
ikan-ikan berenang tak henti
dan jawabku “inilah cinta!”
(dimuat di Puitika.net)